
Suara riuh pasar memegang kekuasaan di panca telinga, pengunjung tampak sibuk memilah dan menawar kepada penjual ikan. Bau amis menusuk kedua hidung Alon dengan amat menyiksa. Ia tidak suka bau pasar, tapi Syha?. Ah istrinya itu santai sekali memegang hewan laut tanpa merasa jijik.
Jemarinya membolak-balikan ikan, seperti sudah terbiasa. "Berapa ko?" tawar Syha.
Karena kebiasaan yang tidak bisa terlepas semasa remaja, Syha menawar apapun yang ia beli.
Penjual menghitung timbangan ikan yang sudah dipilih "Saya kasih buat anda, 1000 TWD"
"Kasih kurang lah ko, saya tambah kerang lho," Syha masih terus mencoba bernegosiasi.
"980,ambil lah," Syha tersenyum sumringah, ia lekas memasukkan beberapa kerang lagi untuk ditambah.
'ππ¦π³π―πΊπ’π΅π’ πͺπ΄π΅π³πͺπ―πΊπ’ πͺπ―πͺ π€πΆπ¬πΆπ± π§π’π΄πͺπ© π£π¦π³π£π’π©π’π΄π’ ππ’π―π₯π’π³πͺπ―.'
"Suamimu ini seorang Direktur, dan kau masih nawar di tempat ginian?"
Alon lupa jika ia menikahi wanita dari kalangan yang biasa-biasa saja, tidak seperti Hannah yang merupakan kelas konglomerat. Padahal keduanya diasuh oleh orang tua yang sama, hanya saja takdir mereka begitu bertolak belakang.
"Jangan boros," tegur Syha, beralih pada toko daging meraih beberapa slice daging sapi, babi, dan jamur.
Iris Alon mengikuti pergerakan tangan Syha yang tidak berhenti menarik daging-daging itu keluar. "Dari mana kau belajar bahasa Mandarin?"
Tanpa berpaling Syha menjawab "aku pernah magang di salah satu perusahaan di hongkong."
Setelah mengitari pasar beratus kali, rasa pegal menjalar di tubuh Alon. Sampai detik ini Syha tidak kunjung menyudahi. Kenapa wanita selalu lama sekali jika berbelanja?.
"Kau mau buka warung apa gmana?," Keluh Alon, tenaganya tidak lagi sanggup membawa barang belanjaan yang sangat berat.
"Tau gini aku bawa saja Adam bersama," curhat batinnya.
Inilah alasan kenapa Alon tidak teringin untuk pulang ke Taiwan. Ia tidak suka membiasakan diri menjadi seseorang yang berkehidupan sederhana. Segala yang dibutuhkan selalu diusahakan dengan tenaga sendiri, itu perkara yang melelahkan.
Syha tidak merespon, memesan cumi yang baru saja dipotong untuk dimakan. Penjual menyajikan makanan itu didalam piring, Syha menuangkan kecap asin dan memasukkan hewan yang masih menggeliat itu kedalam mulutnya.
Alon merasakan merinding di sekujur tubuh "dari sekian makanan yang matang kenapa kau harus ngidam makanan mentah? "
Syha yang masih sibuk mengunyah, mengangguk santai "Ya namanya juga ngidam, bagaimana kalau istrimu doyan makan paku kurasa kau bakalan pingsan di tempat."
Wajah Alon berubah memucat "manusia mana yang mau makan paku Rasyhanda, lagian hewan masih hidup begitu kau makan."
Wanita hamil memang unik, sekelas bangsa Eropa saja tiba-tiba suka makanan mentah.
"Ya, emangnya kenapa?," tanyanya tanpa merasa bersalah. "Apa kau pantas disebut Asia? Masa kayak gini aja takut."
Alon semakin bergelut dengan rasa jijik "Geli, gmana coba kalau dia menggeliat di perut mu."
Syha menggeser benda bundar itu kekiri "Coba saja, paling dia cuman nyolek ginjalmu."
Alon terkekeh kecil, wajahnya sengaja ia dekatkan melempar tatapan pada kedua mata biru yang kelam disana "Kalau kau yang suapin aku mau."
Syha mendorong wajah tengil itu untuk menjauh darinya, Alon suka sekali membuatnya terkejut "Lebay," desisnya.
__ADS_1
Alon menopang pipi dengan lengan yang bersandar di alas meja, memanggil makhluk disamping nya dengan lembut "istriku."
Syha yang sedang meneguk air tersedak mendadak, memuncratkan air tawar pada wajah disamping nya dengan mimik kepolosan.
Syha tercengang, menutup mulut yang ternganga lebar karena rasa terkejut "Ma-afkan aku," ucapnya sambil menarik kotak tisu didekatnya.
Sembari menyeka, Alon diam-diam menatap keindahan yang terpatri didepannya. Ternyata inilah asal muasal julukan Dewi violinis diberikan kepada Syha, auranya begitu memikat.
"Syha apa kau tidak ingat tentangku?," setelah sekian lama, Alon akhirnya bertemu kembali dengan wanita yang memiliki ikatan kuat dengan masa lalunya. Padahal dirinya bersekolah di tempat yang sama bersama istrinya.
Wanita itu menukik alisnya, apa yang baru saja pria ini sampaikan. "Tentang mu apanya? Aku saja baru berkenalan dengan mu."
"Tapi apa kau ingat kecelakaan di malam poem night?."
Syha tampak berpikir, bukannya menjawab wanita itu justru berbalik bertanya "Kau ini sebenarnya siapa?"
