Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab. 34


__ADS_3

"Iya, Bang?"


Wajah Aqila terlihat di layar yang aku letakkan di atas meja bersandar beberapa tumpukan buku. Dia sepertinya baru selesai mandi, tampak dari belitan handuk di kepalanya lalu wajahnya juga terlihat segar.


"Kamu baru selesai mandi ya?" Aku balik bertanya dengan dahi berkerut.


"Iya. Baru selesai mandi. Badannya lengket ...."


Aku menganggukkan kepala tanda mengerti. Lantas memulai suapan pertama yang tadi sempat tertunda.


"Lho, Abang baru makan siang ya? Telat banget dong makannya. Makan aja kalau gitu, nanti malah keganggu lagi karena kita teleponan begini," katanya cepat.


Wah. Sifat cerewetnya wanita itu sudah keluar. Aku jadi semakin yakin jika dia benar benar telah sembuh dari sakitnya.


"Jangan dimatikan. Aku lagi malas makan sendirian, makanya telepon," sahutku sebelum dia memutus panggilan kami.


"Oh, itu. Tapi ... aku mau ganti baju dulu, Bang. Soalnya ...."


Sejenak, Aqila tampak ragu. Aku melanjutkan suapanku selanjutnya. Lapar sekali rasanya.


"Ganti baju aja." Aku berkata santai. Kemudian tersenyum tipis saat melihat mata Aqila yang mendelik garang.


"Enggak lah, nanti aja. Abang makan aja dulu," sahutnya ketus dengan pipi yang tampak merona.

__ADS_1


Gemes.


"Malu?" Aku justru berniat menggoda. Aku tak berniat untuk mengalihkan tatapan. Rasanya, sangat sayang sekali jika harus melewatkan pemandangan di hadapanku itu. "Aku sudah melihat semuanya," kataku lagi lalu tertawa terbahak saat Aqila justru menutup mukanya dengan satu tangan. Mengundang tawa puas dari diriku.


Sesuatu yang terlewat dari kesadaran ku adalah bahwa aku masih dalam kegiatan mengunyah makanan. Sehingga, tawaku tadi membuatku tersedak.


Aku terbatuk-batuk. Sampai ... tenggorokanku terasa sakit sekali. Menjalar ke hidung sampai ke telinga.


"Bang! Abang!" Seruan Aqila terdengar panik.


Aku mengabaikannya sesaat. Sebab, sedang sibuk meredakan batukku dengan minum air mineral dalam botol. Menghabiskan air itu secepat mungkin untuk mengurangi rasa sakit ini.


Napasku tersengal. Aku seperti habis keliling maraton saja.


"Abang enggak kenapa-kenapa?" Pertanyaan Aqila pertama kali saat aku kembali menatap layar ponsel.


"Tadi sakit banget ya?" tanya Aqila masih dengan nada khawatir dan tatapan cemas.


Ugh. Ternyata menyenangkan karena mendapatkan perhatian dari istri sendiri.


"Iya. Tapi sekarang udah enggak kok. Tak perlu khawatir," kataku memberikan ketenangan. "Masalahnya sekarang, perutku sudah kenyang karena menghabiskan air satu botol--"


Belum tuntas aku berkata. Tawa Aqila menyembur begitu saja.

__ADS_1


"Abang, sih, lagi makan juga malah godain aku," protesnya.


"Hahahaha. Iya. Jadi kesedak makanan," balasku.


Lantas, suasana mendadak hening. Aku kehabisan kata kata untuk memulai percakapan dengannya. Tampaknya, Aqila juga demikian. Ia membisu sesekali menunduk lalu membalas tatapanku yang masih tetap fokus melihat padanya.


Suara ketukan di pintu ruang kerjaku itu memecah keheningan di antara kami. Aku menoleh sesaat bersamaan dengan terbukanya pintu ruanganku lalu sosok gadis kecil yang berlari dengan ceria.


"Om David!" Seruan itu terdengar lantang sekaligus renyah di telinga. Menciptakan suasana sunyi yang tadi sempat mendominasi, berganti dengan suara ceria dan keramaian.


Tatapanku terpaku pada seorang wanita yang berjalan bersama Adrian. Decak kesal keluar begitu saja dari bibirku. Saat melihatnya, degup jantung masih saja tak mampu berkompromi.


"Siapa, Bang?" Pertanyaan itu.


Oh, sial! Aku lupa jika masih berteleponan dengan Aqila istriku.


Belum sempat aku menjawab pertanyaan itu saat tiba-tiba, Putri duduk di pangkuan.


"Halo, Tante!" sapa Putri.


"Oh, halo. Ke sana sama siapa?" tanya Aqila penuh selidik.


"Sama mama dan sama papa. Aku kangen mau ketemu Om David," terang Putri dengan polosnya.

__ADS_1


"Oh ya udah kalau gitu. Selamat bersenang-senang sama Om David yaa. Dadah!"


Aqila yang berinisiatif memutuskan panggilan kami. Tanpa berpamitan kepadaku, layar begitu saja mati lalu menggelap.


__ADS_2