Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab 20 (David)


__ADS_3

Aku tersentak kaget sekaligus bingung saat Putri tiba - tiba saja berlari ke arah mana. Sejak kapan anak dari mantanku itu di sini?


Lebih mengejutkan lagi, saat aku melihat reaksi Aqila. Wanita itu tampak terkejut dengan mata mendelik dan tubuh menegang, matanya berkaca - kaca menunjukkan reaksi kecewa atas apa yang telah disaksikannya sekaligus didengarnya.


Putri memanggil Mama dengan sebutan 'Oma'. Mereka pun saling berpelukan layaknya cucu dan nenek yang saling menyayangi.


Ya ampun! Aku belum siap menceritakan masa laluku bersama Anna kepada Aqila.


Bukan karena malu atau tak berani. Hanya saja, aku belum mau mengungkit masa kelam itu. Masa di mana aku tersesat oleh cinta.


Aku mengacak rambut frustrasi, semakin merasa bersalah saat Aqila menatapku tajam.


"Dasar pembohong," desis gadis itu penuh kekecewaan.


Apa yang akan aku lakukan setelah ini?


Dasar, David bodoh. Aku selalu kalah soal cinta. Selalu saja sial saat berhubungan dengan asmara.


Kala otakku masih bekerja tentang apa yang harus aku lakukan, Aqila beranjak berlari meninggalkan diriku yang masih termangu.


Kejar, bodoh!


Aku berdiri melangkah cepat mengejar bayangan Aqila yang semakin menjauh.


langkahku terhadang oleh art yang sedang bekerja. "Sorri, Bik. Eh, itu ... lihat Aqila gak?" tanyaku buru - buru.


"Itu, Tuan. Lari keluar tadi ...."


Tanpa menunggu kelanjutan kalimatnya, aku segera berlari mengejar Aqila.


Sial! Cepat sekali gadis itu berlari. Jejaknya menghilang bagai di telan bumi.


Sejenak aku bingung antara melanjutkan langkah atau kembali untuk mengambil mobil. Namun, jika kembali maka jejak Aqila akan semakin hilang.


"Kamu harus bertanggung jawab setelah ini, Aqila," gumamku sembari melanjutkan langkah meninggalkan pekarangan rumah besar itu. "Tunggu aku, Aqila!" seruku.


Napasku ngos - ngosan karena berjalan cepat dan sesekali berlari mencari Aqila. Aku berharap, arah kami ini tidak saling berlawanan.


Aku berhenti di pedagang kaki lima yang menjajakan minuman. Beberapa menit kemudian, nada ponsel berdering menampilkan nama 'Mama' sebagai pemanggil.

__ADS_1


"Halo, Ma," sapaku pelan.


"Kami di mana?" tanya Mama.


"Eh, Ma. Itu ...." Haruskah kukatakan jika tengah mencari Aqila?


"Kamu itu gimana? Aqila di rumah ditinggal sendirian. Kasihan dia. Cepet pulang! Gimana, sih?" omel Mama dari seberang sana.


"Tunggu, Ma. Maksud Mama, Aqila di sana?" tanyaku bingung meminta penjelasan.


"Iyalah. Emang dia di mana? Tuh, Aqila sedang main sama Putri. Cepetan!" seru Mama.


"Iya - iya. Oke, Ma," balasku tergesa.


Aku segera beranjak dari kursi dan berjalan cepat, hingga seruan seseorang menghentikan langkahku.


"Bang!"


"Ya? Ada apa, ya?" tanyaku polos.


"Uangnya mana?" Wanita bertubuh tambun itu mengengadahkan tangan di hadapanku.


"Buru - buru, sih, buru - buru. Tapi jangan lupa bayar minumannya dong," sembur wanita itu dengan mata mendelik.


Haish. Lupa!


Aku tersenyum kikuk, mengeluarkan dompet dari saku lalu menyodorkan lembaran uang biru.


"Kembaliannya ambil saja," ucapku pelan lalu melangkah lebar meninggalkan wanita yang tampak tersenyum semringah.


Dasar wanita, marah sebentar lalu tertawa saat menerima lembaran uang.


***


Sesampainya di rumah, aku segera menuju area belakang di mana Aqila dan Putri tengah bermain bersama. Aku bernapas lega saat melihat keasyikan dan keakraban kedua wanita itu di sana.


Putri tampak tertawa riang saat Aqila mengejarnya lalu menggelitik perutnya.


Bibirku terangkat tersenyum menyaksikan ketulusan Aqila.

__ADS_1


Wah, harus cepat disahkan ini hubungan kami. Harus segera.


Aku melangkah mencari keberadaan Mama. Wanita tersayangku itu tengah mengiris buah di dapur.


"Ma, aku mau nikah secepatnya sama Aqila, ya," ujarku lalu melingkarkan kedua tangan di pinggang Mama.


"Hmm, anak Mama. Udah ngebet bener kayaknya. Pesona Aqila rupanya telah menggantikan Anna, ya," ujar Mama lembut. Tangannya mengelus puncak kepalaku dengan sayang.


Aku memejamkan mata, merasakan kehangatan di dalam dada. Mama adalah wanita yang selalu sabar menghadapiku, bagaimanapun tingkah polahku.


Mama adalah orang pertama yang akan memarahiku saat anaknya ini berbuat salah. Namun, juga menjadi orang pertama yang percaya pada apa yang aku lakukan.


"Makasih, Ma," ucapku lirih penuh haru lalu mencium pipi Mama dengan perasaan membuncah penuh sayang.


"Sudah sana temani Aqila dan Putri. Jangan ditinggal - tinggal," perintah Mam yang langsung kuturuti dengan anggukan.


Aku menuju area belakang menemui Aqila yang sekarang duduk di kursi santai. Jangan lupakan, gadis kecil itu kini duduk di pangkuannya. Aku tak menyia - nyiakan kesempatan untuk mengabadikan moment mereka tersebut.


Tepukan di bahu menyentakku kaget.


"Malah masih di sini?" tegur Mama lalu mengajakku melangkah mendekati dua wanita beda generasi tersebut.


"Halo, Om Avid," sapa Putri riang. Lalu melompat dari pangkuan Aqila dan berpindah ke gendonganku. "Om, Antenya cantik banget ya. Dapat di man?" tanyanya polos dengan suara riang.


"Dapat di mana?" tanyaku mengulang pertanyaan Putri.


"Iya, dapat Ante Cantik itu di mana, Om?" geram Putri.


"Oh. Nemu di jalan," jawabku sembari tersenyum. Lantas mencium gemas gadis pintar itu. Aku melirik Aqila yang sedang menatapku sengit. "Iya, 'kan, Ante Cantik?" godaku dengan kedipan mata.


"Kalau cucu Oma ini Nemu di mana ya?" tanyaku kemudian yang dibalas bibir mengerucut oleh Putri.


"Putri gak nemu di jalan, Om," balas Putrid dengan wajah menggemaskan. "Kata Mama, Putri lahir di rumah sakit. Bener, 'kan, Oma?" lanjut Putri lantas menatap Mama meminta dukungan.


"Iya," balas Mama dengan senyum semringah.


Setelahnya kami berbincang ringan dan bercanda bersama Putri. Seperti biasa, anak itu memang sangat pintar sekaligus menggemaskan.


Usai makan malam, aku mengantar Aqila pulang. Selama di mobil, tidak ada perbincangan di antara kami.

__ADS_1


Aku enggan memulainya, sekaligus bingung harus membicarakan apa.


__ADS_2