Dosa Pernikahan Di London

Dosa Pernikahan Di London
MOZAIK 17 APA AKU SALAH?


__ADS_3

"Mungkin tidak, yang pasti kakek tetap akan memberitahunya untuk tidak menikah dengan pria manapun", jelas Castiel, ia tampak menarik nafas "Apa kau tau kalau Hannah itu-"



Pernyataan Castiel membuat Alon terbelalak, yang benar saja berarti selama ini identitas wanita itu masih penuh misteri? "Dari mana kau bisa tahu?"


Castiel mengangkat salah satu alisnya "aku membayar seseorang untuk menggali Informasi itu" jawabnya, "setidaknya kau tau kan harus berbuat bagaimana?"


Alon terdiam, matanya menerawang pada langit-langit rumah sakit "Castiel, bantulah aku mengungkapkan itu semua."


"Kau mau bayar aku berapa?"


Alon tertawa kecil "minimal ngaca bang, kau bilang Adle penggila uang. Cucunya sendiri sama saja."


"Segalanya butuh uang Alon, aku ini orangnya realistis. Dari pada aku minta perusahaan otomotif mu di Sankt-Peterbug belum tentu juga akan kau beri," ledek Castiel.


"Akan ku alihkan kekuasaannya jika kau mau," pernyataan Alon menarik Castiel tersenyum lebar. Menjalin kesepakatan dengan adiknya sendirinselalu mendapatkan imbalan yang memuaskan.


"Setuju, akan ku berikan informasi terbaru kepadamu," ucap Castiel dengan antusiasme.



"Aduh panas," wanita itusibuk mengaduk bubur sembari memasukkan gula merah dan garam. Selama ngontrak Syha hanya mengandalkan keahliannya dalam olahan telur, sekarang disaat seperti ini mencoba hal baru semuanya terasa sulit. Bagaimana mungkin dirinya bisa meraba hal baru sedangkan segala bentuk pengeluaran keuangannya sangat terbatas.


"Nona, anda ingin memasak untuk tuan Alon ya?" Sapa Nanny, wanita paruh baya itu menenteng beberapa tepung ditangannya.


"Iya Nan" jawab Syha masih sibuk mengaduk dan menyicip rasa buburnya.


𝘈𝘥𝘶𝘩 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢𝘳 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵!, keluh 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯𝘯𝘺𝘢.


Nanny melirik masakan yang Syha buat "aduh Nona, airnya terlalu sedikit kalau begini gulanya ga bakalan larut," Nanny membantu menuangkan segelas air ke dalam panci yang sedang mendidih.


Syha terkesima melihat kemampuan Nanny dalam memasak, ah wajar saja Syha teringat cerita Nanny yang sudah mengabdi puluhan tahun untuk keluarga Reid sedari Alon kecil.


'Jika ibuku masih hidup apa dia akan mengajariku memasak?'


Syha memalingkan wajah, sejak kecil ibu angkat nya Maya selalu memperhatikan Hannah dan mengajarinya banyak hal.


Hannah berlari kecil menghampiri Maya yang tampak asik berbincang dengan wanita sosialita. "Ibu aku mendapatkan juara kelas tahun ini," gadis kecil itu berlompat girang, Maya tersenyum manis membelai rambut halus itu dengan penuh kasih sayang.


Syha mengintip disebalik dinding jemari kecilnya menggenggam sebuah piagam kemenangan, Violinis cilik terbaik di London.


"Ibu pasti akan senang jika aku memberikan ini," tutur gadis kecil itu, lantas keluar dari tempat persembunyiannya.

__ADS_1


"Putri kandungmu pintar sekali, tapi kenapa anak angkat mu itu tidak bisa melakukan apapun?" Ungkap seorang wanita berpenampilan modis, bibir meronanya terlihat mencolok dengan warna violet.


Syha menghentikan langkahnya, menatap sekumpulan manusia yang terus mengeluarkan bisikan yang memilukan.


Segala kemampuannya sangat tertinggal jauh jika disandingkan bersama kakak angkat nya itu, apakah mungkin dirinya terbuang karena memang sangatlah tidak berguna.


"Nanny, apa aku boleh belajar memasak dari mu?" Mata itu berbinar meminta mohon semoga Nanny mau mengajarkan nya memasak, meskipun pria sok perhatian itu melarangnya.


Nanny tersenyum "boleh Nona, akan saya ajarkan."


Syha bertepuk tangan dengan ekspresi membahagiakan.



Kakinya terus bertapak menyusuri lorong yang sangat panjang, melewati beberapa tangga dan kamar yang berbaris berjejer disepanjang langkahnya. Pijakan nya terhenti pada suatu ruangan, dimana Alon sedang dirawat secara intensif.


Saat mendorong pintu untuk terbuka, suara seorang wanita terdengar beradu lisan dengan Alon. Syha mengintip pemandangan itu disebalik celah rongga yang terbuka.


Sesosok itu sedang menggenggam tangan Alon dengan mimik kerisauan.


"Baby are you okay," kelly mengerucut kan bibir nya, ia terkejut saat mendengar kabar dari Adam kalau Alon mengalami kejadian tragis.


Alon tersenyum tipis "Aku tidak apa-apa," jawabnya.


