Dosa Pernikahan Di London

Dosa Pernikahan Di London
MOZAIK 16 RAHASIA HANNAH


__ADS_3

Wanita itu terkalut resah dengan berjalan mondar-mandir kesana kemari, Syha terus mengigit jarinya dengan kecemasan yang tidak terbendung.


Adam berlari mencari keberadaan Syha "Nona anda tidak apa-apa kan," Adam mengusap bahu wanita itu, mencoba memberikan ketenangan disana.


"Bagaimana ini Adam, aku sangat merasa bersalah. Karena menyelematkan ku, Alon harus terkena siraman itu" pungkas wanita itu diselingi tangisan, bahunya terlihat naik turun karena terisak.


Adam mendengkapnya dalam pelukan, menepuk punggung wanita itu dengan pelan "Jangan khawatir nona, pak Alon akan baik-baik saja."


Syha tidak merespon apapun, ia terdiam dan langkahnya teralihkan pada Alon yang masih terbaring disana. Syha tidak bisa melepaskan tatapannya dari Alon, selang oksigen dan ventilator masih terpasang di wajah pria itu.


Seorang dokter keluar dari ruangan UGD dengan beberapa lembar laporan "apa anda keluarganya nona?"


Syha mengangguk, melepas pelukannya dari Adam "ya dok saya istrinya." mengakui statusnya semata-mata untuk mengetahui keadaan Alon lebih jauh.


"Untung saja suami anda menahan siraman dengan tangannya, pelepuhan pada kulit tidak menyebar di area wajah serta tidak ada kebutaan. Beliau mengalami syok berat, sehingga jatuh pingsan. Kemungkinan beberapa luka bakar pada wajah masih terbekas, dan lengan kiri nya mengalami kerusakan yang cukup parah. Kami akan menangani kerusakan itu sebisa mungkin, hanya saja beberapa jaringan kulit yang sudah meleleh tidak bisa ditangani lebih lanjut, semoga nona bisa memahaminya," jelas dokter secara rinci.


Syha menahan deru sesak mendengar pernyataan itu, kakinya seperti tidak berdaya untuk berdiri tangguh "dok apa saya boleh mas-"


Seorang wanita tiba meenyerobot ditengah mereka, Syha memandang dengan terkejut.


"Apa saya boleh masuk?" Hannah tampil dengan wajah kabusnya, ia baru saja mendengar penjelasan dokter secara keseluruhan.


Dokter mengangguk, "silahkan"


Hannah menghamburkan diri untuk masuk kedalam, memeriksa keadaan mantan tunangannya yang masih terbaring.


Syha ikut melangkah perlahan, beriringan dengan Adam yang mengikuti nya dibelakang, tampak wanita itu memeluk Alon dengan kesedihannya.


Hannah menarik nafas mengacang untuk membentak "ini semua karenamu!" Sembur Hannah, lalu ia mendekati Syha dan menjambak rambut wanita itu dengan keras.


Syha menjerit kesakitan, memohon untuk dilepaskan. Adam mencoba melerai pertikaian mereka, percuma saja jika kedua wanita bergaduh dengan hingar bingar nya siapapun tidak akan dapat mencegah nya.


Hannah menarik rambut itu sehingga Syha bisa menengadah menatap wajahnya "Sudahlah murahan! Perebut! Kau kira dengan menikahi mantan tunangan ku kau berhak hidup bahagia?"


Syha dengan sekuat tenaga mendorong Hannah untuk memperjarak diantara mereka "sudahlah, aku tidak ingin berdebat denganmu."


Hannah melotot, seakan adik angkatnya ini mencoba menantangnya dengan berkata sok mengalah seperti itu. Ia menyiapkan diri dengan melayangkan tamparan diudara.


Adam menahan ayunan tangan itu, mentolaknya untuk menjauh.


Seorang perawat membawa keamanan untuk masuk, menarik Hannah untuk keluar dari ruangan.


"Maaf nona kami akan mengeluarkan anda dari sini karena telah mengganggu kenyamanan pasien."


Hannah menepis genggaman petugas, dengan dengusan kesal ia menatap Syha dengan tajam "awas saja kau!" Pergi berlalu keluar tanpa diminta.


Syha menghela nafas dengan berat, berjalan pelan dan terduduk di kursi yang jaraknya tidak jauh dari ranjang. Memandang Alon dengan tatapan sayup.


Adam menarik kursi lain dan duduk berdampingan "nona sangat khawatir dengan nya ya?"

__ADS_1


Air mata Syha menetes, membasahi punggung tangan Adam. Mengatup wajah dengan kedua telapak tangan nya, wanita itu menangis tersedu disana.


"Aku hanya ingin dia kembali sadar," ucap Syha disela isak tangisnya, Adam memeluk wanita itu membiarkan kemejanya basah karena air mata.


Syha merasa iba karena Alon telah menyelamatkan nya dari tragedi mengerikan itu, merasa bersalah karena Alon harus melalui rasa sakit ini.


Suara pintu terbuka, terdengar langkah memasuki ruangan mendapati adik iparnya berpelukan bersama seorang pria. Castiel menukik alis nya "sedang apa kalian?" Tanyanya.


Syha reflek melepaskan pelukan lalu beranjak berdiri, Adam tersenyum lebar ke arah Castiel.


"Aku hanya mencoba menenangkan nona Syha," ujar Adam.


Castiel menatap tajam ke arah Syha "jangan sampai ku lihat lagi kalian berdua seperti ini" tekan Castiel penuh peringatan, ia lalu berjalan mendekati Alon yang terbaring.


