Dosa Pernikahan Di London

Dosa Pernikahan Di London
MOZAIK 27 MULAI CINTA


__ADS_3

..."Aku tau kau ingin mempercepat perceraian, kau tidak harus menjadi figur ibu melalui masa-masa pertumbuhan anakku. Akan ku cari pengganti yang tepat setelah kepergianmu nanti."...


...π΄π‘™π‘œπ‘› 𝑅𝑒𝑖𝑑 ...


Hujan turun deras mengguyur jalan-jalan yang lenggang, suara derapannya menghasilkan alunan yang menenangkan. Suasana menjadi dingin dan suram, seolah-olah dunia telah berhenti berputar hanya untuk menikmati saat-saat seperti ini. Suara deru air yang turun dari langit mengalahkan suara kendaraan dan keramaian yang mengisi kota.


"Sudah 4 bulan ya, kenapa tidak terasa." Cetus Syha yang tengah berdiri didepan cermin, ia lekas keluar dari kamar, "aku harus melakukan pengecekan DNA hari ini."


Setelah banyak kesalahpahaman yang terbelenggu akhirnya masalah tertuntaskan. Kelly tidak lagi menampakkan diri bahkan untuk sekedar menghubungi Alon, wanita itu enggan melakukannya.


Entah kenapa hati kecilnya berseru gembira terhadap sikap Alon di malam itu, Syha reflek menggeleng dengan keras tidak ingin terhanyut dengan cara pria itu memperlakukannya.


Sesaat Syha menuruni tangga, wangi masakan menusuk kedua hidung. Alon tengah berdiri di depan kompor, mengaduk panci yang berisi sup ayam.


"Kau sudah bangun?" Tanya Alon, mengalihkan pandangannya dari sup yang sedang dimasaknya.


Syha mengulum bibir, "Ya, sudah." jawabnya dengan singkat.


Alon mengangguk pelan melirik istrinya yang tidak biasanya berdandan setelah kehamilan, "kau mau kemana?"


"Ke rumah sakit, untuk pengecekan," jawab Syha.


"Pergi bareng sama aku nanti," ujar Alon meletakkan semangkuk sup ayam dengan asap yang mengepul ke udara, "sarapan dulu, cuaca lagi dingin."


Wanita itu tidak merespon memilih diam sejenak mengamati masakan yang tersaji. "Oh kau sekarang jadi pelayan bintang 5 dirumah ini?" ledek nya.


Urat kekesalan menegang di pelipis, Alon mengenggam kuat spatula ditangannya "Aku ini suamimu bukan pelayan."


"Sejak kapan aku menganggapmu suamiku? Pernikahan kita cuman sebatas sandiwara belaka Alon."


"Kalau aku pengennya menjadi kenyataan, gmana?"


Syha mengangkat kedua alisnya, apa-apaan pria ini semakin menjadi saja. "Ga minat"


Alon mengusap rambutnya, "kalau suatu saat kau jadi suka gmana?"


'Gmana-gmana apanya dasar pria ini terus-terus an memojokkanku' dengusnya memaki didalam hati.


Syha bersikap acuh, tidak ingin menanggapi lebih jauh. Pupil nya melirik sup didepannya, sifat yang penuh dengan kehangatan mengguncang perasaannya dengan kuat.


Syha melebarkan mata melihat daging-daging itu mengapung, terlihat jari-jemarinya mencengkram dengan kuat, Alon menatap istrinya yang membeku, tubuhnya gemetar, seolah sedang berdiri dihadapan gerbang trauma yang terbuka lebar.


Syha teringat akan Zein yang membuatnya sup tikus untuk ia makan di ruang bawah tanah.


"Tidak usah khawatir,"


ucapan Alon menarik Syha untuk menoleh,


"Itu hanya daging ayam," lanjutnya dengan tersenyum tipis.


Syha mengernyitkan dahi, penasaran. Apa Alon mengetahui sesuatu? "Terima kasih, tapi aku tidak bisa memakan masakanmu," Syha beranjak dari meja makan dan bersiap berjalan keluar.


"Kau takut aku meracuni mu ya?"


