Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab 29. (David


__ADS_3

Aku menggenggam tangan Aqila. Menelusup kan jari jemariku di antara jemarinya. Rasanya, begitu pas dan begitu nyaman.


Hm, seperti kepingan puzzle yang saling bertemu satu sama lain. Saling melengkapi dan sangat pas.


Aku melirik wajah di samping, pipinya bersemu merah. Ah, aku sangat berterima kasih pada cahaya lampu yang terang benderang di malam ini.


Melihat nya, seperti ada yang berdesir di dalam sini. Sesuatu yang seharusnya telah kurasakan setelah sekian hari hidup bersamanya.


Jika, malam ini kutanggalkan ego dan membiarkan rasa di dalam sini tercurahkan sebagaimana mestinya. Tidak masalah kan?


Aqila tidak akan kabur dariku kan? Atau mengatai diriku sebagai lelaki pengecut yang haus akan pelampiasan hasrat.


Sebab di malam itu betapa aku telah mencaci maki diri nya.


Aku menajamkan mata. Mengingat perktaaan burukku malam itu, menciptakan rasa penyesalan di dalam sini.


Lantas, tangan ini semakin erat menggenggam dengan langkah kaki yang semakin cepat berjalan menuju tempat peraduan.


"Abang, mau mandi dulu. Aku siapkn air hangatnya yaa."


Aku menggeleng cepat mendengar perkataan Aqila yang malah terdengar seperti desahan di telinga.


Sial.


Rupanya otakku tengah berhalusinasi. Harus segera cepat - cepat melepaskan diri dan segera beranjak ke kamar mandi.


"Lho, Bang, kenapa?"


Wajah Aqila tampak bingung yang malah terlihat menggemaskan.


"Aku ... mau ... mandi ... dulu," ucapku dengan suara berat dan bergetar.


"Oh, iya." Aqila meninggalkan ku lantas tubuhnya seketika menghilang di balik pintu kamar mandi.


Aku mengerang frustrasi. Malam ini benar - benar tidak bisaa dikendalikan.


Sangat tidak bisa.


Aku harus cepat - cepat mandi.


Kau berjalan cepat menuju kamar mandi. Di sana, Aqila tengah menyiapkan air dalam bathtub.


Wanitaku itu tengah membungkuk, sesekali tangannya membenahi rambut yang menutupi wajah menyelipkannya ke belakang telinga.


Aku menelan ludah. Seketika waktu seakan berhenti, memusatkan setiap mata dan pikiran hanya pada pemandangan di hadapan.


Aku menoleh ke samping, mencoba mengenyahkan pikiran nakal yang terus merajalela. Akan tetapi, lagi - lagi kepalaku mengarahkan mata agar kembali menikmati sosok cantik di hadapan.


Ya, tingkah Aqila malam ini menambah kecantikannya berkali - kali lipat.


Ya ampun. Apa aku ada salah makan hari ini?


Kenapa?


Kenapa?

__ADS_1


Mataku terus memandang lekat wajahnya yang tampak salah tingkah. Lalu tatapan ku turun ke bawah, tepat di ....


Sial. Sial.


Ada yang bereaksi dalam tubuhku. Gawat.


Suhu tubuhku tiba - tiba naik. Hawa panas menjalari melalui aliran darah. Hingga, pandanganku menggelap.


"Udah siap, Bang." Ucapan Aqila menghipnotis alam bawah sadarku.


Aku berjalan mendekatinya yang masih berdiri di samping bathtub. Menungguku agar masuk ke sana.


"Bukakan bajuku," ucapku tegas. Menyamarkan kabut kegelapan yang menguasai diri.


Aqila berjalan perlahan mendekatiku. Kedua tangannya mengulur ke depan.


Mula - mula, dia melepaskan dasi yang masih terpasang rapi di leherku.


Kenapa rasanya lama sekali?


Wajah Aqila bersemu merah. Lagi - lagi memancing reaksi dalam diriku. Reaksi membahayakan.


Ini bukan kali pertama Aqila melepaskan pakaian kerjaku. Sebab, setelah menyelesaikan pekerjaan kantor yang tiada habisnya aku akan sangat malas melepaskan pakaian kerja yang masih melekat di badan. Mungkin karena telah menjadi kebiasaan apa - apa dilayani Aqila. Tubuhku menjadi manja seperti sekarang.


Hidup bersama masih dalam hitungan hari saja, tetapi sukses membuat pola kebiasaan hidupku berubah drastis.


Jemari lentik Aqila masih bergerak pelan di kancing kemejaku. aku menatap wajahnya tanpa berniat berkedip sekali pun. Tidak ingin melewatkan setiap rona yang bersemu di kedua pipinya. Tidak ingin pula mewelewatkan setiap ekspresi yang wanita itu tampilkan.