'Apasih sok asik banget, aku kan ga ngapa-ngapain padahal,' gerutu Adam senyap.


Castiel kembali melirik Adam "pulang lah Adam aku bisa mengurus adikku," titah pria itu.


Adam menolak "Aku harus berada disini menemani pak Alon."


Castiel memindahkan lirikannya ke Syha "menemani Alon atau kau ingin menggoda istri orang lain?"


Adam mengeraskan rahang, mencoba menenangkan tudingan itu "ah maaf saya tidak bermaksud demikian, permisi saya akan keluar dulu." Pria itu berlalu keluar ruangan.


Castiel melipat tangannya didada, "kau pulanglah saja. Aku akan menemani suamimu."


"Kau sedang hamil dan butuh banyak istirahat, aku bisa merawat suamimu," pungkas Castiel kemudian melanjutkan "supir sudah menunggu di depan, kembali lah ke mansion."


Sebelum berpamitan Syha mendekati Alon, membisikkan sesuatu ditelinga nya "terima kasih sudah berkorban untukku dan anak kita, semoga lekas sembuh."


wanita itu berbalik badan, ia tahu Alon melakukan ini karena anak di dalam kandungannya. Tapi Syha akan tetap berterima kasih karena telah menyelamatkan dirinya.


Setelah kepergian Syha, Castiel menatap kosong memandang Alon yang terbaring.


"Memang nya kau setega ini membuat cinta lamamu khawatir?" Tanya Castiel, terlihat bodoh berbicara dengan adiknya yang tidak mungkin mendengar ucapannya.


2 jam berlalu


Castiel menahan kantuk dimatanya, malam dengan terpaan angin menemani keduanya dalam kesunyian malam. Bulan tidak terlihat malam ini, karena tertutupi balutan awan gelap.


Alon terbangun, manik matanya mencari keberadaan istrinya. Tapi ia hanya melihat abangnya yang sedang terlelap di kursi.


"Castiel"


panggilan lirih itu membangunkan Castiel dari kantuknya.


"Alon, kau sudah sadar?"


Pertanyaan Castiel tidak dibalas oleh Alon, pria itu berusaha menegakkan tubuhnya untuk terduduk.

__ADS_1


"Ah lemah, aku tidak butuh ini," Alon melepas ventilator yang terpasang diwajahnya.


"Dimana Syha? Apa dia baik-baik saja?" Pertanyaan nya setelah tersadar dari pingsan adalah keberadaan wanita itu.


"Kau bukannya mengkhawatirkan dirimu malah istrimu terlebih dahulu," celetuk Castiel menggeleng berkali-kali, merasa heran "Syha sudah ku suruh pulang untuk beristirahat dia baik-baik saja tanpa luka."


Sebuah lekukan senyum terukir diwajah Alon.


Castiel bergidik geli memandang Alon yang telah lama sirna dengan senyuman nya, kini kembali menyunggingkan lekukan di bibir itu


"Kau habis kena siram jadi gila ya?"


Alon mendelik ketus "apasih sotoy banget," sembari memperbaiki tatanan rambut Alon melanjutkan ucapannya "mereka sangat bersenang-senang sekali."


"bersenang-senang bagaimana?"


Alon menghembuskan nafasnya "Aku tahu ini bagian dari rencana Hannah untuk menghancurkan Syha."


Castiel tersenyum menyeringai "Seberapa berani mereka akan menyentuh wanita mu?"


Alon berpikir dengan mengusap pundaknya "tidak ada wanita yang lebih gila dari Hannah yang berani bertindak sampai sejauh ini, aku menghargai keputusan Syha untuk tidak menyentuh wanita ****** itu."


"Ya syukur lah kau bisa mengelak siramannya," ucap Castiel.


Alon tersenyum simpul "aku harus mengumpulkan bukti yang banyak kalau Hannah sedang melakukan pembunuhan berencana."


"Kau sebaiknya berhati-hati dengan Hannah, ingatlah sebentar lagi kau akan mengambil alih perusahaan sepenuhnya" Castiel tampak berhenti sejenak "Aku ingin memberitahu mu sesuatu yang penting."


Alon melirik Castiel, abangnya itu bereskspresi penuh keseriusan.


"Aku tahu ini akan mengecewakan usaha mu selama ini, tapi ada baiknya kau harus fokus menggali siasat Hannah."


Alon memandang serius "apa maksud mu?"


"Apa kau tau alasan Adle dengan mudah nya menyetujui keputusan mu untuk mengganti mempelai."


Alon membalas dengan menggeleng kan kepalanya, Castiel kembali melanjutkan "Kau tau kan, Adle itu sangat lah licik haha." Terdengar kekehan tawa disana.


Pria itu membisu, membiarkan abangnya untuk terus melanjutkan.


"Setelah pewaris dilahirkan. Kau harus bercerai dengan Syha dan melakukan pernikahan kedua dengan Hannah. Reid dan Heera akan tetap menjalin kerja sama."


Alon melotot "APA?! Kenapa bisa-"


"Kenapa? Apa kau berharap dengan memiliki anak dari wanita lain kau bisa kabur dari pernikahan mu dengan Hannah?" Castiel mendesis "Kakekmu tetaplah penggila uang Alon, ia tidak mungkin melepaskan Hannah."


Alon mengalihkan tatapan "Apa Hannah tau?"


"Mungkin tidak, yang pasti Adle tetap akan memberitahunya untuk tidak menikah dengan pria manapun," jelas Castiel ia menarik nafas "Apa kau tau kalau Hannah itu.."

__ADS_1


__ADS_2