
๐พ๐๐ฃ๐ฉ๐ ๐๐ฉ๐ช ๐จ๐๐ฅ๐๐ง๐ฉ๐ ๐๐๐ค๐ก๐, ๐ฌ๐๐ก๐๐ช ๐ข๐ช๐จ๐๐ ๐ฃ๐ฎ๐ ๐๐๐ง๐๐๐ฃ๐ฉ๐. ๐๐๐ฉ๐๐ง๐๐ฃ ๐จ๐๐ฃ๐๐ง๐ฃ๐ฎ๐ ๐ฉ๐๐ง๐๐จ๐ ๐จ๐๐ก๐๐ข๐๐ฃ๐ฎ๐.
_๐ช๐ฃ๐ ๐ฃ๐ค๐ฌ๐ฃ
Awan menggantung berkurumun menghiasi cakrawala, bulan yang sempat menerangi kini tertutup gumpalan kapas yang membawa pesan akan segera turun hujan.
Setitik air berjatuhan membasahi seantero kota, menemani Syha yang terduduk manis di sudut kafe. Ekspresi wajahnya berkalut gelisah, menerawang suasana sekitar nya dengan tatapan kosong.
Performa live music meramaikan suasana kafe, seorang penyanyi bersenandung beberapa album diatas panggung, mellow ditemani kesenduan. mengingat akan kenangannya semasa bersekolah, setelah berjualan ikan di siang hari, ia bekerja ๐ฑ๐ข๐ณ๐ต ๐ต๐ช๐ฎ๐ฆ di sebuah cafe.
"Padahal aku ingin bersenang-senang di bar hari ini," ujar wanita itu sembari mengesap secangkir kopi, Syha hampir saja memasuki area terlarang. Untunglah ia menyadari saat tidak sengaja bercermin pada kaca-kaca di sepanjang jalan yang memperlihatkan perutnya yang cukup menonjol. ๐๐ฏ๐ฅ๐ข๐ช ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ช๐ญ.
"Kami akan memberikan kesempatan kepada para pelanggan untuk tampil keatas panggung ini," Syha menyipitkan matanya mungkin ia sesekali wajib memberi hiburan diri dari pertikaian nya sesama wanita. Tekanan sangatlah tidak baik untuk kesehatan janinnya.
Syha mengusap perutnya dengan lembut "nak, mau dengar ibu bermain alat musik?" Tanyanya sembari tersenyum tipis, bukankah usia kandungan saat ini bayi sudah harus terbiasa untuk terus diajak bicara dan mendengarkan musik.
Langkahnya menaiki dasar anak tangga dan menilik sebuah biola yang tidak jauh dari jaraknya berdiri "Apa aku boleh memainkan biola disini?"
Music band mengangguk mempersilahkan,
Setelah mendapatkan persetujuan ia meraih benda itu, membuka kotak dan mendapatkan sebuah benda yang sangat ia rindukan beberapa tahun silam.
Sesaat tak lama, kedua pria yang tampak tak asing berdiri tepat dipintu masuk kafe. Melayangkan pandangan ke sekeliling untuk mencari sesosok wanita.
"Istri pak Alon jago sekali punya jurus menghilang, dia berguru dengan siapa? Boleh ku minta watzupp nya?" Ucapan Adam tidak direspon oleh Alon, atasannya itu terpaku membisu menyaksikan istrinya berdiri tegap dengan pesona yang memikat, mengenggam biola beserta busur ditangan kanannya.
__ADS_1
Disana wanita itu meletakkan sang biola di bahu mengajak alat itu untuk berbicara, "mรฉmoire." Bisiknya
Tubuh yang ternaik, terlihat dari tarikan nafasnya. Suasana yang sedikit ricuh kini senyap tanpa suara, bersamaan dengan busur yang bergesekan dengan dawai.
Suasana redup dengan kegelapan pergerakan lampu sorot memusat pada sesosok hawa yang menciptakan alunan memuncak dengan ketegangan.
"N. Paganini," cetus Alon disela kekagumannya.
Adam membalas dengan manggut-manggut "tau dari mana pak?"
"Instrumen yang mempertemukan kami dimasa lalu."
Sekelebat momen mengingatkan Alon dengan pertemuan nya bersama Rasyhanda.
โ
"Katanya dia anak buangan dari seorang pengusaha," cibir salah seorang mahasiswa berbicara pelan pun Alon tetap bisa mendengarkan ucapan mereka dari kursi belakang.
"Anak pelacur kali, makanya ga dianggap," sambung temannya.
Alon bersikap acuh terhadap gosip yang baru saja didengar olehnya, mencampuri urusan orang lain tidak akan memberikan keuntungan apapun.
Kalau bukan karena Zein yang mendesaknya untuk kesini, Alon sudah pasti menikmati bermain biliar di mansion. Jago sekali sahabat nya itu menghasut dirinya meski ia tidak ingin datang.
"Kudengar violinisnya cantik lebih cantik dari Kelly yang kau cintai itu," nyinyir Zein, mengusili Alon dengan wajah yang tertawa cekikikan.
__ADS_1
"Bicara apa kau ini?" Alon menyenggol tubuh pria bongsor itu dengan lengan yang terlipat. "Kenapa kalian terus menjodohkan ku dengan Kelly?"
"Kalian cocok sih," tukas Zein membalas senggolan itu dengan tergelak tawa "kau lihatlah Kelly menyimpan perasaan kepadamu, kasihan sekali kau malah ga mau nerimanya."
Tidak lama terdengar tepukan yang bersorak-sorai, seorang wanita dengan jepitan bunga menguncir sepenggal dari rambut panjangnya, tenue dress putih yang menyeret lantai menjadi saksi setiap derap langkahnya.
Untuk pertama kali Alon tidak bisa melepaskan pandangannya dari sesosok wanita asing yang sibuk mempermainkan jari dan busur nya diatas senar. Jantungnya bergejolak tidak teratur bersamaan dengan kecepatan wanita itu terus mendayun kan lengannya.
Tanpa menoleh pada lawan bicara, Alon bertanya "Siapa nama violinisnya?"
Zein melirik sekilas "Rasyhanda Moon," jawab pria itu.
โ
Tempo yang terus beruntun mempercepat permainan tangannya, bulir-bulir keringat berjatuhan. Melodi yang terus berdayu, adalah kenikmatan yang tiada tara.
Saat mendekati penutup, busurnya berselancar dengan melabu. Perasaan yang terkunci kini terbuka dengan luapan kepuasan.
Nafas menderu tersenggal, tepukan gemuruh menyambut nya dengan girang. Penampilan yang luar biasa.
Ekspresi nya berubah sesaat mendapati suaminya berdiri dengan melipat dada, menatap ke arahnya menukik dengan tajam. Ah! Ia baru teringat beberapa saat yang lalu dirinya baru saja memaki pria itu dengan kasar.
Seorang pria dengan setelan formal berkurumun menuju panggung. Tanpa berbasi basi, cekaman lengan mengangkat dan meletakkan tubuh mungil itu di pundak gagahnya.
"Hei turunkan aku!" Berontak wanita itu menepuk-nepuk pria plontos ini dengan kasar,
__ADS_1
Apa malam ini akan tamat riwayatnya? Ia tidak siap jika Alon berubah pikiran untuk menukar tebusan itu dengan jeruji besi.