Aku ingin merekamnya. Merekam semua pemandangan di hadapan ke dalam ingatan. Yang bisa kuulang kapan pun aku mau dan aku butuhkan.


Lantas, dengan segala daya yang kupunya. Menanggalkan ego yang masih terus melekat di jiwa. Aku menangkup kedua pipi wanita itu, memaksanya agar mendongak padaku.


Aqila bereaksi. Dia menggigit bibir bawahnya sendiri yang semakin membuatku tak mampu lagi menahan diri. Maka, biarkan diriku mengecap rasa manis itu. Perpaduan antara strawberi dengan rasa manis yang begitu nikmat.


Hingga akhirnya, apa yang seharusnya terjadi malam itu terjadilah. Biarkan ruangan basah ini menjdi saksi bersatunya kami.


Rupanya apa yang ada pada diri ku tidak mudah untuk dipuaskan. Maka dengan kekuatan penuh dan tergesa - gesa, aku membopong Aqila yang pasrah ke tempat peraduan kami. Melanjutkan aksi yang sempat terjeda.


Aku bahagia kala bibir Aqila bergerak berulang kali menyebutkan namaku. Hanya namaku.


***


Aku mengerjapkan mata, lantas menoleh ke samping kala mendengar rintihan sesorang yang berada dalam pelukan.


"Ada apa?" tanyaku setelah mengecup kening Aqila dengan penuh sayang.


Sepertinya suhu tubuh Aqila lebih hangat ketimbang tadi malam. Lantas, aku mengelus punggung polos Aqila.


Benar, dia hangat.


"Sayang, ada apa?" tanyaku hati - hati.


Aqila menggeleng lemah, lalu menyurukkan kepalanya pada dada bidangku yang juga polos sepertinya.


Ah, ini bahaya. Hanya perlakuan kecil begini saja membuat sesuatu pada diriku bergerak.

__ADS_1


Sial.


"Badanmu hangat. Apa aku menyakitimu?" tanyaku khawatir.


Lagi - lagi, Aqila menggeleng lemah. Semakin merapatkan diri.


"Jangan terlalu dekat. Nanti aku minta lagi gimana?" ucapku polos tanpa malu.


Aqila terkekeh pelan, lalu dengan gerakan lemah tangannya memukul dadaku pelan.


"Sakit," ucapnya lirih.


"Aku panggilkan dokter yaa. Mana yang sakit?" tanyaku dengan kedua tangan memegang pipi Aqila.


Aqila berdecak pelan. "Di bawah sana. Enggak usah panggil dokter. Aku malu."


"Hah?" Aku berseru kaget. "Apa semalam aku menyakitimu?"


"Tidak. Sekarang terasa sakit sekali," ujarnya lantas menutup dirinya dengan selimut.


"Apa kamu malu?"


"Tentu saja. Kamu berbicara terlalu berterus terang." Aqila semakin merapatkan selimut yang menutupi dirinya.


"Ah. Maaf kalau aku tidak bisa menahan diri. Salahmu sendiri kenapa sangat menggoda," ujarku tak mau kalah.


Mengingat apa yang telah aku lakukan membuatku merasa bersalah tetapi juga merasa puas.


Hah. Antara puas dan rasa bersalah yang bersatu padu.


Aku berecak kesal.


"Karena kamu mengungkitnya. Aku jadi ingin lagi," ujarku gusar.


"Apa?" Aqila mengeluarkan kepalanya dari selimut. Matanya mendelik tidak percaya dengan wajah merah.


"Yang semalam saja rasanya begini. Tapi ...."


Aqila tidak melanjutkan ucapannya, karena aku telah membungkamnya. Mengulang apa yang telah kami lakukan dengan perlakuan yang lebih hati - hati.


Setelahnya, tubuh Aqila benar - benar panas. Dan terpaksa harus memanggil dokter.


Dengan wajah malu - malu, Aqila mau diperiksa.


Tentu saja tanpa mengatakan apa yang telah terjadi.


"Boss. Kalian melakukannya berapa kali. Sampai tubuh istrimu panas begitu?"


"Ha? Apa? Dari mana kau ... ah lupakan. Jadi apa yang harus kami lakukan?"


"Biarkan diaa istirahat. Nanti kalau sudah sehat bisa dilanjutkan programnya," jawab Heru terkekeh.


Sial.


Aku menoleh kepada Aqila lalu cepat - cepat menutupi wajahnya dengan selimut. Pantas saja Heru tahu. Jejak itu ada di mana mana.

__ADS_1


__ADS_2