Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab. 9


__ADS_3

Udah seminggu aku meninggalkan rumah mama. Tinggal di apartemen seperti dulu.


Soal perusahaan, Adrian turut membantu. Sesuai janji yang pernah diucapkan.


Dalam sepekan ini, aku dua kali terbang ke Malang demi mengadakan rapat darurat. Untunglah, semua berjalan sesuai rencana. Aku memang harus berterima kasih kepada Adrian. Kalau tidak ada dia, entah apa jadinya perusahaan peninggalan papa ini.


Akhir pekan ini aku habiskan waktu untuk tidur saja. Anggaplah sebagai balas dendam waktuku yang terkuras memikirkan pekerjaan.


Alarm berbunyi menunjukkan pukul sepuluh pagi. Ya, perutku juga sudah sangat lapar.


Tidak ingin berlama - lama dengan kelaparan ini, aku pun segera memesan makanan via aplikasi hijau.


Sembari menunggu makanan datang, kuisi waktu dengan mandi. Rasanya, badanku lengket di mana - mana.


Berendam dengan air hangat membuat tubuh menjadi segar.


Usai mandi, aku bergegas berganti pakaian santai. Kaus oblong dengan celana gombrong selutut.


Tidak ada rencana apa pun hari ini.


Aku menyeduh kopi di ruang makan sembari menunggu pesanan datang.


Tidak lama kemudian bel berbunyi di pintu depan. Dengan langkah lebar, aku menuju pintu membukanya dengan semangat.


Sesuai dugaan sang kurir pengantar pesanan telah berdiri di depan pintu dengan tentengan plastik di tangan.


Tanpa perlu basa - basi, apalagi jika harus menanyakan siapa namanya, rumahnya di mana, ke sini tadi macet enggak. Pertanyaan tidak bermutu alias enggak penting itu.


Aku segera mengambil tentengan plastik yang dia ulurkan, bertukar dengan lembaran uang yang aku berikan. Selesai.


Herannya, kakiku masih terpaku di lantai saat kurir itu berlalu pergi.


Kurang kerjaan apa coba, aku harus memandanginya dari belakang. Menatap punggungnya meninggalkan unit apartemenku.


Satu hal yang membuatku penasaran. Rambut hitam legamnya yang panjang, aku tebak dikuncir kuda itu, bergoyang - goyang saat langkah kakinya bergerak.


Apakah kurir itu wanita?


Ah, tadi bahkan aku tidak bisa melihat bagaimana wajahnya.


Dia memakai masker beserta kacatama. Dan kami memang tidak seakrab itu untuks sekadar saling tanya.


Sialan!


Apa sekarang kerjaan ini aku sekarang?


Memandangi punggung yang berbalut jaket hijau itu, sampai dirinya hilang dari pandanganku.


Haish. Benar - benar.


Aku yakin, kalau cacing di perutku ini tidak bersuara entah yang akhirnya mengembalikan kesadaranku ke bumi. Pastilah entah sampai kapan aku akan berdiri di sini. Mungkin sampai tumbuh jamur di kepala.


Aku cepat - cepat masuk kembali. Tidak lupa menutup pintu unit apartemen ini.


Lalu segera ke meja makan, meletakkan bungkusan berisi pesananku tadi.

__ADS_1


Setelah mengambil piring, mangkok, beserta sendok dan garpunya. Aku pun membuka bungkusan itu. Meletakkan menunya secara terpisah.


Menyantap makanan dengan lahap, sampai akhirnya kembali terbayang rambut panjang yang bergerak - gerak tadi.


Aku menggeleng. Ada - ada saja. Itu hanya seekor rambut dan anehnya mampu membuatku berdebar.


Apa sebegini ngenesnya seorang duda?


Duda keren seperti aku.


***


Suara dering ponsel mengusik ketenanganku. Menghancurkan mimpi indah dalam tidurku.


Suaranya yang berulang - ulang, memaksaku bergerak mencari keberadaannya. Setelah didapat, segera aku menggeser ikon berwarna hijau dengan mata menyipit, lantas meletakan benda pipih itu ke telinga.


"Halo," sapaku dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Halo, Tuan," suara balasan dari seberang sana memaksaku membuka mata lebar - lebar. Kepalaku langsung terasa sakit sangking kagetnya.


"Ngapa, Bik?" tanyaku khawatir.


Aku melihat layar, memeriksa si pemanggil yang berani - beraninya mengganggu tidurku.


"Mama," lirihku.


