
Setelah sampai di stasiun Ruifang, keduanya melanjutkan perjalanan ke Pingxi melalui stasiun Shifen.
Pingxi
Alon masih menggandeng manja tangan istrinya, Keindahan air terjun Shifen mengalir dengan kebahagiaan yang melimpah. Kali pertama ia melihat penampakan se menakjubkan ini.
Suara desiran air terjatuh dengan ritme yang syahdu, pikirannya ikut merasakan ketenangan yang amat ia rindukan setelah sekian tahun lamanya. Memandang rumah-rumah kayu yang terbangun dengan keindahan klasik Tionghoa.
Wanita itu tampak keletihan setelah berjalan kaki cukup jauh, napasnya mulai ngos-ngosan. Tapi Alon? Pria itu masih tampak biasa saja.
Alon menyadari Syha yang kewalahan "Kau mau beristirahat makan siang?"
Syha tidak menjawab ia memegangi pergelangan kakinya yang terasa sakit dan nyeri, dalam sekali cekatan Alon menggendong Syha dengan gaya bridal. Menaruh pelan pada bangku umum yang tersedia disana.
"Tunggu, jangan kemana-mana", Alon menghampiri sebuah toko, membeli sandal yang jauh lebih nyaman dikenakan, obat salep, dan perban.
Alon bersimpuh, mengoleskan obat cair itu dengan lembut, Syha sedikit merintih berbarengan dengan pria itu membalut kakinya dengan perban
"Apa kau masih bisa berjalan?", Alon memasangkan sandal itu di kedua kaki istrinya, saat Syha berdiri rasa nyeri itu masih terasa.
Alon berjongkok "Naiklah"
"Ah tidak perlu", Syha menggeleng pelan
"Naik saja kau tidak perlu bersandar, tegakkan tubuhmu", Syha membuang jauh-jauh penolakannya, dari pada kakinya harus terkilir karena berjalan terus menerus. Lebih baik ia menerima tawaran Alon.
Syha memegang kedua pundak itu dan menaikinya, seperti sebuah kapas Alon sigap berdiri tanpa beban
Namun seketika pria itu bertingkah dengan menggetarkan kakinya.
"aduh, kau makan kaki gajah ya sampai seberat ini?" ledek Alon
Syha yang tersinggung memukul pria itu dengan kasar, Alon membalas dengan sunggingan senyuman.
Alon membawa Syha untuk berkeliling di sekitar kota tua, lokasinya tepat diatas bukit dengan rel kereta api yang membelah ditengah. Semua mata teralihkan pada pasutri itu. Bahkan diantara nya berdecak kagum dengan perlakuan sang suami.
Syha memandang punggung Alon dengan sayup, pria ini tidak mengeluh sama sekali saat membawanya. Padahal ia tidak bisa membayangkan kekuatan pria ini yang mampu menahan beban 2 manusia sekaligus.
"Aku akan sewa sepeda untuk berkeliling", Alon mendorong sebuah sepeda tua untuk mereka naiki, dengan patuh wanita itu menduduki besi-besi berongga yang sudah cukup lapuk dibagian belakang.
Pria itu mengayuh dengan kecepatan standar, Syha tersenyum tipis dibalik tubuh Alon, suara derup roda mengiringi mereka ditemani barisan toko-toko yang berdiri sejak 1940 an. Disana juga terdapat rumah-rumah dari masa pendudukan Jepang.
Sepeda terus terkayuh dengan deru-deru suara besi yang bergemerincing, Amma menyarankan nya untuk mencoba kesederhanaan ini bersama istrinya. Mengingatkan kisah percintaan antara amma dan appanya semasa muda.
__ADS_1
Alon melirik Syha yang tampak tersenyum sumringah saat surainya tertiup angin-angin dari tenangnya sungai kecil disana.
Waktu berlalu hingga senja, mereka mengunjungi toko souvenir untuk membeli oleh-oleh dan kenangan sebelum kembali ke London.
Sekumpulan orang, sudah berkumpul di rel-rel kereta api yang membelah Shifen, keduanya juga mengunjungi sebuah toko untuk membeli lampion terbang
Disana berdiri petugas yang tampak sibuk mengarahkan kepadatan pengunjung yang sangat mendesak, kota Pingxi seakan terselimuti oleh makhluk bercahaya dibalik kegelapan malam.
"Tulis harapanmu di sini", Alon menyodorkan sebuah kuas yang terbasahi tinta hitam
Syha menatap bingung "Aku tidak memiliki harapan" ia melanjutkan "Kau saja yang tulis"
"Harapan ku sudah dikabulkan, sekarang giliranmu"
Syha menggangguk, mengambil kuas dan menuliskan rangkaian kata disana
Alon menajamkan penglihatan untuk melirik apa yang wanita itu tulis "Apa aku boleh lihat harapanmu?"
