
Setelah berdiri cukup lama didepan cermin, Syha berhasil menyanggul rambutnya, memasukkan tusukan sanggul dengan corak bunga tradisional Taiwan kedalam celah surai.
Visual tenue Rasyhanda Moon
Seharian Alon menyekapnya didalam kamar, bahkan untuk makan dan minum saja hanya pria itu yang boleh keluar, curang seperti tahanan saja.
"Katanya cuman sekali, tapi malah di sosor sampai 3 kali". gerutu batinnya
Pria itu seperti sudah lama sekali tidak menyalurkan hasratnya, apa Alon benar-benar tidak berhubungan dengan wanita lain selama pernikahan mereka? Syha lekas menggeleng dan melupakan masalah itu.
Ia mengenakan lace dress, sangat sepadan dengan tone kulitnya. Anggun dan terlihat feminim, menenteng Kelly bag dan menuruni tangga.
Alon tampak sibuk berbincang dengan Ayi "Lusa kami akan pulang Ayi, jadi besok kami akan menginap di hotel yang dekat dengan bandara".
Setiap langkah anak tangga yang ia turuni, Alon memandang ke arahnya dengan takjub. Tatapan mata itu tidak teralihkan sedikitpun darinya.
Alon menelan salivanya, kalau begini ia lanjut saja tadi sampai 4 ronde.
"Kalau begitu kami pergi dulu", pamit Alon sembari memeluk Ayi, paman Ang? Ah mungkin karena tidak berani berpapasan dengan Alon, pamannya itu sudah berangkat kerja lebih pagi hari ini.
Ayi tersenyum "Kalian akan jalan kemana?"
"Kami mau ke kuil hari ini", jawab Alon
Ayi mengangguk mengerti "Hati-hati dijalan".
Sesaat keluar Syha meminta Alon untuk mampir ke pasar ikan, Alon menuruti dan meminta supir taksi mengantarkan mereka kesana.
Sesampainya disana, Syha menghamburkan diri berpelukan dengan sepasang anak kecil yang tampak gembira menyambut nya.
"Cici kami merindukan mu", ucap Bao.
Syha memandang mereka dengan perasaan berbeda "wah kalian jadi cantik dan ganteng begini ya"
Chen melirik ke arah seorang pria disamping Syha "AKH!!!", Chen mengancungkan jari ke arah Alon "koko itu yang membuat kami jadi begini"
Syha melirik ke arah Alon, pria itu hanya tersenyum tipis.
"Oh jadi dia ya", ucap Syha singkat, ternyata Alon benar-benar merawat anak-anak terlantar ini dengan sangat baik sekali diluar ekspetasi nya.
"Iya ci, koko bahkan memberi kami makanan yang baaanyaakk sekalii", ucap Bao memperagakan sebuah lingkaran besar.
Syha tertawa kecil "Apa kalian sudah makan?" tanya Syha, "Aku membawakan beberapa makanan untuk kalian lho"
Bao menyambut nya dengan gembira "Xie Xie cici"
Chen membantu membuka isinya, selain beberapa nasi dan lauk cepat saji, terdapat kue kering dengan hiasan karakter yang lucu. Tampak menggugah selera.
Chen tersenyum semringah "xie xie cici" lalu sebuah kecupan manis melayang di pipi wanita itu.
Alon melotot "hei BOCAH! Jangan sembarangan cium istri orang dong!", ketus pria itu.
"Dia siapa sih ci?", tanya Chen Heran
Syha menatap bingung, bagaimana ia harus menjelaskan pada anak sekecil ini
"Kami ini pasangan yang saling mencintai, makanya aku ini cinta nya si cici tersayang", Alon memperagakan bentuk cinta di atas kepalanya.
Syha mengulum bibir rasanya ingin sekali ia menghantukkan kepalan ini ke atas kepala pria itu.
Chen mengangguk paham "kenapa cici cantik sekali"
Alon kembali menyahut "tentu saja istriku memang cantik, tidak akan ada yang mengalahkan kecantikannya luar dan DALAM" tekan Alon di akhir.
Syha menepuk pundak pria itu dengan kasar, terdengar dengusan kesal disana
Bao dan Chen melemparkan tatapan bingung terhadap kedua pasangan dihadapan mereka
❁
Pasutri itu sudah sampai di kuil Longshan, hiasan ornamen dengan banyak sekali ukiran kayu yang bertuliskan kata-kata puitis mencuri perhatiannya, penduduk lokal dan turis memadati aula utama.
