
Future
Sankt Peterburg
Musim gugur
"Aku bertemu dengannya saat perusahaan menugaskan ku di London, aku jatuh cinta dengannya," Alon berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Tapi, tidak kusangka aku membuat wanita yang ku cintai mengandung anak dariku."
❁
Seluruh tamu saling berpandang bingung, suara bisikan terus berlanjut tanpa henti. Castiel mengetuk sendok pada gelas wine, menghasilkan suara yang terdengar nyaring.
"Maaf para tamu undangan, kalian bisa pulang. Hari ini ada perbincangan mendesak antar keluarga," Castiel mengarahkan untuk segera meninggalkan kediaman. Dalam sekejap penyebab kericuhan berpamitan untuk pulang.
"Kita bicarakan masalah ini di ruang keluarga," ujar Adle
Alon menggandeng tangan Syha untuk duduk tepat disamping nya. Sekilas Hannah seakan ingin meledak dengan wajahnya yang memerah menyaksikan itu.
Eden memandang Syha dengan tatapan tajam, bagaikan tertusuk beribu belati wanita itu menundukkan pandangan ke bawah. Bagaimana ia bisa tahu jika Alon tunangan dari kakak angkat nya.
Adle yang menyadari tatapan Eden lekas bertanya "Kalian seperti saling kenal?"
"Dia putri angkatku," jawab Eden
Yuna mengangkat kedua alisnya, melirik setiap inci penampilan wanita itu "Dia? aku baru tau jika Eden memiliki putri angkat."
Eden menarik nafas "Dia putri kandung Hendi."
"Hendi dari Perusahaan MJ yang sudah bangkrut itu?," tanya Castiel memastikan.
"Ya, Aku mengadopsinya saat mendiang Hendi meninggal karena kecelakaan kereta gantung."
Hannah yang tidak sanggup lagi menahan amarah, lekas mengajukan pertanyaan yang menghantui benaknya "Apa kau benar-benar hamil?!," cerca wanita itu dengan membentak.
"Tenanglah Hannah," Shu-ibunda Alon mencoba menenangkan keadaan.
"Jawab pertanyaan ku barusan!," desak Hannah yang terus meminta wanita itu untuk menjawab.
Alon angkat suara mewakili "Ya dia hamil jika kau ragu, aku sudah membawakan hasil
USG nya."
__ADS_1
Bagaikan dihantam rasa sakit yang menyayat, Hannah tertegun dengan pernyataan pria itu,
"Alon kenapa kau begini padaku?."
Padahal ia sudah sangat bersabar menanti pernikahan ini, rencananya untuk menaikkan reputasi dihadapan publik kini hanya tinggal angan semata. Alon justru membawa wanita yang masih menjadi bagian dari keluarga nya.
"Apanya yang begini bukankah sudah seharusnya?" Alon mengalihkan pandang ke arah Fred, "Appa pikirkan lah masalah ini."
Hannah menggenggam tangan Eden "Ayah bagaimana ini? Buatlah sesuatu."
Eden dilanda cemas, mencari solusi untuk melakukan aju banding kepada Adle "Tuan presdir jika anda tidak menikahkan cucu anda kepada putri kami, mohon maaf kami akan memutuskan kerja sama bersama perusahaan Reid."
Adle mengusap cambang miliknya, tampak berpikir "Kuserahkan keputusan ini kepada Alon. Karena ia akan segera jadi pewaris perusahaan, bagaimana? Kau akan mengedepankan kemajuan perusahaan kita, atau kembali berdiri secara tunggal."
Alon menyeringai penuh kemenangan "Aku sangat berterima kasih atas kerja sama yang luar biasa bersama Heera, meski kerja sama ini akan hilang, itu tidak akan membuat Reid kehilangan segalanya."
Eden menggertakkan rahang, tatapan ia alihkan pada Syha. Penuh benci dan amarah.
Walau Syha telah lama tidak melihat ayah angkatnya, ia tidak pernah melihat tatapan Eden seperti itu. Tubuhnya sangat bergetar ketakutan.
"Amma setuju jika Alon harus bertanggung jawab dengan apa yang ia perbuat," pembelaan Shu mengukir senyuman diwajah Alon, ibunya itu tidak akan pernah luput mendukung apapun keputusannya.
"A-pa?," pekik Hannah, wanita itu mengacungkan jari menukik dengan kegeraman "kau bisa saja kan berpura-pura memiliki anak? Atau kau mengaku-ngaku anak dalam kandungan itu milik Alon padahal bisa saja milik pria lain!"
