Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab. 50


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, aku ikut berbaring di samping Aqilla. Memeluk tubuh itu dengan erat. Sesekali, aku mengusap lengannya untuk memberikan ketenangan. Tidak lama kemudian, aku pun ikut terlelap.


Saat mataku terbuka, Aqilla sudah tidak ada di sampingku. Aku pun terlonjak kaget dan mencari keberadaan istriku itu. Perasaan cemas dan khawatir bercampur aduk di dalam dadaku. Dia sedang dalam keadaan sakit.


"Aqilla! Aqilla!" Aku terus berseru memanggil namanya, mencari keberadaan istriku itu. Ke mana dia?


Sampai pada akhirnya, diriku sampai di dapur dan melihat Aqilla sedang tertawa dengan pelayan rumah tangga kami. Wajahnya terlihat lebih segar dari saat sebelum tidur tadi.


"Aqilla. Sayang ...." Aku melangkah lebar mendekati Aqilla dan langsung memeluk tubuhnya begitu saja. Tak lupa, aku mencium pelipis wanita itu berulang kali. Menunjukkan kelegaan karena telah menemukannya.


"A ... bang, malu. Ada Bibik di sini," desis Aqila mengingatkan.


"Siapa yang peduli?" kataku, lalu kembali mencium pelipisnya dan kini kedua tanganku menangkup kedua pipi Aqilla, membawanya mendongak untuk membalas tatapanku. Sedetik kemudian, aku mencium bibirnya.


Bisa kudengar langkah kaki yang menjauh dari sini, disertai suara cekikikan dari para pembantu.

__ADS_1


"Aku mencarimu ke mana-mana," kataku setelah wajah kami berjarak. "Enggak tahunya di sini, lagi ketawa ketiwi sama mereka," keluhku kemudian.


"Iya. Aku lagi lihat bahan-bahan apa saja yang enggak ada di dapur. Kita jadi belanja, 'kan?" kata Aqilla dengan binar yang tidak bisa disembunyikan dari matanya. Kedua pipinya tampak bersemu merah.


"Beneran kamu udah enggak kenapa-kenapa? Aku enggak mau nanti kamu malah sakit lagi kayak tadi. Aku khawatir banget tadi," jelasku tanpa ada yang dibuat-buat. Ucapan itu jujur dari dalam hatiku.


Setelah pertengkaran-pertengkaran yang terus terjadi di rumah tangga kami waktu itu, aku mulai berpikir agar bisa mengurangi ritme pertengkaran itu. Terlebih saat melihat Aqilla sakit. Rasanya ... sangat meresahkan dan membuat jantungku seakan berhenti berdetak. Tidak ada perasaan yang lebih menakutkan dari itu. Maka, aku pun berjanji akan memperbaiki semuanya, terutama sikapku yang ya ... bisa dibilang suka semaunya sendiri.


Aqilla tersenyum lembut. Lantas, gantian kedua tangannya yang menangkup kedua pipiku. Dia berjinjit, kemudian mengecup bibirku singkat. Oh, mana bisa aku mendapatkan salam cium tempel begitu. Aku pun segera meraih belakang kepalanya, memberikan sesuatu yang lebih dan manis. Satu tanganku meraih pinggangnya agar tubuhnya tetap bertahan pada posisi ini.


"Janji apa?" tanya Aqilla dengan mata mengerjap lucu.


"Janji ... kalau kamu merasa capek, harus segera bilang padaku," kataku dengan tangan mencubit hidungnya. Gemas sekali.


"Baiklah. Aku akan langsung bilang kalau merasa capek atau tidak enak badan," sambungnya kemudian.

__ADS_1


Sebuah senyum lebar terbit begitu saja di wajahku. Rasanya lega sekaligus bahagia dengan kesepakatan yang kami buat ini.


"Satu lagi."


"Ha? Apa lagi?" tanya Aqilla dengan mata memicing.


Aku begitu saja terbahak. Rupanya, sangat menyenangkan bisa menggoda Aqilla dan bercanda bersamanya.


"Kalau kamu lapar atau menginginkan sesuatu jangan ditahan-tahan. Oke. Kamu istriku dan semua hal yang ada padamu sudah menjadi tanggung jawabku," jelasku sembari tersenyum hangat.


"Baiklah. Aku setuju, Suamiku."


"Katakan sekali lagi!" kataku memberi perintah.


"Aku setuju, Suamiku Sayang ....."

__ADS_1


"Aku suka dengan panggilan itu."


__ADS_2