"Itu, Tuan. Nyonya besar sakit. Sudah saya minta untuk ke rumah sakit, enggak mau. Harus gimana , Tuan?" Suara Bibik terdengar khawatir.


"Kamu enggak nge prank aku, 'kan?" tanyaku hati - hati.


"Nge prank. Mainin aku, bilang mama sakit ternyata enggak. Ngerjain, Bik. Ngerjain," jawabku penuh penekanan.


"Walah, ya enggak berani. Ini saya khawatir banget. Nyonya besar badannya panas tinggi, terus negigauin Tuan terus dari tadi. Makanya beraniin diri telepon pakai hp nyonya besar."


"Oke. Tunggu bentar. Aku pulang."


Aku memutus panggilan sepihak tanpa meminta persetujuan Bibik itu, apalagi mengucapkan salam perpisahan. Oh no.


Tanpa berganti pakaian, aku bergegas keluar menuju mobil di parkiran dengan langkah setengah berlari.


Sesampainya di mobil, kulakukan kendaraan itu dengan kecepatan tinggi. Membunyikan klakson sesering mungkin, agar kendaraan yang lain tahu jika aku sedang buru - buru.


Kurang dari satu jam perjalanan, aku telah sampai di rumah mama.


Dengan cepat, turun dari mobil. Menutup pintunya dengan keras. Aku menuju rumah dengan berlari, sampai ke kamar mama.


Di sana tampak beberapa asisten rumah tangga tengah berjaga - jaga.


"Udah panggil dokter?" tanyaku saat memasuki kamar.


"Belum, Tuan," jawab salah satu dari mereka dengan tertunduk.


"Bodoh!" umpatku kesal.


"Nyonya enggak mau, Tuan. Nunggu Tuan datang."

__ADS_1


"Kalau terjadi apa - apa sama mama. Kalian tanggung jawab," ancamku. "Telepon dokter sekarang!" perintahku ketus.


Setelah itu, kamar sepi. Beberapa orang tadi keluar kamar meninggalkan aku dan mama saja.


"Apa yang terjadi, Ma?" tanyaku cemas. Lantas duduk di pinggir ranjang.


Tanganku terulur memeriksa kening Mama. Panas.


"Kalau terjadi apa - apa sama Mama. David enggak akan bisa maafin diri David sendiri," gumamku menyesali diri.


Mengingat telah sepekan ini mengabaikan panggilan telepon Mama, mengabaikan pesan dari Mama. Aku memukul kepala sendiri. Merutuki diri atas kebodohan dan kecerobohan yang telah aku lakukan.


Mama sudah terlalu untuk memikirkan segala sesuatu yang menyangkut anaknya. Seharusnya Mama sudah hidup dengan santai, bahagia dan tenang.


Dasar bodoh, bego.


"David, kamu pulang, Nak?" tanya Mama dengan bibir bergetar.


Mama tampak sangat lemah.


"Iya, Ma. Ini David. Maafkan anakmu ini, Ma," sesalku sembari mencium punggung tangan Mama penuh ketakziman.


Dalam hati aku mengumpat, kenapa dokter lama sekali datangnya.


"Kita ke rumah sakit, ya ... Ma," pintaku pelan.


Namun, Mama menggeleng pelan sembari tersenyum.


"Enggak usah. Mama di sini aja. Palingan besok juga sembuh, kok. Cuma kecapean aja."


"Kecapean kenapa, Ma? Kayak kerja nguli aja."


"Capek mikiran kamu. Mbangkang terus jadi anak. Mama cuma minta kamu segera menikah. Tapi enggak bisa dituruti," omel Mama.


"Yah, Mama. Jodoh, ' kan, David enggak bisa nyepetin sendiri, Ma," ujarku membela diri.


"Makanya nurut. Besok satu kali saja kamu nurut, datang ke pertemuan terakhir itu. Ya!" pinta Mama.


"Ya ampun, Mama. Lagi sakit juga masih mikirin hal enggak penting gitu."


"Kamu bilang itu enggak penting .... kamu ...."


Belum selesai Mama dengan omelannya. Dokter panggilan telah datang.


Setelah memeriksa dan memberikan obat, dokter itu pun segera pamit.


"Denger, Ma. Kata dokter tadi. Mama harus banyak istirahat. Jangan banyak pikiran."


"Pokoknya kamu besok harus datang. Mama janji ini yang terakhir."


"Ma."


"Kalau enggak mau, ya sudah sana pergi. Mama mau diurus pembantu aja."


"Oke. Oke. David akan datang besok."

__ADS_1


Mama tersenyum puas. Sedangkan aku tersenyum kecut.


__ADS_2