
Matahari telah menampakkan diri dibalik belahan bukit, kicauan burung bernyanyi merdu di pelosok kota. Awan putih berbentuk gumpalan kapas terlihat bahagia diatas sana.
Pasangan itu sedang berdiri didepan pintu bandara yang dipenuhi kepadatan, berpamitan dengan Appa dan Amma sebelum melakukan keberangkatan.
"Terima kasih sudah mengantar" ucap Alon lalu memeluk keduanya, Syha juga ikut memeluk dan menciumi kedua pipi Amma.
"Sama-sama", balas Amma mengusap bahu menantunya dengan lembut
"Jaga menantuku dengan baik, awas saja kau membuat nya menangis disana"
"Haha iya Amma", Alon mencubit pipi ibunya dengan gemas.
Appa menyahut "jaga diri kalian disana ya".
Appa berjabatan tangan dengan Alon, menempuk punggung putra bungsu nya itu sebelum melepas pelukan.
Pasangan itu melambaikan tangan, lalu memasuki pesawat dan take off ke kota Taipei, Taiwan.
Saat pesawat lepas landas, Syha mengenggam erat peyangga kursi, tubuhnya bergetar hebat, keringat dingin bercucuran dari dahi. Wajahnya pucat pasi, bibir memutih. Ia sangat takut ketinggian mengingatkan nya pada kematian orang tua kandungnya.
Alon melepas earphone yang ia sumbatkan ke dalam lubang telinga "Apa kau merasa mual".
"Tidak", jawab Syha menyembunyikan keresahan.
"Kau takut?", wanita itu membalas dengan menggelengkan kepala.
Alon menyodorkan telapak tangannya "genggam saja ini untuk menghilangkan rasa takutmu"
"Tidak aku baik-baik saja", kekeh Syha menolak, sesaat pesawat mulai sedikit berguncang Syha berteriak ketakutan, ia memeluk lengan Alon dengan erat. Kedua matanya ia paksa terpejam, mulutnya terus meracau meminta pertolongan kepada Tuhan.
Alon mengangkat penyangga tangan yang memisahkan mereka, membiarkan wanita cantik ini memeluk nya dengan leluasa. Syha tidak lagi memikirkan ketidaksukaannya bersentuhan dengan Alon, ia hanya ingin goncangan ini cepat mereda.
Alon mengusap punggung dan membelai helaian rambutnya dengan lembut. Syha Menengadah, netranya mengamati wajah suaminya dengan teliti. Rahang yang terlihat tegas, rambut disebak ke atas, bentuk mata bak elang, membuat pria ini begitu menawan.
"Iya, aku tau aku ganteng. Tidak perlu natapin kek gitu juga kali, entar jatuh cinta gmana?"
Syha mengulum bibir "kepedean sekali kau ya", spontan ia langsung mendorong tubuh Alon untuk menjauh.
"Aish padahal dia duluan yang mendekat, tapi malah aku yang didorong"
Syha mengacuhkan perkataan Alon dengan berbaring, sekali lagi pesawat mengalami turbulensi. Syha reflek memeluk Alon kembali
Pria itu tertawa kecil "lepasin dong, kan tadi kamu menolak"
Syha menggeleng kuat "tidak! tidak kumohon jangan" racau wanita itu
"Karena aku sudah berbaik hati memberikan tubuhku untuk kau peluk", Alon berhenti sejenak "bersandiwara lah didepan Ayi, kita harus bertingkah seperti suami istri yang saling mencintai"
Syha mengiyakan tanpa berpikir panjang, rasa takut nya terlalu besar dari pada melayani ucapan Alon.
°•°
__ADS_1
Mereka telah sampai dirumah Ayi, adik dari Ammanya. Ayi menyambut dengan hangat, melepas rindu dengan memeluk keponakannya yang telah lama tidak lagi bertemu.
Ayi mengarahkan pupil matanya "oh ini..". Wanita paruh baya itu tampak berpikir sejenak memandang Syha.
Alon mengenggam tangan Syha untuk mendekat "ini istriku Ayi, sapa Ayi ku sayang"
Sayang? Syha membelalakkan mata, sandiwara yang terlalu lebay. Kenapa juga Alon harus memanggilnya seperti itu.
Syha memberikan senyuman manisnya "salam kenal Ayi"
Ayi terkejut dengan kefasihan Syha berbahasa Mandarin "Wah kamu bisa berbahasa Mandarin?"
"Aku bisa sedikit saja Ayi"
Ayi mengangguk tersenyum "Ayo masuk", mempersilakan mereka untuk masuk kedalam rumah.
"Alon antar istrimu keatas ya, Ayi akan memasak makan malam kalian"
Alon mengangguk patuh, membawa istrinya menuju lantai 2 "Beristirahatlah", ujar Alon "kau mau bubur nasi?"
"Tidak"
"Kau itu sedang hamil, pikirkan juga janinmu", Alon berdiri di depan muka pintu "Aku akan turun, meminta Ayi memasakkan nya untukmu"
Syha hanya terdiam, setelah 20 menit lebih berlalu. Alon membawa nampan berisi semangkuk bubur dan buah-buah an.