Syha berhenti melangkah membalikkan badan dan menatap sekilas, "ya mungkin bisa aja kau taruh sekilo sianida didalamnya."

__ADS_1


"Kalau kau kaya raya sudah ku taruh beribu ton sianida, lumayan kan dapat harta waris 50 persen? Hoki bisa dapat bini baru lagi."


Syha terbelalak lalu memutar bola mata dengan jengkel "Setelah itu kau kena HIV! MAKAN TU BINI BARU!"


Kini Alon yang melotot dengan lebar. "Hei saat kau memasak bubur kacang merah untukku, aku menghabiskannya. Masa giliran masakanku kau tidak ingin menyicipinya."


Syha mengumpulkan keberanian mendekati mangkuk itu, demi menghargai Alon yang telah bersusah payah memasak untuk nya


Tampilan yang sangat normal untuk ukuran masakan rumahan. Menepis segala ketakutan nya menyendok sesuap dan memasukkan nya kedalam mulut.


Syha terkesiap, terdiam dan tidak bereaksi.


"Pasti enak kan, aku ini pernah menang ajang kontes memasak. Jadi jangan terkesima dengan rasanya." Ucap Alon dengan percaya diri.


"Alon.." Panggilan itu terdengar sangat parau dan lirih, wanita itu menundukkan pandangannya.


Alon merasakan atmosfer yang berbeda, apa dia terlalu yakin dengan masakannya? Sejak SMP ia sudah berguru dengan Ammanya. Tidak mungkin hasilnya mengecewakan.


Syha mengangkat wajahnya, mimik ekspresi yang berubah memerah. Bergegas Alon meletakkan spatula dan menghampiri istrinya.


"Asin? Manis? Tawar? 1001 rasa ya? Sudah jangan dimakan lagi, maaf kan aku." Beribu pertanyaan keluar dengan perasaan gelisah, Alon menarik sendok yang masih tergenggam dan meletakkannya diatas mangkuk.


Bukan nya menjawab Syha justru meneteskan air mata, Alon yang dilanda cemas kini dibuat panik. Sedetik kemudian sebuah pelukan mengikat keduanya, Syha dengan tangisnya yang pecah sesegukan dalam benaman kesedihan.


Alon berbalik memeluk, entah kenapa istrinya ini tiba-tiba saja menangis tanpa alasan. Yang pasti, kondisi hamil mampu membuat suasana hati seorang wanita berubah-ubah dengan drastis.


Segan untuk bertanya, Alon berharap dapat meredam tangisnya dengan membelai surai itu dengan hati-hati.


❁


"Tidak usah sentuh, ih" decak Syha menghalau dari kejahilan Alon yang sibuk merayapi tangannya.


"Sudahlah sstss!" Alon meletakkan jari telunjuk tepat didepan bibir, mengisyarat untuk diam. Sementara dokter menyiapkan peralatan.


Syha memincingkan mata, menatap Alon yang terukir lekukan di sudut bibirnya "Kenapa kau tersenyum begitu?" Celetuknya.


"Senang saja menanti perkembangan anak kita sayang."


Syha melebarkan mata "ga ush pake sayang segala kali!"


Alon berkedip-kedip, memberikan kode. Seolah ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka, ya seorang dokter kandungan dengan peralatan yang telah siap ditangannya.


Syha melemparkan senyuman manis, memperbaiki posisi nya untuk berbaring dengan benar.


Dokter memakaikan sebuah gel, 𝘡𝘳𝘒𝘯𝘴π˜₯𝘢𝘀𝘦𝘳 bergerak perlahan mengitari perut. Layar menampilkan sebuah tampilan hitam yang menunjukkan janin yang telah berkembang selama 4 bulan terakhir.


Dokter membuka suara "Nona ini tangannya dan ini kakinya apa anda bisa melihatnya?"


Kedua pasangan itu serentak mengangguk, Syha dengan wajah berbinar nya merasa takjub, lekas ia menoleh ke arah Alon yang masih menatap wajahnya.


"Ngapain sih lihat aku lihat layarnya noh," dengusan Syha dibalas dengan tawa kecil oleh Alon, pria itu semakin menggenggam dengan erat.


"Bukankah ini suatu keajaiban?" ucap Alon.


