Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab. 13


__ADS_3

Hah. Aku mengembuskan napas. Rasanya, dadaku sesak.


Hari apa ini?


Kenapa hari ini aku sangat sial?


Akan tetapi, adakah hari sial? Ah, aku rasa tidak ada. Semua hari adalah baik. Bagaimana bisa aku menganggap ada hari sial?


Aku segara menghubungi pengacara, memintanya mengurus mobilku yang ditilang di kantor polisi karena parkir sembarangan.


Ingat, ya! Jangan parkir sembarangan.


Bisakah aku menyalahkan Aqila, sebab karena mencarid dia, 'kan, aku tidak melihat plang dilarang parkir.


Setelah dirasa semua beres, aku langsung pulang ke rumah. Mood - ku rusak karena kejadian tadi. Rasanya akan sia - sia jika aku memaksakan diri ke kantor dan mengurus pekerjaan. Yang ada, akan malah semakin menyulut emosi menghadapi para karyawan yang bisa saja membuat ulah ataupun masalah lain.


Aku memilih memesan taksi online ketimbang meminta jemput sopir. Kelamaan. Huft.


Baiklah, lupakan sejenak tentang wanita bernama Aqila itu. Fokus pada diriku sendiri. Menghadapi Mama di rumah dengan segala keomelannya.


Mobil berhenti di depan gerbang. Setelah membayar dan mengucap terima kasih, aku pun bergegas turun. Usai menutup pintu mobil, aku melangkah lebar memasuki gerbang yang terbuka.


"Siang, Bos. Mobilnya mana? Kok naik taksi?" tanya satpam tidak punya sopan santun.


Sejak kapan bawahan mengurusi atasannya.


"Lu, enggak usah bersisik," sinisku yang langsung membuat si satpam memundurkan langkah. Sedetik kemudian lelaki itu membungkuk hormat, lantas mengucapkan maaf berulang kali.


Aku mengabaikannya, kemudian mengibaskan tangan tanda tidak peduli.


Melangkah cepat meninggalkan lelaki itu menuju rumah.


Lelah. Itulah yang aku rasakan saat ini.


Lelah hati. Lelah fisik. Lelah fikiran.


Sesampainya di ruang tamu, kepalaku celingukan mencari sosok wanita yang biasanya duduk di sofa itu, menunggu kepulangan anaknya. Sekarang, sofa itu tampak kosong. Entah ke mana, Mama.


"Bik!" Aku memanggil siapa saja yang bisa mendengar suaraku.


Tidak ada sahutan. "Bik!" ulangku.

__ADS_1


"I-iya, Tuan. Maaf lagi di belakang," ujar Bik Rom dengan napas tersengal.


"Mama mana?" tanyaku tanpa basa - basi. Apalagi harus menanyakan napasnya yang putus - putus.


"Nyonya sedang keluar, Tuan," jawabnya masih dengan napas tersengal.


Aku berdecak kesal. Lalu mengusirnya dengan isyarat tangan.


Tidak perlu menunggu suaraku. Wanita paruh baya itu bergegas meninggalkanku sendiri.


Lantas , aku pun pergi ke kamar. Merebahkan diri sepertinya menyenangkan. Mengurangi lelah.


Baru saja tubuhku merasakan empuknya kasur, bayangan wajah Aqila berkelebatan di mata. Sontak, aku pun berjingkat.


Bangun dari ranjang, kemudian menuju kamar mandi. Kau harus berendam guna mendinginkan kepalaku yang panas. Rasanya sampai keluar kebulan asap di sana.


Sekitar satu jam aku berendam di air hangat, sampai tertidur di sana.


Bangun - bangun karena mendengar gedoran di pintu kamar mandi. Pasti Mama.


"David, kamu di dalam!" seru Mama.


"Ya, Ma!" balasku malas. Aku masih ingin berlama - lama di sini. Rasanya memang tidak ingin kembali ke dunia nyata. Tiduran saja, mimpi indah.


Aku berjalan dengan handuk terlilit di pinggang. Tidak memedulikan badan dan rambut yang masih basah, aku membuka pintu.


Tampak Mama tengah berkacak pinggang, wajahnya menyiratkan kegelisahan. Beliau pun mondar mandir di dekat ranjang.


"Ada apa, Ma?" tanyaku. Sesekali menggelengkan kepala membuat lantai keramik ini terciprat air yang bersumber dari rambutku yang basah.


"Mama dengar kau tadi berurusan dengan polisi. Apakah sudah beres?" tanya Mama khawatir begitu menoleh ke arahku.