"Kau kira aku masih bocah?" Decit Alon mengusap wajahnya, Kelly selalu saja menganggap dirinya seperti anak kecil. Ia sudah dewasa untuk menyikapi ini semua.


"Aku tu begini karena peduli padamu," ungkap Kelly.


Alon meradang dengan nada sebal. "Aku bisa urus diriku."


Tanpa berbasa-basi, Kelly melayangkan satu kecupan di pipi pria itu. Alon Terperanjat, mengusap bekas kecupan itu dengan telapak tangannya.


"KEL! Kenapa kau selalu menciumku tiba-tiba" protes Alon, Kelly membalas dengan tertawa kecil.


Memandang keharmonisan kedua pasangan itu, mengurungkan niatnya untuk masuk, bekal yang Syha jinjit ditangannya pelan-pelan turun kebawah. Kedua netranya menyalurkan rasa yang tidak diinginkannya ke hati. Syha mengusap perut dengan senyum datarnya, berbalik badan dan memilih untuk berjalan di sekitar taman rumah sakit.


15 menit berlalu, Syha termenung kosong dibangku. Tatapannya tidak teralih kan dari bekal yang ia taruh di pahanya.


Seorang pria memanggilnya dari belakang "Nona apa yang anda lakukan disini?"


Syha menoleh, mendapati Adam berdiri tepat membelakangi tubuhnya "menenangkan diri," jawab wanita itu.


Adam duduk bersandingan, ditatap nya lekuk wajah yang memancarkan kesayuan disana "Kenapa nona tidak bersama pak Alon?"

__ADS_1


"Dia bersama seorang wanita," balas Syha, matanya terangkat menatap gumpalan awan putih.


Adam mencoba mencerna "berambut hitam?" Tanyanya memastikan, Syha menjawab dengan mengangguk.


"Itu Kelly, dia designer yang bekerja sama dengan Reid, Kelly dan pak Alon adalah teman dekat sejak kecil."


Ujung mata Syha melirik penasaran, "dia bekerja bersama Alon?"


"Ya, ku dengar Kelly menaruh perasaan kepada pak Alon. Tapi aku tidak tahu bagaimana perasaannya kepada Kelly, aku dulu mengira mereka saling mencintai." Pungkas Adam seraya menyandarkan punggungnya, kakinya kanannya terangkat menindih kaki kirinya.


Syha mengangguk berkali-kali, apakah selama ini Alon sedang menyembunyikan perasaannya? Wanita itu menjawab "begitu ya."


"Maaf nona aku tidak bermaksud menyinggung mu, Kelly juga sempat menikah tapi pada akhirnya dia tidak pernah ingin lepas dari pak Alon."


Alis wanita itu mengerutkan dahinya penuh tanya "maksudmu Kelly sudah menikah?"


Adam menganggukkan kepala, "ya, tapi Kelly tidak mencintai suaminya saat ini. Karena pernikahannya didasarkan perjodohan lagipula mereka juga sudah bercerai." Adam berhenti sejenak, "perjuangan Kelly sangat besar sehingga perusahaan Reid bisa sampai sebesar ini."


Syha mengalihkan tatapannya, lalu untuk apa Alon meminta nya menjalankan kesepakatan untuk mengubur perasaan nya kepada pria mana pun selama pernikahan mereka? Tapi kesepakatan itu tidak berlaku pada Alon, nyatanya pria itu menyembunyikan perasaannya kepada Kelly.


Lekukan di bibir wanita itu terasa hambar "mereka sangat serasi"


Adam manggut-manggut "Ya, jika nona ingin tahu," pria itu menoleh "pak Alon sempat berniat untuk menikahi Kelly."


Syha memandang tak percaya "Benarkah?"


"Ya, tapi saat itu dia menghamilimu dan harus menikah. Pak Alon tidak bisa menjalankan amanah yang ditinggalkan mendiang ayah Kelly."


Penjelasan Adam, terbesit rasa penyesalan di hatinya. Seharusnya Syha tidak terlalu mabuk dimalam itu, kalau tau begini Alon tidak perlu bertanggung jawab untuk menikahinya.


"Mungkin aku harus melunasi tebusan itu lebih cepat," imbuh Syha. Dengan cara ini ia bisa membebaskan Alon untuk memilih wanita yang dia cintai.


Suara tak asing menegur keduanya dari belakang "Syha apa yang kau lakukan disini?" Tatapan pria itu bertukar ke arah asistennya yang tampak asik berbincang dengan istri nya "Adam bicara apa kau padanya?"


Adam menegakkan tubuh untuk berdiri "Wih santai pak, kami cuman cerita biasa-biasa aja."


"Ikut lah dengan ku," titah Alon menarik lengan wanita itu untuk mengikutinya.


Syha mengenyahkan genggaman Alon, didorong nya lengan itu untuk tidak mencengkram nya. "Tidak, aku ingin diluar saja."


Beriringan waktu, Syha terus menampik apapun perintah yang Alon katakan. Apa kehamilan terus membuat seorang wanita menjadi semakin keras kepala. "Kenapa kau terus menolakku?"


Helaan nafas berhembus dari mulut Syha "Bukankah sudah ada Kelly bersamamu?"

__ADS_1


Alon tertegun mendengar pernyataan itu.


__ADS_2