
"Apa maksud kamu, David?" tanya Mama dengan mata mendelik tajam.
"Apanya, Ma?" Aku balik bertanya dengan wajah polos. Tentu saja sukses membuat telinga kiriku memanas karena jewerannya.
Entah mengapa, wanita tersayangku itu akhir-akhir ini sering menarik telingaku sampai memerah. Dulu rasanya tidaklah begitu. Namun, sejak statusku berubah menjadi duda perjaka, haish ... bukan duda perjaka melainkan si duda keren. Mama berubah drastis.
Wanita yang telah melahirkan aku itu lebih lebih sering melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Lebih tepatnya kekerasan fisik kepada anak semata wayangnya yang tampan ini.
Aku berdecak sebal. Kemudian hendak melangkah meninggalkan Mama yang masih menatapku tajam.
"Kenapa kamu bilang kalau Tasya punya kekasih? Apa benar begitu, atau kamu yang hanya mengada-ada cerita. Awas kamu!" ancam Mama dengan mata mendelik tajam.
"David bicara serius, Ma. Lagipula kapan David mengarang cerita. Mama ada - ada saja," kekehku menggeleng.
"Ooh. Jadi kamu lupa pernah ngarang cerita yang buat Mama sampai enggak punya muka di hadapan Anna, ha?"
"Soal apa, Ma?" tanyaku polos. Aku benar-benar lupa tentang apa yang baru saja Mama katakan.
"Soal apa - soal apa. Soal kehamilan Anna waktu itu."
Ah, itu. Benar kata orang, wanita memang pengingat yang baik. Sangat baik malah. Sampai-sampai, saat seorang lelaki telah lupa apa yang dikatakan. Justru sang wanita lah yang mengingatkan, bahkan setelah sekian tahun lamanya. Mama contohnya.
Aku meringis malu.
"Kamu, 'kan bilang sama Mama kalau Anna mengandung anak kamu. Ternyata hanya omong kosong belaka," ketus Mama.
Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Mengingat kekonyolan yang kubuat kala itu, nyatanya membuatku malu juga.
Untung saja Mama tidak marah besar uang berakibat pada penghapusan nama aku dari kartu keluarga.
Saat itu aku begitu terhanyut oleh suasana. Saat aku sama sekali tidak pernah menyentuh Anna sebagai istri, dia malah hamil anak Adrian. Benar-benar kesialan yang hakiki.
"Itu, 'kan bercanda, Ma," kekehku.
"Begitu itu becanda?" Mama mendelik. "Ya ampuun! Ngidam apa Mama dulu saat hamil kamu, David? Heran, deh!" keluh Mama.
"Maaf, Ma. Janji enggak lagi."
"Pokoknya Mama enggak mau tahu. Kamu harus menikah tahun ini. Tahun ini. Titik."
Aku menelan ludah secara paksa. Rasanya seakan menelan kerikil, kerongkongan terasa menyakitkan.
Aku mengangguk pasrah. Tidak ingin wanita tersayangku itu marah lagi.
***
Rapat sepanjang hari membuatku kadang merasa kebosanan.
__ADS_1
Pekerjaan ini memang tiada pernah ada habisnya.
"Jadi gimana, sudah mulai promosi belum?" tanyaku datar tidak lupa memasang wajah sedatar mungkin.
"Sudah, Boss. Cabang Malang juga. Sepertinya produk baru kita akan sukses," ujar Dewo kepala devisi marketing.
Aku mengangguk. "Kamu tahu konsekuensinya, 'kan?" tanyaku tajam.
"Ta-tau, Boss. Sudah dipertimbangkan dengan matang dan baik," balasnya gugup.
"Oke," tegasku. "Lalu, bagaimana dengan produk. Sudah berapa persen siapnya? Ini produk perdana, 'kan?"
Mataku tertuju pada kepala bagian produk. "Iya, Boss. Semua sedang dalam proses produksi. Desain udah oke, udah diterima juga. Bahan udah dicek oke. Lalu--"
"Kamu langsung cek ke lapangan tidak?" sergahku memotong kalimatnya yang belum selesai.
"Be-belum, Boss," balas si Arga.
Aku menggebrak meja dengan kedua tangan. Bisa-bisanya dia ceroboh begitu. Tanganku menunjuk tepat ke wajah Arga membuatnya pucat pasi.
