Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab. 60


__ADS_3

Beberapa menit menunggu tidak juga mendapatkan jawaban dari Aqilla. Mulut wanita itu tertutup rapat, seperti ada yang membungkamnya. Tercetak jelas raut ketakutan dari wajahnya.


"Sayang ... hei! Katakan sesuatu padaku, ceritakan semua apa yang kamu rasakan," pintaku dengan suara lembut juga tatapan lembut.


Aku menangkup satu pipinya agar dia mau menatapku kembali. Aku sangat terkejut ketika mengetahui Aqilla menangis.


"Apa yang terjadi?" tanyaku panik.


Aku berdiri, lalu duduk di tepi ranjang. Menarik tubuh Aqilla ke dalam pelukan. Dia, menangis tersedu di dadaku. Tanganku bergerak memberikan usapan lembut di kepala sampai ke punggung Aqilla, memberikan kekuatan sekaligus agar dia tahu bahwa aku akan selalu ada untuknya.


Kami berada di posisi saling memeluk, sampai beberapa menit berlalu, hingga Aqilla sendiri yang melepaskan rengkuhanku.


"Ma ... af, baju ... Abang ... ba ... sah," ujarnya sesunggukan.


"Enggak apa apa. Enggak ada masalah dengan baju yang basah ini." Aku menangkup kedua pipinya, mengusap air mata Aqilla menggunakan ibu jari.


"Katakan padaku apa yang telah membuatmu menangis? Apa aku telah menyakiti hatimu?" tanyaku hati hati yang langsung dibalas dengan gelengan oleh Aqilla.


Aqilla memegang tanganku yang masih bertahan menangkup kedua pipinya. Ibu jariku terus mengusap air mata yang mengalir. Tidak akan aku biarkan dia menangis lagi. Wanita ini adalah calon ibu dari anak anakku, tidak akan aku biarkan dia bersedih. Aku berjanji akan membuatnya bahagia.


"Lelaki itu," kata Aqilla dengan suara tersengal, "dia adalah orang yang telah mem ... mem ... mem ... perkosaku." Setelah bersusah payah mengatakan kalimat menyakitkan itu, Aqilla kembali menangis dengan menjerit.


Jeritan Aqilla sungguh sangat terdengar menyedihkan dan begitu saja menyayat hatiku.


Aku kembali merengkuh tubuhnya. Membawa Aqilla dalam dekap hangat penuh perlindungan. Jantungku berdegup tak beraturan. Ada yang membara di dalam sini, panasnya sampai ke ubun ubun. Tanganku terkepal erat. Aku berjanji akan menghajar lelaki itu dan membuatnya menyesal telah menyakiti wanitaku ini. Aku bersumpah!


"Aku ... takut. Takut sekali, Abang," jerit Aqilla dalam kepiluannya.


"Tidak akan ada lagi yang bisa menyakitimu, Sayang." Aku mengurai pelukan ini. Mencium seluruh wajah Aqilla. "Kamu akan aman bersamaku," kataku meyakinkan dan langsung dibalas dengan anggukan berulang kali.


Setelah itu, Aqilla pun tertidur. Dia tampak sangat kelelahan. Wajahnya terlihat sembap dengan mata yang bengkak.

__ADS_1


Selama Aqilla tidur, aku duduk di kursi di samping ranjang. Tanganku terus menggenggam tangan Aqilla agar tetap hangat dan terlindungi. Aku tidak beranjak sedetik pun, menatap wajahnya yang terlelap memastikan jika dia akan terus aman dan tidak ada gelisah dalam lelapnya.


Cukup lama Aqilla tertidur, perut yang belum aku isi dengan makanan ini pun mulai terasa lapar. Suara yang ditimbulkan juga tidak bisa aku kendalikan.


Aku bergerak sedikit untuk mengambil minum. Mungkin dengan meminum air sebanyak satu teko bisa menyumpal suara yang ditimbulkan cacing dalam perutku ini. Namun, belum sempat aku meminum air itu, Aqilla bergerak lalu membuka mata. Dia terbangun.