'Ternyata aku benar-benar tidak dianggap' Alon ingin sekali menangis dipojokan, meratapi kepiluan seolah hanya dirinya saja yang mencintai di pernikahan ini.
"Lupakan saja," tutur pria itu "Aku ingin membeli jus, tunggulah disini jangan kemana-mana."
Syha mengangguk, kembali mencelupkan kaki gurita kedalam kecap asin. Perkataan Ayi kembali terlintas dipikirannya
"Cih, jangan hanya karena kau menikahi pria kaya mau enaknya saja", bentak Ayi "Berarti tugasmu cuman melayani, mengandung, melahirkan, dan menyusahkan gitu?"
"Maafkan aku Ayi"
"Aku berbicara seadanya kepada mu, mantan tunangan Alon saja sangat jago memasak. Lihatlah kau ini, semasa hidupmu pasti cuman tergila-gila dengan harta. Taunya cuman morotin uang dari suamimu kan."
Syha bersimpuh dan memegang bahu mungil itu "Dimana mamamu."
Anak kecil itu menggeleng "Aku tidak punya mama."
"Siapa namamu?"
"Chen."
Syha menggandeng lengan Chen, lelaki kecil itu dengan patuh mengikuti langkah Syha seperti anak ayam mengekori induknya, "Cici belikan makanan ya, kamu mau makan apa?"
"Apa saja Cici."
Syha menghentikan langkah tepat di dekat sebuah penjual yang menyajikan jenis mie dan udon "Yasudah Cici belikan mie."
Chen menarik jarinya "bisa tolong belikan juga untuk adikku."
"Berapa adikmu?"
"Satu," jawab Chen
"Baiklah kubelikan tiga" Syha menuju pada tempat pemesanan "ya tidak perlu terlalu pedas," ucapnya kepada penjual.
Setelah selesai, Syha mengikuti Chen keluar dari pasar. Mereka berjalan menyusuri tempat yang sedikit remang, cahaya matahari juga tidak masuk kedalam kawasan ini.
__ADS_1
"Dimana kamu tinggal?"
"Didekat sini," Chen menunjuk ke suatu titik, tenda kecil di tempat kumuh yang tak jauh dari pasar ikan.
"Sini cici," Ajak Chen sembari terus menarik lengan Syha untuk mendekati tenda itu.
Ia merasa sangat prihatin dengan kondisi Chen, apalagi ditempat yang tak layak untuk ditinggali.
"Aku akan kesini besok dan membawakan kalian makanan ya," perkataan Syha membuat Chen tersenyum senang, ia lalu memanggil adik perempuan nya, Bao.
Suara imut disebalik tenda menyahut bersamaan dengan gadis kecil yang keluar disebalik celah tenda. Pakaian yang Bao kenakan menghitam karena usang, corak mawar tidak lagi berwarna merah pekat. Beberapa bagian pakaian seperti sudah habis termakan rayap.
Bao meraih pemberian Syha dengan tangan imutnya "Xie xie Cici."
"Kalian biasanya makan apa?"
Chen menyahut "Pao polos"
Syha merasa sangat iba, makanan tawar seperti itu apakah cukup untuk dimakan sehari-hari oleh anak di usia seperti ini? Padahal mereka seharusnya membutuhkan gizi yang cukup.
"Apa rasanya enak?"
"Enak sekali" Bao menjawab dengan antusias, "kakak selalu membuatkan kuah pedas."
Syha tersenyum kecil, sekelebat ingatan terlintas pada sebuah kejadian dimasa lalu. Syha berharap anak-anak tidak bersalah ini bisa menikmati kehidupan yang lebih baik.
"Cici pulang dulu ya, besok pagi cici kesini," Syha memeluk dua malaikat itu dengan penuh kasih sayang, seperti sedang berlatih membiasakan diri untuk menjadi seorang ibu. Mungkin tidak ada salahnya jika ia mencoba mendekati anak kecil.
"Dada Cici," keduanya melambaikan tangan dengan gembira, mengharapkan Syha akan kembali menemui mereka esok hari.
Alon yang kewalahan berkeliling mencari keberadaan istrinya akhirnya merasa lega karena telah menemukannya.
"KAU DARI MANA SAJA!," pria itu tampak murka, kaos yang ia kenakan sudah banjir dengan keringat.
Syha menatap bingung, teringat jika Alon melarangnya untuk pergi kesana kemari ekspresinya seketika berubah bersalah.
"Kenapa pakaian mu basah begitu," tanya Syha sesaat tersadar dengan kondisi suaminya yang tidak karuan.
"Hei nona aku traveling di swalayan ini. Hampir saja aku memanggil polisi karena mu," jelas pria itu dengan nafas tersenggal, ia mengatur ritme emosinya untuk lebih tenang.
Alon menyodorkan sebuah cup berukuran sedang "Ini jus stroberi," ucap pria itu.
"Terima kasih," bagaimana Alon bisa tahu kalau ia sangat suka stroberi? Apa karena dia membeli pie waktu itu?
Sekilas Syha teringat untuk membicarakan dua anak yang baru saja ia temukan kepada Alon "aku menemukan dua anak kecil sepasang, mungkin kau tidak keberatan untuk membawa mereka untuk dititipkan ke panti asuhan ku di London?"
"Kau punya panti asuhan?", ekspresi pria itu menggambarkan kalau ia baru saja mengetahui hal ini.
"Ya, aku hanya meneruskan milik ibuku"
"Tentu akan ku urus itu", Alon mengangguk setuju "Sudahlah ayo pulang kerumah."
__ADS_1