"Tidak, ini rahasia!" tolak Syha
Alon menggeleng tersenyum, ia lalu mengaitkan lilin, membakar dan membiarkan nya beberapa detik.
Semua orang berteriak bersama-sama untuk melepaskan lampion.
Syha tertegun mendengar ucapan itu, tidak membalas apapun.
Genggaman keduanya serempak melepaskan benda itu untuk terbang bebas diangkasa, terdengar sorakan yang sangat meriah disana. Semua orang bertepuk tangan menyambut kegembiraan.
Alon langsung saja memeluk tubuh istrinya dengan penuh keharuan.
"Aku tidak pernah merasa sebahagia ini", Syha terdiam mendengarkan ucapan itu, tidak siap untuk memeluk pria ini balik. Tangannya hanya terbujur kaku disampingnya.
Setelah perjalanan panjang, Syha tertidur di dalam taksi yang melaju menuju hotel. Kepalanya ia sandarkan dibahu pria itu, dalam diam Alon mengecup kening Syha dengan penuh kasih sayang, membelai setiap helaian surai disana.
Alon masih membopong Syha yang masih terlelap, membaringkan nya diatas ranjang.
Ia lalu menarik bantal dan selimut untuk berbaring di sofa, menatap istrinya yang masih terbaring Alon mengucapkan sebuah kalimat sebelum melanjutkan istirahat nya.
❁
Syha bersandar dengan lemah pada wastafel kamar mandi, wajahnya pucat pasi menahan morning sickness yang menyiksa keadaan tubuhnya.
Kepalanya terasa nyeri dan berdenyut, ia segera keluar dari sana, memandang Alon yang tampak sibuk dengan pekerjaan nya.
__ADS_1
Padahal ia ingin sekali memeriksa keadaannya, padahal usia kandungan sudah memasuki 4 bulan tapi kenapa ia malah masih merasakan mual berlebihan?
"Ini kamar siapa?" tanya Syha, entah kenapa Alon malah bermalaman disini bersamanya.
"Kamar kita", celetuk pria itu cepat
"Apa maksudmu kamar kita?" Syha tampak kebingungan "kenapa kau tidak memesan 2 kamar?"
Alon menghela nafas "sayang ku, cintaku, buah hatiku, semalam itu kan festival. Banyak turis memesan kamar, hanya ini kamar yang tersedia, paham?"
Setelah wanita itu mengangguk, Alon kembali mengutak-atik laptop yang terlampir banyak sekali ribuan tulisan disana. Alon menopang dagu sembari berpikir, mencari solusi dalam menyelesaikan pekerjaannya.
Terdengar sebuah ponsel berdering, Syha menajamkan tatapan nya, tampil sebuah foto kontak wanita yang tampak tak asing baginya. Bukankah wanita itu yang bersama Alon di malam ia hendak bertemu Zein dan disaat pernikahannya?
Alon menatap layar ponsel, lalu menolak panggilan. ia kembali terhanyut dalam masalah perusahaan.
Syha sedikit cemberut melihat Alon yang tidak mengatakan sepatah katapun untuk menjelaskan siapa wanita itu. Lebih memilih menghampiri ranjang, membalut tubuh dengan selimut dan kembali beristirahat.
Setengah jam lebih berlalu, ia terlelap dalam keadaan setengah tersadar saat pria itu memainkan ponsel sembari mengusap dan memijat punggungnya, awalnya ia ingin marah karena Alon melakukan itu tanpa seizinnya.
Tapi sebuah panggilan ponsel kembali terdengar membuat nya terdiam, Alon beranjak dan berjalan ke balkon. Ia memasang speaker karena sedang tidak ingin menempelkan ke telinga, toh lagipula istrinya sedang tertidur.
"Babee... ", panggilan dari wanita itu membuat Syha melebarkan mata
BABE? Bukankah Alon sudah berjanji kepadanya untuk tidak berhubungan dengan wanita manapun selama pernikahan mereka.
"Ada apa kelly?", tanya Alon mengusap pelipisnya
"i miss you so much, kapan kamu mau ke Amerika?"
"Aku tidak tahu"
"Apa kamu sedang bersama istrimu?", pertanyaan wanita itu membuat Syha mengintip tajam ke arah Alon, ia berusaha tetap memperagakan tidurnya.
"Memangnya kenapa?" tanya Alon
Kelly menjawab "Jika kau tidak bersama istrimu datang ke apartemen ku ya"
Alon tampak berpikir "lihat nanti"
"Awww thank you baby, muach"
Syha menelan salivanya, bukankah itu terlalu berlebihan? Siapa wanita itu, kenapa ia harus berbicara seperti itu? kenapa Alon sama sekali tidak pernah menceritakan wanita yang berhubungan dengannya saat ini?, pikirannya benar-benar kacau dengan beribu pertanyaan.
__ADS_1
"Apa Alon mempunyai wanita simpanan?"