"Kalau kamu mau main-main dengan pekerjaan ini. Lebih baik keluar." Lantas teracung menuju pintu keluar.
"Ti-tidak, Boss. Saya tida main-main."
"Dengan cara tidak memeriksanya secara langsung. Omong kosong!"
"Maaf, Boss ... maaf." Kedua tangan Arga menangkup di depan dadanya. Berulang kali dia menunduk meminta maaf.
"Baik, Boss."
"Oke. Rapat selesai. Selebihnya, bawa laporan ke meja saya. Terima kasih."
Aku berdiri diikuti dua asisten di belakang, meninggalkan ruang rapat. Kemudian masuk ke ruangan, sedangkan kedua asisten tadi kembali ke meja masing-masing.
"Saya mau istirahat. Tidak ingin diganggu. Mengerti," tegasku memberi peringatan.
"Baik, Boss," balas keduanya bersamaan.
Setelah itu aku pun menuju ruang istirahat. Tidur sejenak menenangkan pikiran.
Entah berapa lama aku tertidur. Sampai suara dering ponsel berbunyi merusak mimpi indahku.
Aku bermimpi berjalan berdua bersama Anna, bergandengan tangan dengan senyum terkembang yang menghiasi wajah. Sesekali pandangan kami pun bertemu, senyuman itu masih melekat di kedua bibir.
Betapa bahagianya hati. Sampai-sampai mimpi itu seolah menjadi nyata.
Bunga indah bermekaran di sepanjang tatapan mata memandang, seakan iri melihat kebahagiaan kami berdua. Tiada siapa pun, tiada pula pengganggu. Hanya ada kami berdua. Berdua saja. Hanya aku dan Anna.
__ADS_1
Hingga dering ponsel sialan itu merusak semuanya. Membuyarkan buncah bahagia yang kurasakan tadi.
Aku berdecak kesal, tetapi beranjak juga dari ranjang. Mengambil ponsel di nakas. Semakin kesal saat mendapati nama Mama tertera di layar pipih ini.
"Halo, Ma," sapaku malas.
Untung saja kali ini Mama tidak melakukan panggilan lewat video call. Bisa-bisa kena semprot diriku ini karena baru bangun tidur.
"Kenapa suaramu lesu sekali, David?" Suara Mama di seberang sana terdengar khawatir.
"David baik-baik aja, Mama. Mungkin karena lelah."
"Oh, syukurlah. Nanti malam kamu enggak usah lembur, dong! Besok lagi lanjut kerjanya. Kamu harus jaga kondisi, kaga kesehatan biar tetap awet muda. Mama, 'kan belum punya menantu, David," omel Mama.
"Iya, Mama. Ada apa Mama telepon David?"
"Kamu jangan lupa nanti sepulang kerja temui teman Mama di restoran Ekstra ya ...."
"Mama atur janji lagi sama wanita yang lain lagi untuk David?"
"Habisnya, nungguin kamu kelamaan, sih. Setelah Tasya kali itu, kami belum juga ada wanita lain lagi. Ya udah, Mama aja yang atur. Kamu tinggal datang, duduk manis, dan ajak mengobrol. Ingat harus manis dan lembut yaa."
Ya ampun, Mama. Bisa - bisa aku akan lebih tua sepuluh tahun dari Mama kalau begini caranya.
"Ma ...," desisku.
"Ingat, David. Enggak ada penolakan." Mama berbicara dengan penuh penekanan.
"Oke."
"Bagus."
Siapa lagi wanita ini?
Aku benar-benar pusing dibuatnya.
Kebahagiaan yang sempat aku rasakan barusan, kini benar-benar lenyap tidak berbekas. Tersisa rasa sesal yang semakin menggerogoti dada. Memasungku dalam duka berkepanjangan. Rasanya, perjodohan ini tiada habis-habisnya.
Woi wanita! Kamu di mana?
Kamu yang mirip dengan Anna. Sifatnya, kelembutannya, keramahannya, pinter masaknya.
Hah! Aku terlalu berfokus pada sosok Anna dalam mencari wanita.
Jangan bilang hanya ada satu wanita yang mirip Anna di dunia ini. Stoknya habis diborong Anna semua.
Gila!
__ADS_1
Atau, wanita yang bisa menggetarkan hatiku. Itu saja cukup.
Ah, entahlah. Aku pusing.