Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab. 51


__ADS_3

Setelah bersiap-siap, kami pun segera berangkat. Aku senang melihat Aqilla tersenyum riang saat aku membukakan pintu mobil untuknya.


"Terima kasih," ujarnya malu-malu.


"Dengan senang hati, Sayang," balasku sembari mengedipkan satu mata. Seketika, Aqilla pun memalingkan wajah dengan wajah yang bersemu merah. Melihat itu membuatku ingin semakin menggodanya saja, tetapi harus ditahan mengingat kami yang sedang berada di mobil.


Setelah memastikan Aqilla memasang sabuk pengamannya, aku pun segera menutup pintu mobil itu dan bergegas berlari mengitari bagian depan mobil. Membuka pintu mobil bagianku dan duduk di bangku belakang kemudi.


"Sudah siap?" tanyaku usai menyalakan mesin kendaraan.


"Iya," jawab Aqilla dengan senyum lebar.


Mobil melaju keluar dari halaman rumah, lalu membelah jalanan. Tidak sampai satu jam, kami telah sampai parkiran mall yang dituju. Seperti saat akan berangkat tadi, kali ini pun aku membukakan pintu untu istriku itu.


Tidak ingin dirinya berjalan sendirian, aku merangkul pinggangnya. Awalnya, aku bisa merasakan tubuh Aqilla memegang menerima perlakuanku. Sepertinya dia kaget. Sebab, beberapa detik kemudian ketegangan itu mengendur. Tubuhnya menjadi rileks, justru gantian aku yang merasa tegang. Ck.

__ADS_1


"Mau beli apa, Bang?" tanya Aqilla begitu kami masuk.


"Beli apa pun yang kamu mau," jawabku berbisik tepat di telinganya. Aku tersenyum tipis saat melihat bulu kuduk istriku itu meremang. Aku senang ketika mengetahui bahwa dia merespons godaanku.


Aku mengambil troli, mengikuti langkah Aqilla dalam diam. Sementara itu, dia berjalan lebih dulu menuju rak-rak sayur.


Aku memperhatikan wajah yang tampak ceria itu. Rasanya, tidak ingin berpaling barang sedetik pun dari wajahnya. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Kalau Aqilla sangat cantik, terlebih saat dia tersenyum seperti sekarang ini.


Ke mana saja kamu selama ini, David?


"Kamu masak apa?" tanyaku penasaran. Pasalnya semua sayur yang dibelinya itu adalah kesukaanku. Oh, aku sendiri tidak tahu apa makanan kesukaan Aqilla.


Sejak kapan, Aqilla berubah semanis ini, sih?


"Kamu juga perlu makan makanan yang kamu suka, Aqilla," tegurku kemudian.

__ADS_1


"Tenang saja, aku suka makanan apa pun yang kamu suka, Bang," ujarnya santai. Lantas, dia mengambil beberapa potong daging, lalu ke area makanan laut.


"Kayaknya udah cukup." Aqilla menepuk tangan berulang kali, wajahnya tampak puas sekali. Seperti habis mendapatkan hadiah besar saja.


"Sejak kapan kamu suka makanan apa yang aku makan?" tanyaku lagi. Kali ini, aku meraih tangannya menggenggam telapak tangan itu.


Aqilla melihat genggaman tangan kami lalu beralih menatap mataku. "Enggak tahu. Rasanya enak aja ... makan apa yang kamu makan. Apalagi sisa kopi di cangkirmu itu. Nikmat sekali," akunya lalu tersenyum malu-malu.


Ah, iya. Hari ini, aku melihat Aqilla yang lebih terbuka dan jujur. Dia membicarakan apa pun kepadaku. Ini aku yang merasa bahwa dia berubah atau memang seperti itu dari dulu? Entahlah. Yang jelas, aku merasa senang dengan sikap perubahan ini.


"Jadi, kamu suka dengan sisa kopiku?" tanyaku tak percaya.


"Hmm," gumam Aqilla disertai anggukan berulang kali. "Aku mencicipinya, terus merasa ketagihan. Padahal baru sekali cicip. Ternyata enak rasanya," katanya dengan senyum lebar.


"Kalau begitu, aku akan menyisakan setengah gelas kopi untukmu di kemudian hari. Bagaimana?" usulku. Aku menatap lekat wajah yang kini ekspresinya telah berubah ceria sepenuhnya. Wajahnya tampak bercahaya.

__ADS_1


"Oke. Tapi, aku enggak suka dengan baumu di pagi hari. Jadi, pastikan kalau kamu mandi dulu baru turun ke dapur. Oke?"


"Ha? Sejak kapan aku bau?" tanyaku tak percaya. Sementara Aqilla hanya mengedikkan bahu tak acuh, lalu melanjutkan jalan.


__ADS_2