"Apakah aku mengganggumu? Tidur lagi, Sayang," ujarku lembut.


Aqilla menggeleng sembari tersenyum tipis. Senyum yang tampak sangat menawan di mataku. Ah, rasanya semua hal yang ada pada Aqilla terlihat sangat cantik bagiku.


"Aku haus. Makanya bangun," balasnya lirih lalu bergerak hendak bangun.


Aku segera memposisikan ranjang pasien itu agar Aqilla bisa duduk dengan nyaman.


"Abang juga belum makan kan?" tanyanya , sementara aku sedang mengambilkan segelas air mineral untuk Aqilla.


"Abang belum lapar." Bersamaan dengan itu, suara berisik yang berasal dari perutku itu kembali terdengar. Sialan. Namun, aku merasa senang karena dengan suara perutku tadi, justru menerbitkan senyum di bibir Aqilla, walaupun tipis sekali.


"Aqilla," panggilku dengan suara serak.


"Ya, Bang." Aqilla memberikan gelas kosong kepadaku. Matanya mengerjap lucu.


Aku memegang gelas kosong itu sekaligus menggenggam tangannya. Kami berdua memegang gelas ini secara bersamaan.


"Boleh cium enggak?" tanyaku.


Seketika, wajah Aqilla merona. Dia akan menarik tangannya, tetapi segera kutahan.


Aku menarik tangan Aqilla membuatnya mendekat kepadaku. Secepat kilat, kukecup bibirnya yang manis itu. Hanya sebentar saja, sebab aku tidak ingin jika kebablasan nantinya.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Aku bertanya setelah meletakkan gelas ke nakas.

__ADS_1


"Sudah baikan, Bang. Terima kasih."


"Kita akan menghadapinya sama sama. Aku tidak akan meninggalkan kami, Aqilla."


"Sungguh?" Mata Aqilla mengerjap. Wajahnya tampak serius.


Aku mengangguk yakin. "Kita akan membesarkan anak kita sama sama dan akan menjadi keluarga bahagia," kataku sungguh sungguh.


"Benarkah?" Aku mengangguk lagi. "Apa ... Abang tidak ada keinginan untuk ... bersama Kak Anna lagi?" tanyanya ragu.


"Tentu saja tidak. Aku mencintaimu. Aku hanya ingin bersama kami, Aqilla. Bukan wanita lain." Aku menggenggam tangan Aqilla erat, kemudian mencium punggung tangannya lembut.


***


Aku bisa merasakan kelegaan yang luar biasa saat Aqilla mau aku ajak pergi ke kantor polisi untuk membuat laporan. Seperti yang aku inginkan, aku memberikan satu pukulan telak di wajah lelaki bajingan itu.


Setelah dari sana, kami pun pulang. Aku sengaja mengundang Adrian sekeluarga, juga beberapa staff petinggi karyawan untuk mengadakan syukuran atas hamilnya Aqilla.


Melihat kebahagiaan Mami tentu membuatku semakin bahagia saja.


"Besok kirimkan nasi kotak untuk seluruh karyawan, David. Atau, traktir para karyawanmu makan siang bersama," usul Mami dengan ekspresi gembira.


Aku begitu saja menganggukkan kepala dan langsung meminta pada sekretarisku untuk mengurus semuanya.


"Dijaga ya kehamilannya. Jangan buat ibu hamil stress." Begitu pesan Adrian.


"Siap, Boss!" Aku memberikan hormat pada guruku itu. Selanjutnya, gelak tawa memenuhi ruangan ini.


Aku memeluk pinggang Aqilla, mengucapkan kata terima kasih kepadanya berulang kali.


Aku harap, kebahagiaan yang aku alami ini tidak akan pernah berakhir. Selamanya.

__ADS_1


__ADS_2