Pernyataan Hannah, berhasil membuat jantung Syha sedetik tidak berdetak.
"Jaga mulut mu itu" hardik Alon.
Hannah yang menahan malu berlari keluar dari mansion, begitu juga Eden dan Maya, berpamitan untuk menenangkan putri kandung mereka.
"Oh, jadi kau akan menggantikan Hannah setelah ini ?," Yuna menatap calon iparnya dalam-dalam.
Atmosfer menjadi tegang sesaat Yuna melontarkan pernyataan itu. Syha menundukkan kepala, siap menerima segala bentuk makian yang akan terdengar menusuk telinganya.
Yuna berdecit "Cih, apa kau tidak tahu malu menggoda pria yang akan menikah?"
"Yuna, tidak sebaiknya kau membicarakan hal tidak etis seperti itu lagi disini," Fred menaikkan suaranya "dia akan menjadi keluarga kita, tidak seharusnya kau mengungkit masalah itu."
"Sekarang appa membelanya? Membela seorang wanita murahan seperti ini, Hannah jauh lebih pantas menikah dengan Alon." Serang Yuna bertubi-tubi
"YUNAA!!," bentak Fred menghardik anak tertuanya dengan keras.
__ADS_1
Yuna justru semakin menaikkan oktaf suaranya "Seharusnya kau sadar posisimu itu dimana, jangan pernah kau mengakui dirimu bagian dari keluarga ini," Yuna menghempas kasar sepasang sumpit, Syha melindungi diri dari lemparan itu. Dia lekas pergi dan membanting pintu kamar dengan sangat keras.
Fred memijit pelipis nya pelan, tidak kuasa menahan perlakuan Yuna yang tidak sopan terhadap pendatang yang pertama kali bertamu disini.
"Maafkan Yuna ya, dia mungkin belum bisa membiasakan ini semua," Shu berusaha menghibur perasaannya.
Syha kembali menunduk, Yuna pasti tidak ingin adik kecilnya itu menjalin pernikahan dengan sembarangan wanita, apalagi menurutnya Hannah adalah pasangan yang tepat bagi Alon.
"Apa kau terluka?," Alon menggenggam tangannya, raut wajah itu penuh kekhawatiran. Syha yang tidak ingin terbuai dengan perlakuan Alon, menarik cepat tangannya.
"Aku baik-baik saja," imbuh Syha menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinga.
"Bisakah kamu perkenalkan dirimu ke kami?," ujar Shu
"Maaf saya belum memperkenalkan diri, saya Rasyhanda Moon. Bekerja sebagai pegawai di kantor Ceramby." Penjelasan Syha diteruskan oleh Alon.
"Aku harap kalian bisa sungguh-sungguh merestui pernikahan kami."
Shu menghela nafas "kami tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian, terima kasih karena sudah mau berterus terang dan bertanggung jawab, Alon."
❁
Setelah pertemuan itu, Shu meminta Alon untuk mengantarkan Syha pulang. Tetapi pria itu memiliki kesibukan yang harus ia selesaikan di kantor, Alon telah bergegas menancapkan gas mobil keluar dari mansion. Mau tak mau Shu meminta Castiel untuk mengantarkannya pulang.
Syha bersalaman dengan Fred dan Shu untuk berpamitan.
Castiel memasangkan sabuk pengaman, memandang wanita jelita yang termenung kosong ke arah jendela mobil, ia segan untuk menegur. Akhirnya Castiel memilih tidak berkutik dan melanjutkan perjalanan
Setelah 7 menit perjalanan, Castiel akhirnya membuka suara.
"Apa kau baik-baik saja?," Castiel sekilas memandang ke arahnya.
"Ya, saya tidak apa-apa," jawabnya singkat.
Castiel melirik kembali "Apa kamu ingin ke suatu tempat sebelum pulang?," tawarnya.
Syha menggeleng menolak "Tidak perlu, antarkan saja saya pulang."
"Aku yakin kau pasti masih terguncang dengan kejadian barusan, mari ke tempat yang membuat mu lebih baik."
Syha menoleh ke arah Castiel, entah apa yang pria ini maksud. Hatinya yang sedang dilanda kesedihan memilih mempasrahkan keadaan. Ia menutup matanya sesaat dan menikmati perjalanan yang membawanya entah kemana.
__ADS_1