Pria itu meletakkan nya di atas nakas "Ini bubur, makanlah"
Syha menggeleng menolak, tiada hari bagi Alon tanpa penolakan dari istrinya. Entah kapan Syha sekali saja ikhlas menerima segala bentuk pemberiannya.
"Tidak us-"
Alon terduduk, mengambil mangkuk, mencedok bubur dan meniupinya "Buka mulutmu"
Syha langsung merampas mangkuk dan sendok itu dari Alon "Aku bisa sendiri"
Alon manggut-manggut, membiarkan istrinya untuk makan dengan mandiri, ia memilih untuk mengupas apel. Saat hendak memotong, Syha masih saja sibuk memainkan buburnya, tidak ada satu suapan pun lolos ke mulut wanita itu.
Alon meletakkan buah dan menyambar mangkuk begitu saja "Sudahlah sekarang buka saja mulutmu"
Syha menuruti dengan membuka mulutnya, tidak ada lagi alasan untuk menolak.
"Ayi sangat pandai memasak, bahkan tidak ada yang bisa mengalahkan bubur buatannya", Cetus Alon, ia memberikan segelas air putih untuk diminum. Syha menerima pemberian itu.
"Aku ingin membantu Ayi di bawah", kata Syha setelah meneguk air putih nya hingga tandas, meninggal sisanya separuh.
Alon tidak mengizinkan "Tidak usah, istirahat saja"
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Alon menghampiri pintu dan membukanya.
"Ah Alon, apa istrimu tidak sibuk. Aku ingin meminta bantuannya untuk memasak"
__ADS_1
"Ayi istriku-",
Syha menyela ucapan Alon "aku tidak sibuk Ayi."
Alon menyalak tajam ia mengisyaratkan Syha untuk tetap dikamar. Tapi, wanita itu tetap melangkahi tubuhnya begitu saja untuk keluar dari kamar.
Sesaat ingin mengikuti istrinya turun, terdapat sebuah kontak tidak dikenal melakukan panggilan di ponselnya, Alon mengangkat panggilan itu dan terdengar suara pria dari ujung sana
"Dimana kau bawa kekasihku hah?", Cerca Zein dengan nada membentak.
"Apa kau tidak tahu malu mencari istri orang lain?", ucapan Alon membuat Zein naik pitam.
"Jangan pernah berani kau sentuh dia", ancam pria itu, tapi Alon tetap bersikap santai dengan wajah datarnya.
"Kami ini suami istri, tentu saja aku bebas menyentuhnya sesuka hatiku"
Zein mengacang sumpah serapahnya "Bajingan-",
Alon sudah lebih dulu memotong, "Lebih bajingan mana dengan kau yang bermain kotor dengan mantan tunangan ku?"
Zein berdecak sinis "cih, kalau tidak ku setubuhi pun, memangnya kau bakalan tetap ingin menikahi Hannah?"
"Tidak, sejak awal wanitamu sudah sampah"
Zein menggertak kasar "Jaga mulutmu, Alon!"
"Kau tamak sekali ya, menginginkan tubuh dari Hannah dan cinta dari Syha. Seolah kau memanfaatkan mereka untuk memenuhi kemauan hasratmu"
Zein tercekat dengan ucapan Alon, nekat sekali pria itu menghardiknya.
Ekspresi Zein seketika berubah menyeringai "kau tidak akan pernah mendapatkan hati istrimu itu, karena akulah yang dia cintai selama ini".
Alon menahan gejolak panas dari dalam tubuhnya ia mengepal kuat, kukunya berubah memutih "Sudah kubilang kan, kalau kau masih ingin hidup di dunia ini jangan pernah lagi kau muncul dihadapan istri ku. Apa tidak cukup aku menghajarmu malam itu?", begitu selesai mengatakan hal demikian, Alon mematikan panggilan.
Zein melempar ponsel itu ke atas kasur. Ia akan terus mencari cara lain untuk menghancurkan pernikahan mereka.
Hannah yang sedang terbaring tanpa balutan, segera berdiri dan memeluk punggung Zein yang sedang berkalut kecemasan "sayang, bagaimana ini?"
Zein berbalik memeluk wanita itu "kita harus bermain dengan cara yang lain"
Hannah langsung saja menciumi bibir pria itu dengan penuh gairah, Zein mengangkat Hannah untuk berbaring kembali diatas kasur, melanjutkan aktivitas mereka yang sempat tertunda.
"Kamu tetap akan membantu gelar Doktor ku kan?"
Zein terikat kesepakatan karena Hannah menawarkan studi S3 dengan biaya yang sepenuhnya ditanggung oleh wanita itu, Hannah juga akan menyelesaikan skripsinya hingga akhir.
Asalkan ia mau menjalin kerja sama, Hannah akan menambah 20% saham dari perusahaan Heera setelah Eden resmi mengeluarkan surat pewaris kepada Hannah. Tentu saja Zein tidak akan melewatkan kesempatan menggiurkan ini.
"Iya sayang, uangnya sudah kukirimkan ke rekening"
Zein tersenyum bahagia, pria itu kembali mencumbui Hannah dengan penuh nafsu.
__ADS_1
Zein membisikkan suatu rencana ke telinga Hannah, wanita itu membalas menyeringai
"Lihat saja, Syha tidak akan mampu tersenyum bahagia sepanjang hidupnya."