Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab. 37


__ADS_3

Pagi ini terasa berbeda. Ya, jika di hari -hari sebelumnya terlewati dengan sikap permusuhan dalam balutan kebencian, lalu berubah menjadi hari yang indah dengan bayangan menyenangkan.


Pagi ini, aku merasa ada yang berbeda dari Aqila. Entah karena apa?


Dia bersikap dingin?


Oh, tidak.


Semalam kami menghabiskan malam dengan indah dan penuh kehangatan. Berulang kali pula, namaku disebut oleh suara indahnya. Tidur dalam selimut yang sama setelah berbagi peluh.


Aku masih ingat betul jika tak terjadi apa -apa di antara kami. Tak ada masalah apa pun yang terjadi. Semua baik -baik saja.


Aku tidur memeluk tubuh Aqila dengan kepalanya yang berantakan pada lenganku.


Tak ada yang salah. Semua pas dalam tempatnya.


Akan tetapi, setelah mataku terbuka dan mendapati tempat di sampingku telah kosong. Kemudian, di menit yang lain aku melihat Aqila yang menyiapkan pakaian kerjaku. Di sana aku menangkap wajah sendunya. Aku bisa melihat jika dia sering melamun. Tatapannya entah menerawang ke mana. Kosong. Seperti ada yang dipikirkan.


"Kamu kenapa?" tanyaku begitu saja. Tak tahan sekali rasanya melihat dirinya yang seperti orang bodoh, berjalan ke sana kemari.


Salah ambil baju, lalu salah ambil celana. Wah, tidak bisa dibiarkan itu.


Aku segera turun dari ranjang. Menghampiri istriku itu.

__ADS_1


Lihatlah wajah kagetnya itu! Seperti tidak menyadari jika ada aku di kamar ini.


"Kamu kenapa? Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?" tanyaku berkali -kali dan sangat menyebalkan saat dia hanya menjawab dengan gelengan kepala saja.


Aku merangkum kedua pipinya agar dia menatap mataku. Dan, aku menahan kepalanya saat dia hendak menunduk kembali.


"Apa ada masalah yang mengganggumu?" tanyaku lagi. Ibu jariku mengelus pipi Aqila yang halus.


Lagi.


Dia menggeleng pelan.


"Beneran?" tanyaku lagi memastikan.


"Abang harus segera bersiap berangkat. Hari sudah semakin siang," kata Aqila lalu berjalan menuju meja meletakkan bajuku di atas sana. Dia bergerak cepat membereskan ranjang. Mengganti seprai, sarung bantal juga selimut dengan yang baru.


Beberapa saat, aku hanya terpaku melihat setiap gerak gerik Aqila saja. Wanita itu begitu cekatan serta terampil melakukan semua pekerjaan ini.


"Apa kamu lelah?" Suaraku bergumam begitu saja mengajukan pertanyaan untuk Aqila.


"Iya?" Sejenak, Aqila menghentikan gerakannya. Memandangku lurus dengan tatapan bertanya. "Oh, enggak. Aku sudah terbiasa melakukannya. Pekerjaan ini menyenangkan bagiku," katanya melanjutkan ucapannya.


Aku mengangguk. Merasa lega atas apa yang ia katakan sebagai jawaban atas pertanyaan yang aku ajukan. Kemudian, tanpa berkata -kata lagi. Aku pun segera masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Ya. Aku harus segera bersiap berangkat ke kantor karena waktu terus bergerak. Tak ingin mendapatkan ledekan lagi dari Adrian karena datang terlambat seperti hari kemarin.


Sepuluh menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi. Masih dengan rambut yang basah, aku mengambil pakaian dalam. Memakainya dengan segera.


"Abang, rambutnya masih basah."


Aqila membuka pintu kamar lalu berjalan tergesa menghampiriku setelah sebelumnya meletakkan nampan di atas meja, lalu membawa pakaian kerjaku dan meletakkannya ke atas ranjang. Dia bergerak cepat mengambil handuk kecil, lalu meraih tanganku agar duduk di tepi ranjang mengikuti dirinya.


Aku menurut saja. Seperti seorang bocah yang menurut pada ibunya. Ah, sedangkan aku ini seorang suami yang menurut pada sang istri. Romantis sekali bukan apa yang aku lakukan sekarang.


Aku diam saja saat Aqila mengeringkan rambutku dengan handuk kecil itu. Kemudian, dia beranjak membuka laci pada meja rias mengambil pengering rambut. Selanjutnya, dia mengeringkan rambutku. Semua dilakukan dalam waktu cepat dan dalam kebisuan. Sebab, aku pun sedang tak ingin bertanya macam -macam padanya.


Hanya ingin menikmati moment ini saja.


Tunggu dulu ....


"Aqila," panggilku. Bersamaan dengan dirinya yang mematikan mesin pengering rambut itu. Meletakkan benda itu kembali ke dalam laci. Kemudian mengambil pakaian kerjaku, memasangkannya pada tubuhku. "Kemarin kenapa kamu tidak berpamitan padaku saat memutus panggilan dengan Putri?" tanyaku penasaran.


Sebenarnya, malam tadi ingin aku tanyakan perihal itu. Namun, hal -hal yang telah aku lalui membuatku lupa pada apa yang bercokol di kepala.


"Oh, aku pikir ... Abang sedang sibuk berbincang dengan Kak Anna. Putri datang bersama mamanya, 'kan?"


"Iya. Dia datang bersama mamanya. Tapi, kamu bisa berpamitan padaku kan, bukan malah langsung menutup panggilan begitu?" protesku.

__ADS_1


"Aku buru-buru " Aqila menjawab singkat dan sepertinya dia sedang tak ingin membahas masalah ini. Mungkin, dia memang sedang buru-buru.


__ADS_2