
...•kisah keharmonisan, akan ada konflik juga selama tragedi saat Babymoon-Harapan dibalik lampion 2 °...
...❁...
Matahari telah menampakkan diri dibalik belahan bukit, kicauan burung bernyanyi merdu di pelosok kota. Awan putih berbentuk gumpalan kapas terlihat bahagia diatas angkasa.
Pasangan suami istri sedang berdiri didepan pintu bandara yang dipenuhi kepadatan, berpamitan dengan Fred dan Shu sebelum melakukan keberangkatan.
"Terima kasih sudah mengantar" ucap Alon lalu memeluk keduanya, Syha juga ikut memeluk dan menciumi kedua pipi Shu.
"Sama-sama," balas Shu mengusap bahu menantunya dengan lembut.
"Jaga menantuku dengan baik, awas saja kau membuat nya menangis disana."
"Haha iya Amma," Alon mencubit pipi ibunya dengan gemas.
Fred menyahut "jaga diri kalian disana ya." kemudian menempuk punggung putra bungsu nya itu sebelum melepas pelukan.
Keduanya melambaikan tangan, memasuki pesawat dan take off ke kota Taipei, Taiwan.
Shu memandangi suaminya dengan wajah kerisauan, "apa kita benar-benar akan melakukan nya?."
"Kita sudah sepakat dengan ini, honey" Fred melenggang pergi, disusul dengan istrinya yang terpatri rasa cemas.
"Aku sangat menentang perjodohan yang terjadi pada putra kita, Alon sangat mencintai Rasyhanda bukankah seharusnya-"
Pria itu menyela dengan cepat, membantah segala argumen istri nya "Menikahi gadis seperti itu hanya omong kosong belaka, keluarga Reid menghargai keberadaannya karena dia telah mengandung ahli pewaris. Setelah bayi itu dilahirkan, dia tidak akan pernah menginjakkan kaki disini."
Shu tersentak, memalingkan wajah dengan kesenyapan.
...❁...
Saat pesawat lepas landas, Syha mengenggam erat peyangga kursi, tubuhnya bergetar hebat, wajahnya pucat pasi, bibir nya berubah memutih. Ia sangat takut ketinggian mengingatkan nya pada kematian orang tua kandungnya.
Alon melepas earphone yang ia sumbatkan ke dalam lubang telinga "Apa kau merasa mual." tanyanya penasaran.
"Tidak," Syha menyembunyikan keresahan. Ditariknya nafas itu sekuat mungkin dan menghela dengan pelan, tetap saja keringat itu dingin masih mengucur membasahi tubuhnya.
"Kau takut?"
Wanita itu membalas dengan menggelengkan kepala, namun tetap saja Syha tidak dapat menyembunyikan ketakutan yang terpampang jelas dari raut wajahnya.
Alon mengulurkan telapak tangan "genggam saja ini untuk menghilangkan rasa takutmu."
"Tidak, aku baik-baik saja" kekeh Syha menolak, sesaat pesawat mulai sedikit berguncang wanita itu berteriak ketakutan, ia memeluk lengan Alon dengan erat. Kedua mata ia paksa terpejam, mulutnya terus meracau meminta pertolongan kepada Tuhan.
Alon mengangkat penyangga tangan yang memisahkan mereka, membiarkan wanita cantik ini memeluk nya dengan leluasa. Syha tidak lagi memikirkan ketidaksukaannya bersentuhan dengan Alon, ia hanya ingin goncangan ini cepat mereda.
Alon mengusap dan membelai helaian surai itu dengan lembut. Syha Menengadah, netranya mengamati wajah suaminya dengan teliti. Rahang yang terlihat tegas, rambut disebak ke atas, bentuk mata bak elang, membuat pria ini tidak luput dari kata mempesona.
"Iya, aku tau aku ganteng. Tidak perlu natapin kek gitu juga, entar jatuh cinta gmana?"
Syha mengulum bibir, ditepuk nya lengan itu sekilas "kau sok pede sekali ya," spontan ia langsung mendorong tubuh Alon untuk menjauh.
Pria itu mengerutkan dahinya "Aish padahal dia duluan yang mendekat, tapi malah aku yang didorong."
Syha mengacuhkan perkataan Alon dengan berbaring, sekali lagi pesawat mengalami turbulensi. Syha reflek memeluk suaminya kembali.
Pria itu tertawa kecil "lepasin dong, kan tadi kamu menolak."
Syha menggeleng kuat semakin mempererat pelukannya, "tidak-tidak kumohon jangan" racau wanita itu.
Alon tersenyum simpul, "karena aku sudah berbaik hati memberikan tubuhku untuk kau peluk, bersandiwara lah kembali didepan Ayi dengan baik, kita harus bertingkah seperti suami istri."
