Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab. 56


__ADS_3

Seperti sebelumnya, saat bertemu dengan Adrian, kami pasti lupa waktu. Ada saja yang dibicarakan, mulai hal yang ringan sampai perkara perusahaan. Dan, kali ini tidak lupa si bapak satu yang akan menjadi bapak dua anak itu memberikanku wejangan seputar pernikahan.


Ya ... ya, kalau masalah wanita, aku memang selalu kalah dari sahabat rasa saudara itu. Dia pernah menikah sekali sebelum bersama Anna dan, di pernikahan sebelumnya Adrian tetaplah menjadi orang yang setia. Mantan istrinya yang meninggalkan lelaki menyedihkan itu.


Aku geleng geleng kepala membayangkan kehidupan Adrian sekarang telah berubah lebih baik dari kehidupannya yang dulu. Tentu saja sangat berbeda denganku. Di pernikahan sebelumnya, justru aku lah yang menjadi pihak pengkhianat.


"Kenapa lu?" Tampaknya, Adrian menyadari kegelisahanku sekarang ini.


"Enggak. Biasa aja." Aku menjawab cuek. Tatapanku beralih pada Anna yang kini juga tengah menatapku.


"Kuncinya itu emang setia dan jangan berlaku kasar. Baik suami maupun istri punya peluang yang sama dan tanggung jawab yang sama dalam hali ini. Istri juga kudu setia, juga kudu bersikap lembut. Begitupula dengan suami." Adrian merangkul bahu wanita yang duduk di sebelah. Keduanya saling bertatapan penuh arti, kemudian saling melempar senyum.


Adrian kembali menoleh padaku. "Orang yang berbuat jahat, pasti dapat balasan. Kalau enggak sekarang ya nanti. Hukum sebab akibat itu berlaku sampai kapan pun. Apa yang kita tanam, itulah yang pasti akan kita tuai," lanjutnya serius.


Aku mengangguk berulang kali. Mencerna setiap kalimat yang Adrian sampaikan.


"Eh, lu tumben enggak ngebantah gua bilangin." Adrian terkekeh.

__ADS_1


Sialan. Dia sengaja menggoda aku rupanya. Udah bener bener aku dengerin nasihat khas bapak bapaknya itu malah diledekin.


Tanganku cekatan mengambil tisu di atas meja, lalu melemparkan tepat ke wajah Adrian yang masih tersenyum mengejek itu. Seketika, gantian aku yang terkekeh melihat dia mengatupkan bibirnya rapat.


"Iya iya, gue udah mau berubah sekarang. Udah enggak mau main cewek lagi. Terus yaa aku harap ini adalah pernikahan terakhir yang aku jalani." Aku menjelaskan dengan hati hati.


"Good." Adrian mengacungkan jari jempolnya.


Aku yang mendapatkan pujian itu. Aku pula yang gemas sendiri. Aku menoleh pada Aqilla, menarik kepala wanita itu dan mencium pelipisnya.


Aku sangat lega. Seperti ada sebongkah batu besar yang terangkat dari dadaku. Rasanya sangat plong dan puas. Aqilla menoleh, membalas tatapanku lalu tersenyum manis.


"Makasih ya," ujarku tulus.


"Sama sama," sahut Aqilla dengan suara lembut.


Aku berpamitan pergi ke toilet. Beberapa menit menghabiskan waktu di toilet. Setelah itu kembali ke meja kami. Adrian yang membayar makanan yang kami pesan. Dari sini, aku bisa melihat mereka yang telah keluar dari restoran itu berjalan beriringan.

__ADS_1


Namun tiba tiba saja ada seseorang yang mendekat dan menarik tangan Aqilla dengan kasar. Detik itu juga, aku berlari mendekati lelaki itu. Namun, Adrian telah lebih dulu menerjang lelaki tersebut.


Aqilla tampak terempas di lantai, lalu ditolong oleh Anna. Kedua wanita itu menangis bersama diiringi jerit tangis Putri.


Aku langsung menghajar lelaki itu secara membabi buta. Sialan. Berani beraninya dia melukai istriku.


"Abang ...." Aku bisa mendengar rintihan Aqilla.


"David, bawa Aqilla keluar dari sini!" Seruan Adrian mengentak kesadaranku.


Aku segera membopong Aqilla yang terus merintih kesakitan.


"Apa yang sakit?" tanyaku khawatir.


"Perutnya sakit," jawab Aqilla lirih.


Aku sudah tidak sabar agar segera sampai ke rumah sakit terdekat.

__ADS_1


__ADS_2