"Sudah. Udah diurus sama Tomi. Malas David mengurusnya. Kenapa?" Aku berjalan ke lemari, memilih baju dan celana secara asal.


"Kau ini. Kenapa sampai berurusan, sih?" Mama berdecak kesal. Kemudian duduk di sofa di pinggir ranjang.


"David asal parkir tadi karena buru - buru," jawabku sembari memakai kaus oblong yang telah aku ambil tadi.


"Buru - buru kenapa?" Mama menoleh ke arahku. Matanya menatap lekat, menunggu jawaban dariku.


"Ma, aku mau pakai celana. Mama keluar dulu saja." Aku bersiap mengenakan celana pendek.

__ADS_1


Bukannya pergi, Mama malah semakin mendelik tajam padaku. Salah apalagi anakmu ini, Ma?


"Kamu ini, enggak sopan. Masak Mama diusir dari kamar anak Mama sendiri. Apa kamu lupa dari mana kamu dilahirkan? Dari perut Mama, David. Bisa - bisanya kamu mengusir Mama dari sini," omel Mama.


"Aku cuma mau pakai celana. Enggak ngusir Mama dari rumah ini," kesalku.


Celana yang hendak aku pakai, aku sampirkan ke pundak.


"Lagian, kamu ya ... bukannya ganti di kamar mandi. Malah ganti di sini, di depan orang tua. Gak sopan," ujar Mama.


"Iya, Maaf. Kalau gitu aku pakai celananya di sini aja, deh." Dengan santainya aku mengenakan celana. Setelah itu duduk di sofa di samping Mama.


"Aww!!!" Mamas selalu begitu, menjewer telingaku sepertinya menjadi kesenangan sendiri di hatinya. Ah, Mama.


"Dasar, bandel. Udah jadi duda masih aja bandel kayak anak kecil," cicit Mama. "Terus, ngapain tadi kamu buru - buru di jalanan. Lagi ngejar calon mantu mama begitu?"


Eh. Kok Mama bisa tahu. Padahal aku belum menceritakan masalah Aqila kepada siapa pun. Termasuk Mama.


Atau, jangan - jangan, Mana cuma main tebak - tebakan saja.


Aku berpikir sejenak. Apa mungkin karena saat itu aku menceritakan sudah bertemu dengan wanita yang Mama janjikan dan ternyata salah orang?


"Dari mana Mama bisa menebak begitu?" tanyaku dengan tatapan lekat pada wanita yang telah mempertaruhkan nyawa untukku itu.


"Anggap saja feeling. Feeling seorang ibu itu seringkali benar. Anaknya mungkin enggan menceritakan keluh kesahnya atau pun merasa sungkan menceritakan rasa sedihnya. Bisa jadi, karena dia tidak ingin sang ibu menjadi sedih. Namun, ketahuilah David. Seorang anak telah tinggal di dalam perut seorang wanita berstatus ibu selama sembilan bulan. Makanannya apa yang dimakan ibunya, napasnya adalah napas ibunya." Mama menjeda kalimatnya.


Kemudian melanjutkan, "untuk itulah, seorang ibu memiliki ikatan batin yang kuat kepada anaknya. Jadi, siapa wanita itu?"


"Aku belum lagi bertemu dengannya, Ma. Orangnya susah untuk ditemukan," jawabku lemah.


"Siapa pun dia, jangan sekali - kali kamu menyakiti hatinya. Cukup sekali saja kamu menyia - nyiakan rasa tulus dari seorang wanita. Mempermainkan pernikahan kalian. Bahkan berpisah. Jangan kamu lakukan lagi. Kali ini saja ... berjanjilah pada Mama kamu akan sungguh - sungguh."


"Iya, Ma. Aku janji," balasku. "Mama beneran enggak akan lagi nyari - nyari wanita lain untuk dikenalkan untukku?" tanyaku ragu.


"Kenapa?" Mama malah balik bertanya.


"Ya, enggak. Soalnya, aku mau nyari tentang wanita itu. Aku ngerasa ada sesuatu yang tidak aku mengerti. Mungkin penasaran atau rasa ... entahlah."


Aku menggeleng. Bayangan wajah Aqila kembali melekat di pelupuk mata.


"Lihat kondisinya nanti. Kalau kamu kelamaan menemukan wanita itu. Ya ... terpaksa Mama Carikan wanita lagi," ujar Mama.

__ADS_1


"Ma, aku sudah dewasa. Bukan anak kecil lagi," protesku.


"Buktikan. Bawa dia kemari menemui Mama."


__ADS_2