__ADS_1
Syha berdiri tepat dihadapan kuil, sedikit berjarak dari Alon yang sedang berdoa. Pria itu tampak khusyuk sekali memanjatkan sebuah kata-kata, entah apa yang Alon sampaikan kepada dewa disana.
Alon selesai berdoa dan menghampiri nya
Sembari mengiringi langkah Alon, Syha bertanya "Kau berdoa apa?"
Alon melirik wanita itu sekilas "Mau tau aja, apa mau tau banget" ia mengangkat kedua alis ingin menjahili istrinya.
Syha mendengus "Yasudahlah"
Alon tertawa kecil "Kamu ga bisa diajak bercanda ya"
"Ya", jawab Syha singkat, lalu ia berlalu meninggalkan Alon yang masih berjalan pelan.
Alon menghela nafas "Huh namanya juga hidup, Alon. Ada saja cobaannya"
Syha terhenti sejenak
"Ya kalau banyak cucian itu laundry", timpal wanita itu
Alon menatap kesal "Kau bisa berhenti menyahuti ku?"
"Ya" jawab Syha singkat
Alon mengejar Syha, menyamai langkahnya dengan wanita itu "Aku berdoa untukmu"
Syha menukik kedua alisnya "Untukku?"
"Ya biar kau tu dapat hidayah jangan taunya nge cuekin suamimu ini melulu!"
Syha mendelik sinis, ia mempercepat langkahnya, Alon menarik lengan wanita itu untuk berhenti
"Ayo foto dulu, buru-buru amat mau pergi" ucap Alon, ia lalu merogoh ponsel dan membuka kamera mengarahkan mereka untuk ber-selfi
"Ga mau", tolak Syha menggeleng
Alon menghela nafas, "aku mau mengirim fotonya ke Amma"
Pada akhirnya wanita itu mengalah, ia berdiri cukup jauh dari Alon
"Ga perlu merangkul Alon", Syha menghempaskan lengan pria itu yang mendengkapnya
"Biar mesra, kau ini tidak bisa diajak kerja sama ya", Syha pasrah, ia mengikuti saja kemauan Alon.
"Senyum lah! Cemberut mulu kek bebek"
Syha menarik nafas panjang, dan menunjukkan senyum terbaiknya ke arah kamera.
"udah?" tanya Syha
"Sekali lagi", pinta Alon
"Ribet banget sih!", rengek Syha ia tampak sangat malas untuk berfoto ria.
"Gini amat punya bini jutek", ledek Alon, Syha mendelik sinis ia kembali berpose sesuai yang pria itu mau.
Sebuah ciuman melayang ke pipinya bersamaan suara jepretan kamera ponsel terdengar
Syha mengusap pipinya "Kenapa kau mencium pipiku hah?", pekik Syha
"Hapus!"
Alon menjulurkan lidah mengejek "Ga mau blek!"
Syha mengerucutkan bibir "Ihh Alon"
"Coba ulang dong ihh nyaa", Alon semakin meledek nya, Syha berusaha keras merampas ponsel milik pria itu. Tetapi Alon terus mempermainkan cekatan nya kesana kemari.
"GA! Hapus cepet!", ia terus berupaya meraih ponsel itu, tapi kecepatan pria itu tidak mampu ia saingi. Ah ya, dia teringat jika Alon dulu adalah atlet tinju semasa bangku sekolah. Pantas saja pria ini jago sekali mengelak!
"Malam ini ada festival lampion di pingxi", Alon berusaha mengalihkan pembicaraan diantara mereka, ia sudah cukup kewalahan untuk bermain-main.
Syha menatap bingung "Jadi?"
__ADS_1
"Ayo kita kesana"
"Ga mau tau foto itu harus dihapus! Awas aja ga kau hapus", ancam Syha ia lalu berlalu pergi.
"Kalau ga kuhapus?", tantang Alon, pria itu tampak tidak gentar untuk terus memancing amarah istrinya.
Syha menyeringai, membentuk lipatan tangan di dadanya "Masa depanmu bakalan suram"
"Maksud nya?", tanya Alon bingung
Syha mengarahkan tatapannya kebawah, berhenti tepat dibawah perut, ia menaikkan satu alisnya mengisyaratkan sesuatu.