Syha mengiyakan tanpa berpikir panjang, rasa takut nya terlalu besar dari pada melayani ucapan Alon.
...❁...
Mereka telah sampai dirumah Ayi, adik dari ibunda Alon. Ayi menyambut dengan hangat, melepas rindu dengan memeluk keponakannya yang telah lama tidak lagi bertemu.
__ADS_1
Ayi mengarahkan pupil matanya kepada seorang wanita disamping Alon "oh ini.." Wanita paruh baya itu tampak berpikir sejenak memandang orang asing yang bertamu kerumah nya.
Alon mengenggam tangan Syha untuk mendekat "ini istriku Ayi, sapa Ayi ku sayang"
Sayang? Syha membelalakkan mata, sandiwara yang terlalu lebay. Kenapa juga Alon harus memanggilnya seperti itu.
Alon berkedip-kedip menggoda, Syha menautkan alisnya 'pria ini gatal sekali!'
Tetapi Alon kali ini melotot, Syha gelagapan menyadari kalau itu adalah kode sandiwara.
Syha memalingkan wajah kemudian memberikan senyuman "salam kenal Ayi, saya Syha."
Wanita itu manggut-manggut meneliti ujung rambut hingga kaki Syha dengan tatapan sinis.
"Ayo masuk," Ayi mempersilakan mereka untuk masuk kedalam rumah. Nuansa ornamen khas Tionghoa menghiasi seisi rumah.
"Alon antar istrimu keatas ya, Ayi akan memasak makan malam kalian."
Alon mengangguk patuh, menuntun istrinya menuju kamar tamu.
"Beristirahatlah,"ujar Alon sembari melepas kancing kemeja di pergelangan tangannya "kau mau bubur nasi?"
"Tidak" jawab Syha menyampir coatnya dilengan, ia lalu terduduk di kasur berukuran queen.
"Kau itu sedang hamil, pikirkan juga janinmu," Alon berdiri di depan muka pintu "Aku akan turun, meminta Ayi memasakkan nya untukmu."
Syha hanya terdiam, setelah 20 menit lebih berlalu wanita itu menghabiskan waktunya dengan termenung di balkon kamar.
Suara pintu terbuka, Alon membawa nampan berisi semangkuk bubur dan buah-buah an. "Ini bubur, makanlah."
Syha menggeleng menolak, tiada hari bagi Alon tanpa penolakan dari istrinya. Entah kapan Syha sekali saja ikhlas menerima segala bentuk pemberiannya.
"Apa perlu kusuapin?" Tawar Alon, ekpresi nya tampak kewalahan menghadapi istrinya. Ternyata ini yang terjadi jika seorang wanita tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, pantas saja jika Syha selalu menolak apapun perhatian yang diberikan.
"Tidak us-"
Alon terduduk, mengambil mangkuk, mencedok bubur dan meniupinya "Buka mulutmu."
Pria itu membalas mengiyakan, membiarkan istrinya untuk makan sesuka hatinya. Alon memilih untuk mengupas apel. Saat hendak memotong, Syha masih saja sibuk memainkan bubur tidak ada satu suapan pun lolos ke mulutnya.
Alon meletakkan buah dan menyambar mangkuk begitu saja "Sudahlah sekarang buka saja mulutmu."
Syha menuruti, tidak ada lagi alasannya untuk menolak.
"Ayi sangat pandai memasak, bahkan tidak ada yang bisa mengalahkan bubur buatannya," Cetus Alon, ia memberikan segelas air putih untuk diminum. Syha menerima pemberian itu.
"Aku ingin membantu Ayi di bawah," timpalnya setelah meneguk air putih dan meninggalkan sisanya separuh.
Alon mengangkat wajahnya, menunjukkan ekspresi tidak setuju "Tidak usah, istirahat saja." Sanggah nya.
"Tapi kan aku tetap ingin bantu," pinta Suha sedikit memohon.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Alon menghampiri penyekat itu dan membukanya, terlihat Ayi tengah berdiri dengan menenteng beberapa sayuran.
"Ah Alon, apa istrimu tidak sibuk. Aku ingin meminta bantuannya untuk memasak."
Alon mengusap tengkuk, membalas lirikan Syha yang menatapnya seksama "Ayi istriku-"
Syha menyela seraya mendekat ke daun pintu "aku tidak sibuk Ayi."
Alon menyalak tajam, mengisyaratkan Syha untuk tetap dikamar. Tapi, wanita itu tetap melangkahi tubuhnya begitu saja untuk keluar dari kamar.
Saat hendak mencengkal, sebuah dering ponsel terdengar.
Tring.. tring...