Syha mengalihkan tatapan ke layar, menatap gundukan kulit yang sudah cukup membesar, "setelah bertahun-tahun lamanya kini aku bisa mengandung seorang anak. Padahal semua orang berpikir aku mandul."

__ADS_1


"Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan berkehendak," tandas Alon.


Syha dapat mendengar detak jantung yang kuat. Entah karena kekagumannya terhadap pernyataan Alon ataukah karena bayinya.


"Selamat ya, istri anda mengandung anak perempuan." Ucap dokter setelah meneliti genital kelamin.


Lekungan senyum seindah bulan sabit menghiasi wajah keduanya, seorang putri akan lahir di tengah mereka.


"Serasi sekali padahal sudah menikah 5 tahun, selamat atas kehadiran buah hati kalian," kata dokter disela keduanya larut dalam kegembiraan.


Syha menoleh cepat ke arah Alon, meminta penjelasan. Apa pria ini memanipulasi data pernikahan mereka? Dalam diam Syha mencubit telapak tangan suaminya dengan gemas.


Alon meringis, dari pada melakukan perlawanan ia membalas dengan mengelus punggung Syha dan memberikan kecupan di keningnya.


Sontak wanita itu tidak melepaskan tatapannya, Syha merasakan degup jantung yang berdebar. Kali ini ia yakin jantung ini adalah milik nya, tapi kenapa sulit sekali baginya untuk marah?


Setelah melakukan USG, mereka beralih untuk mencocokkan DNA.


"Kami telah menerima sampel darah dan janin, pihak rumah sakit akan mengabari jika ada pemberitahuan terbaru."


Mereka mengangguk mengerti, bergegas untuk bersiap kembali ke mansion. Tanpa keduanya sadari, gandengan tangan itu tidak terlepas selama pengecekan yang telah berlalu.


Sesampainya disana, Syha membuka beberapa surat pribadi yang terkirim dari teman masa kecilnya di Sankt Peterbug. Lucu sekali, padahal mereka saling menyimpan kontak. Tapi untuk mengirim kabar selalu melalui pos surat.


Syha menulis rangkaian kata untuk membalas pesan disana, dalam kesenyapan Alon sudah berdiri tepat dibelakangnya mencoba mencuri lirikan pada aktivitas yang ia lakukan.


"Lagi ngapain tuh."


Syha terperanjat, menutup tulisan dengan wajah yang menggebu emosi. "Ini kamarku, kenapa kau sembarangan sekali keluar masuk disini?" Bentak nya.


"Ini rumahku jadi suka-suka aku," Alon menimpali dengan sewot "lagian nulis apa sih?"


"Kepo kali, sana lah!" Usir wanita itu dengan nada jengah. Ia kembali berlarut dalam setiap tetesan tinta.


Alon mengintip cincin yang Syha kenakan di jari manis kirinya, "bisakah kau pakai cincin pernikahan kita selama kau bersamaku?"


Wanita itu menggeleng menolak "ga mau."


"Padahal aku sudah sangat baik menghapus semua tebusan mu dan membiarkan mu bersamaku tidak sampai 1 tahun."


Mendengar pernyataan itu Syha lekas berdiri, menarik laci nakas. Meletakkan cincin pernikahannya bersama Zein dan membawa cincin pernikahannya bersama Alon.


Wanita itu terduduk kembali, menyadari Alon memiliki keturunan ras Asia ia memasangkan cincin itu di jari manis kanannya.


"Sudah kan?" Syha mengangkat jarinya dan menunjukkan bukti tepat di titik fokus mata pria itu.


Tapi Alon justru merogoh ponsel, membuka mode kamera, meletakkan tangan kirinya berdampingan dengan milik sang istri.


Syha memandang bingung, "mau ngapain."


Suara jepretan terdengar



Alon tersenyum lebar, "aku cuman butuh buat ini saja kok, kalau kau mau memakai cincin mu bersama Zein pakai saja lagi. Aku pinjam foto ini untuk wallpaper dan kontak hpku, makasih."

__ADS_1


Alon berlalu keluar dari kamar, meninggalkan Syha dengan pipinya yang sudah merekah menahan malu.


__ADS_2