Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab. 58


__ADS_3

Setelah hampir dua jam menunggu, aku pun bisa bernapas sedikit lega saat diperbolehkan menemui Aqilla.


Istriku itu terbaring di ranjang pasien seperti orang pesakitan saja.


"Gimana keadaan istri saya, Dokter?" tanyaku tidak sabar ketika langkahku telah berada di dalam ruangan itu.


"Semuanya baik. Kondisi istri Bapak beserta kandungannya baik."


"Gimana maksud Dokter?" tanyaku bingung. Aku menatap Aqilla yang kini menangis, lalu beralih pada sang dokter yang kini justru tersenyum.


"Kondisi istri Bapak beserta kandungannya baik baik saja," kata dokter itu lagi.


"Maksud Dokter, istri saya hamil? Hamil anak saya?" tanyaku lagi dengan ekspresi takjub sekaligus haru.


"Selamat, Pak. Selamat Ibu. Usia kandungannya tiga Minggu, masih belum kelihatan. Mohon dijaga, jangan sampai psikis ibunya stress. Boleh makan apa aja, tidak ada pantangan yang penting si ibu doyan," jelas dokter itu panjang lebar.


Aku menganggukkan kepala berulang kali, sambil terus mengucapkan terima kasih.


Setelah dokter beserta perawatnya itu keluar dari ruangan, aku pun segera mendekati ranjang pasien di mana Aqilla terbaring. Dia menangis sesenggukan.

__ADS_1


Aku berdiri dengan lutut, mensejajarkan kepala ke perut Aqilla.


"Di sini, ada bayi kita?" tanyaku dengan suara bergetar.


"Iya," lirih Aqilla menjawab pertanyaanku.


"Terima kasih. Kalau mau apa apa bilang sama aku ya," kataku lembut. Kemudian aku pun mencium perut Aqilla yang masih datar itu. Lantas, aku beranjak berdiri dan duduk di pinggir ranjang. Serta merta kupeluk Aqilla yang masih menangis, kemudian tanganku bergerak menangkup pipinya lalu mengusap air matanya dengan ibu jari.


Bukannya berhenti menangis, Aqilla justru semakin sesunggukan.


"Aku takut sekali, Bang," katanya.


"Semuanya sudah selesai. Lelaki itu masuk penjara. Kamu fokus sama kesehatan dan calon anak kita ya," ujarku menenangkan.


Entah berapa lama aku tertidur. Aku terbangun karena merasakan keram di tangan dan punggung. Leherku juga terasa pegal. Rupanya, Aqilla sudah bangun lebih dulu. Dia duduk bersandar kepala ranjang dengan tatapan fokus padaku.


"Kamu sudah bangun?" tanyaku pelan lalu mencium kening Aqilla. "Butuh sesuatu?" tanyaku lagi.


"Enggak. Abang masih ngantuk?" Aqilla bergeser, tangannya menepuk nepuk sisi kosong di sampingnya.

__ADS_1


"Udah enggak ngantuk. Cuma pegel aja," sahutku apa adanya. "Aku mau ke kamar mandi ya? Mau ikut?"


"Apa sih, Bang? Ada ada aja," protesnya dengan wajah merona.


Oh, kurasa Aqilla merasa malu dengan pertanyaan ku tadi.


"Kalau kamu mau ke kamar mandi juga. Emangnya apa yang sedang kamu pikirkan hm?" godaku sambil tertawa pelan.


"Enggak ada." Aqilla memalingkan wajah, menyembunyikan wajah yang semakin merah padam. Lucu. Warnanya seperti kepiting rebus saja.


Aku tersenyum kecil, lalu mengelus kepala Aqilla sebelum beranjak ke kamar mandi. Usai membuang hajat dan mencuci wajah, aku pun bergegas kembali.


"Mau ke kamar mandi juga enggak?" tanyaku begitu tatapanku dengan Aqilla bertemu.


"Mau pipis," jawab Aqilla malu malu.


"Aku bantu," sahutku lalu segera mengulurkan tangan. Setelah melepas infus dari tiang dan meminta Aqilla untuk memegang, aku pun membopong tubuhnya menuju kamar mandi.


Usai membantu Aqilla pipis, aku kembali membopong tubuh itu menuju ranjang.

__ADS_1


"Padahal aku bisa jalan sendiri, Bang."


"Aku ingin melakukannya," kataku santai.


__ADS_2