Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab. 59


__ADS_3

Hari ini, aku tidak berangkat ke kantor. Mana mungkin aku tega meninggalkan Aqilla sendirian di rumah sakit ini. Walaupun keadaan istriku itu sudah baik-baik saja.


Hari ini, kami akan pulang. Akan tetapi, aku memilih pulang ke rumah di siang hari agar bisa langsung berangkat menuju kantor polisi.


Sebenarnya, aku belum menceritakan perihal permintaan petugas agar Aqilla menjadi saksi tentang lelaki asing hari itu. Nanti, usai sarapan aku akan mengatakan padanya.


Berita mengenai kehamilan Aqilla sudah aku katakan pada Mami. Seperti apa yang aku bayangkan, wanita yang telah melahirkan aku itu sangat bersemangat agar aku dan Aqilla tinggal bersamanya. Ya, aku sih setuju saja, tetapi belum membicarakan masalah ini dengan Aqilla.


Oh, ternyata banyak rencana yang harus aku kerjakan pagi ini. Selain masalah menyelesaikan pekerjaan tentu saja.


Aku menoleh ketika terdengar suara ketukan dan pintu terbuka. Perawat membawakan sarapan untuk Aqilla. Aku pun segera meninggalkan pekerjaanku, lalu mendekati ranjang istriku itu.


Setelah hanya tinggal kami berdua, aku pun segera mengambil sarapannya Aqilla.


"Sarapan ya, aku suapi," kataku lembut.


"Aku mau makan sendiri, Bang," tolak wanita itu.


Aku mendecakkan lidah pelan. Dari kemarin, Aqilla ingin melakukan semua hal sendiri. Padahal, aku siap sedia menjadi tangan dan kakinya. Wanita ini.


"Biar aku suapi. Aku ingin menyuapi istriku yang cantik ini," kataku lembut sembari mengedipkan mata. Aku sengaja menggodanya. Benar kan, pipinya berubah warna menjadi kemerahan. Manis sekaligus menggemaskan sekali.


Setelah beberapa kali suapan, Aqila menggeleng.


"Makannya dikit sekali, sih? Perutnya mual atau mau makan yang lain? Kata dokter enggak ada pantangan makanan kan?" kataku penuh penekanan dan terus mencoba bersabar menghadapi Aqilla yang sekarang.

__ADS_1


"Udah kenyang. Mau makan buah aja," sahutnya merengek.


Oh, manja sekali Aqilla sekarang ini.


"Baiklah. Mau makan buah apa, Sayang?" Aku mengalah, demi kebaikan bersama dan demi kesejahteraan bersama.


"Makan anggur saja." Aqilla menjawab masih dengan rengekan manja.


"Baiklah, Tuan Putri. Akan paduka laksanakan titah, Tuan." Aku sengaja membungkuk, layaknya pelayan yang memberi hormat.


"Abang keberatan ya?"


Bukannya tertawa, wanita menggemaskan itu justru mencebikkan bibir.


"Siapa yang keberatan, sih? Enggak ada yang keberatan, kok. Aku malah senang melakukannya. Memintalah apa pun padaku. Oke?" Aku tersenyum lembut, mendekatkan wajah dan mengecup keningnya. Kemudian segera mengambil buah yang dia minta untuk dicuci.


"Oke. Sembari kamu makan. Aku akan bercerita. Dengarkan dengan seksama ya," kataku layaknya berkisah pada anak kecil.


"Apa itu? Aku akan siap mendengarkan? Kalau tahu Abang bakalan manis begini, aku akan sering sering hamil saja," katanya dengan senyum lebar sekali.


"Wah, aku suka kalau kamu hamil terus, Aqilla. Setalah anak pertama kita lahir, kita harus segera program anak kedua dan anak selanjutnya. Oke?"


"Ha? Apa apaan itu? Enggak gitu juga kali, Bang. Aku juga butuh istirahat," protes Aqilla sambil memukul lenganku dengan pukulan ringan.


Aku begitu saja tertawa. Rasanya menyenangkan bisa bercanda ria seperti ini dengan Aqilla. Perasaan ini sangat membahagiakan.

__ADS_1


"Baiklah. Tapi, proses pembuatannya harus dilakukan setiap waktu."


Beberapa saat hening. Kemudian, "Itu sih, maunya Abang."


Rupanya, butuh waktu bagi Aqilla untuk mencerna godaanku itu. Polos sekali dia.


"Cepet! mau cerita apa?"


Wajah Aqilla kini merah sepenuhnya. Dia malu.


"Aku sudah memberi kabar tentang kehamilan kamu pada Mami. Dan beliau sangat bahagia sekali, terus ... Mami minta agar kita tinggal bersamanya sekarang. Bagaimana menurut kamu?"


"Aku sih mau aja, enggak masalah. Yang penting aku tinggal sama Abang, mau di mana pun aku mau."


"Ugh, manis sekali istriku ini. Terima kasih, Sayang." Aku mengelus pipi Aqilla. "Lanjutkan makanmu sambil mendengarkan cerita selanjutnya."


Aqilla mengangguk setuju, dia pun menyuap anggur ke mulutnya. Lantas, menyuapkan anggur itu gantian ke mulutku.


Aku mengunyah anggur di dalam mulut dengan cepat dan segera menelan. Setelah itu, kembali melanjutkan cerita.


"Hari ini kami sudah bisa pulang, dan aku memutuskan kita pulang di waktu siang saja. Selain karena ingin makan di restoran berdua denganmu, aku butuh bantuanmu untuk memberikan keterangan soal lelaki aneh yang mengganggumu di mall kemarin."


Tubuh Aqilla tampak menegang.


"Kamu mau kan? Kalau kita pergi ke kantor polisi. Keterangan darimu bisa menjebloskan dia ke penjara dan mengurung lelaki itu lebih lama.".

__ADS_1


Aqilla membuang wajah. Dia menghentikan makannya. Hingga beberapa menit berlalu, tidak ada suara yang dia keluarkan. Aku tidak sabar menunggu cerita dari Aqilla.


__ADS_2