
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Aqilla menampakkan diri. dia keluar dari kamar mandi dalam keadaan tubuh yang lemas.
"Kau kenapa?" tanyaku bingung.
Aku berdiri dari pinggiran ranjang. Melangkah lebar mendekati wanita itu. Tanganku terulur mengusap dahinya.
"Kayaknya kebanyakan makan sambal. Mules. Tapi udah minum obat, kok. Abang enggak usah khawatir," jelasnya yang membuat keningku mengernyit heran.
Dari mana dia tahu kalau aku khawatir? Apa wajah khawatirku terlihat jelas. Aku mendecakkan lidah pelan.
"Siapa juga yang khawatir? Jadi mau keluar tidak? Katanya mau belanja," sergahku kemudian.
Aku melepaskan pakaian kerja yang masih membungkus badan. Melemparkannya begitu saja ke keranjang baju kotor, lalu berjalan ke arah lemari. Hendak mencari kaus pendek.
"Biar aku ambilkan kausnya, Bang," ujar Aqilla menghentikan pergerakan tanganku yang sudah membuka pintu lemari.
"Enggak usah. Biar aku ambil sendiri aja. Kamu cepet ganti baju," elakku. Ambil baju doang, gampang.
Aku segera menarik salah satu kaus yang ada di lipatan. Menariknya begitu saja, kemudian menutup pintu lemari dan langsung mengenakan kaus yang telah diambil.
__ADS_1
"Kan udah dibilang tadi, biar aku aja yang ngambil kausnya." Gerutuan Aqilla membuatku menoleh. Dia tampak berdiri berkutat di depan lemari yang kini pintunya telah terbuka.
Entah apa yang sedang dia lakukan sekarang.
"Ngapain, sih?" tanyaku ingin tahu.
"Aku sedang menyusun baju yang Abang berantakin. Tunggu sebentar."
Beberapa menit kemudian, Aqilla lari tergopoh-gopoh masuk ke kamar mandi. Kontan saja, kakiku ini mengikuti dia. Rupanya, Aqilla muntah-muntah. Aku segera mendekat, memijit tengkuknya memberikan rasa nyaman pada istriku itu. Tidak bisa dicegah, rasa khawatir ini telah menguasai diriku.
Aku membantu Aqilla memegang rambutnya, sementara dia membasuh mulut.
Aqilla mengangguk lemah. Wajahnya tampak pucat pasi. Detik berikutnya, tubuh ramping itu telah berada di atas kedua lenganku. Dia memekik tertahan, lalu kedua tangannya berpegangan erat pada bahuku. Aku pun melangkah lebar menuju ranjang.
Aku menurunkan Aqilla dengan sangat hati-hati. Mengingat bagaimana dia memuntahkan isi perutnya tadi, telah berhasil membuatku cemas setengah mati.
"Sejak kapan kamu muntah begini?" tanyaku sembari meraba kening lalu berlanjut ke leher.
Aqilla tersenyum tipis. Dia meraih tanganku yang masih berada di lehernya, lalu mengarahkan tangan ini ke atas perutnya.
__ADS_1
"Di sini aja tangannya. Enakan rasanya," ucapnya lembut. Tak ayal, apa yang dilakukannya itu berhasil menghangatkan hatiku. Gemuruh amarah dan perasaan khawatir beberapa menit tadi, seketika berubah lebih adem.
"Jadi, sejak kapan kamu sakit begini?" tanyaku lagi. Lantas, aku pun mencondongkan tubuh. Mendekatkan wajah padanya dan mencium kening istriku itu dengan lembut dan lama. Sampai, bisa kupastikan ada jejak basah yang tertinggal di keningnya itu.
"Sejak semalam, sih, rasanya enggak enak. Tapi muntahnya baru ini, kok," jelas Aqilla dengan suara lemah.
Satu tangannya menangkup sebelah pipiku. lantas, ibu jarinya itu mengelus lembut permukaan wajahku. Aku memejamkan mata, menempelkan keningku ke kening Aqilla. Sesaat, napas kami saling beradu hangat.
"Jangan sakit. Jangan buat aku khawatir," kataku tulus.
Aqilla mengangguk, lalu memejamkan mata saat wajahku berpindah arah menuju bibirnya. Kami saling berbagi napas, sampai kurasakan pasokan oksigen telah sangat menipis di paru-paruku. Layaknya ikan yang kehabisan pasokan udara di daratan, begitulah Aqilla bernapas dengan dada yang naik turun.
"Aku ambilkan air hangat ya," kataku lembut lalu mengecup bibirnya sekilas.
Saat akan berbalik, Aqilla justru menahanku. Dia menggeleng lemah. "Minta Bibik saja. Abang di sini aja temani aku. Nanti kalau aku udah enakan, kita keluar ya," pintanya kemudian.
"Baiklah." Aku mengangguk, mengikuti kemauan Aqilla.
Di saat dirinya sakit begini, aku malah merasa sangat menyesal. Menyesal karena hari-hari kami sering terlewati dengan banyak pertengkaran. Dia lemah sekarang, tidak akan bisa membantah ucapanku. Aku juga begitu, tidak tega jika harus menolak keinginannya.
__ADS_1