Alon yang mengerti arah tatapan itu, sedikit menggetarkan sendi-sendi lututnya. Hidupnya akan benar-benar suram jika kehilangan yang satu ini.
"Kalau ini tidak ada, siapa yang akan memuaskanmu?", Syha hanya melotot mendengar ucapan itu.
"Pegang tanganku", Alon lalu menarik Syha menuju halte bus, tampak sedikit ramai dari biasanya.
"Untuk apa sih, aku bisa sendiri", bantah Syha melepas genggaman itu
"Taipei ini luas, gmana kalau kau tersesat", papar Alon "Siapa coba yang mau mencarimu"
"Polisi lah, yakali kamu" jawab Syha enteng.
"Polisi pun malas kalau mencari mu", jawaban Alon mendapatkan hadiah cubitan mesra dari istrinya.
❁
Kedua pasangan itu tiba di Stasiun utama kereta api di Taipei, setelah menuruni bus yang mereka tumpangi. Alon Memesan tiket, seraya menggandeng istrinya untuk masuk kedalam gerbong-gerbong panjang disana.
"Kita mau kemana sih?", tanya Syha merengek, wanita itu tampak tidak suka jika harus berjalan kesana kemari. sejak awal, Syha adalah introvert yang selalu senang berdiam diri dirumah.
Alon melirik kebelakang dengan sedikit senyuman, padahal wanita itu sangat tahu jika ia adalah presdir dengan perusahaan terbesar di Sankt-Peterburg, tetapi sampai detik ini Syha tidak pernah menyindir keuangan yang ia miliki. Padahal bisa saja ia membawa istrinya dengan kereta api pribadi, tetapi apapun kesederhanaan yang Alon berikan Syha selalu menerimanya.
Tidak seperti Hannah, Alon sangat teringat bagaimana wanita itu terus meracau menaiki pesawat kelas ekonomi bersamanya. Hannah terus menyindir jabatan dan harta yang ia miliki tidak menyesuaikan seorang calon pewaris perusahaan. Muak, gendang telinga nya serasa akan pecah dengan racauan Hannah.
"Kan sudah kubilang kita ke Pingxi"
Syha mendumel seorang diri, mengusap lembut perut yang sudah cukup membesar itu "dengar kan nak, ayahmu ini hanya tau menyiksa ibumu"
Alon bersikap tuli dengan perkataan Syha mencari kesana kemari bangku yang kosong tapi tidak kunjung menemukan, ujung matanya melirik pada salah satu pelajar laki-laki yang tampak asik dengan ponselnya.
"maaf istriku sedang hamil, mungkin kau tidak keberatan untuk-"
Bukannya merespon ucapan Alon, lelaki itu malah menyumpel telinganya dengan headphone.
"Tidak apa aku berdiri saja", pungkas Syha, Alon tidak tega jika harus membiarkan istrinya berdiri dengan keadaan hamil seperti ini.
"Nona duduklah disini", seorang wanita lansia memberikan sebuah bangku kepadanya.
Syha menggeleng menolak "Ah tidak perlu nek, Anda jauh lebih membutuhkan"
"Ah tenang saja, aku ini masih kuat berdiri kamu duduk saja", wanita lansia itu menuntun Syha untuk duduk di bangku nya
"Terima kasih", ucap Alon mewakili Syha yang tampak segan untuk mengucapkan nya.
"Panggil aku Nai saja ya", kerutan di pelupuk matanya tampak terlihat jelas sesaat Nay tersenyum "Sudah berapa bulan?" tanyanya
"4 nai", Jawab Syha
Nai mengangguk "Kamu bukan asli sini ya?" "Dari mana asalmu"
"Rusia", jawab wanita itu
Nai termangu-mangu "Jauh sekali"
"Pasti anakmu ganteng seperti ayahnya dan cantik seperti ibunya"
"Haha terima kasih Nai", Syha berusaha tersenyum senang dengan ucapan itu.
"Kalian mau ke Pingxi ya?"
"Benar", jawab Alon
__ADS_1
"Aku juga mau bertemu cucuku disana, festival lampion malam ini bakalan meriah", ucap Nai menjadi akhir dari percakapan mereka.