Alon mengangkat panggilan yang tersambung ke ponsel nya
"Baby, where are you," tanya Kelly dengan suara yang terkesan di imutkan.
__ADS_1
Alon menjawab dengan menghela nafas "Di Taiwan, ada apa?"
"Aku merindukan mu."
Alon mengusap rambutnya, memikirkan bagaimana ia harus membalas "Kel, kita bicara nanti saja."
"But Baby," Kelly terus merengek, meminta pria itu menyenggangkan waktunya sebentar saja.
"Nanti saja kel," Alon mematikan panggilan tanpa membiarkan lawan bicaranya merespon.
Kelly bersungut-sungut, melampiaskan sumpah serapah kepada Rasyhanda di tempat nya berada. Sebelumnya ia begitu bersabar, tidak mendekati Alon karena adanya Hannah, sekarang ada benalu lain yang merenggut kekasih hatinya.
Alon menuruni tangga, melihat Syha sedang merunduk, terdengar isak tangis dari wanita itu. Sigap pria itu berlari menghampiri dengan perasaan cemas mengira Syha pasti menangis karena Ayi memperlakukan nya dengan buruk.
Istrinya tampak sibuk memotong bawang bombai, Syha memandang dengan bingung ke arahnya
"Kenapa kau berlari?" Tanya wanita itu menyeka pelupuk nya.
Alon membalas dengan menggeleng gugup "tidak ada," jawabnya tegas.
Syha memiringkan kepalanya ia lalu kembali melanjutkan aktivitas.
"Aku kayak gini juga karena sayang padamu."
gerundel Alon, intonasinya sengaja ia kecilkan supaya wanita itu tidak mendengarnya.
Syha mendelik tajam "kau bicara apa tadi?"
Alon tersontak kaget, memalingkan wajah berharap Syha melupakan pertanyaannya barusan.
Ayi selesai memetik sayur dari kebun "Apa kau suka seafood Syha?" Tanya Ayi meletakkan keranjang itu didalam wastafel.
"Sedikit Ayi," jawab Syha
Alon membantu Ayi membawa beberapa keranjang "Ayi berikan padaku," tawar Alon, mengangkat keranjang dan membersihkan sayuran itu dari tanah yang masih menempel
"Apa kau pernah coba hotpot?," tatapan Alon teralihkan pada syha.
Wanita itu menghentikan kegiatannya sesaat "Belum," jawabnya menggeleng pelan.
Alon membalas "Nanti coba kau pasti akan suka."
Ayi membawa sebuah tas belanjaan dan beberapa lembaran uang "Syha bisakah kau pergi ke pasar? Didekat sini kok, Ini daftar belanja"
Alon bergegas membasuh tangan, lalu merebut barang itu. Syha terkejut dengan kecepatan suaminya yang tiba-tiba memegang semua kebutuhan belanjaan.
"Sayang kamu disini saja biar aku yang pergi." Ucap Alon terukir senyuman dengan manis, Syha terlena dengan lekukan bulan sabit yang terpaut di wajah pria itu.
Ayi menampar bahu Alon dengan cukup keras "Jangan begitu Alon, biarkan istrimu mencari angin diluar, dia pasti suntuk."
Alon meringis, 'Ibu-ibu asia kalau mukul memang tidak berotak, dengusnya pelan'.
Syha memelas kembali dihadapan Alon "Aku ikut."
Pria itu menggeleng tegas, tidak akan terpedaya dengan puppy eyes milik istrinya "Tidak usah."
Syha mengerucutkan bibir, kesal. Alon merasa tidak tega memandang ekpresi imut itu "Nanti kau diculik om-om brewok diluar sana."
Sama seperti Ayi, Syha memukul bahu pria itu di spot yang sama. Alon menahan rasa sakit, kenapa sesuka hati kedua wanita ini memukuli nya.
"Sembarangan sekali kau kalau bicara," decit Syha memutar bola mata. Kenapa pria ini hobi sekali memancing amarahnya, padahal dia kan tahu kalau dirinya tengah mengandung. Bagaimana kalau ia mati konyol karena emosi yang meledak?
"Pria mana yang tidak tergoda denganmu?," Ledek Alon.
Syha menatap sinis "Kau Alon."
"Aku saja netesin air liur tiap memandangmu," timpal Alon dengan santai
"HEI!" Syha kembali mencubit pria itu dengan gemas.
__ADS_1
Alon memekik "Iyaa iyaa aduh ampun."
Kedua mata Ayi mencermati tingkah laku pasutri dihadapannya, Alon terlihat sangat berbeda sejak ia menemui pria ini terakhir kali. Padahal Alon selalu saja merengut dan bersikap dingin, Ayi tidak pernah melihat sifat humoris Alon kepada wanita mana pun bahkan termasuk kepada Hannah.