Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab 21 (David)


__ADS_3

Mobil telah berhenti, mesin kendaraan pun telah dimatikan. Namun, kedua raga di dalamnya masih bergeming seakan enggan untuk berlari saling meninggalkan.


Sesekali terdengar helaan napas panjang dari keduanya. Sesekali pula aku melirik ke samping kiri, lalu segera kembali menatap ke depan saat lirikan mataku mendapat balasan.


Aku dan Aqila saling bertemu pandang dan saling membuang muka.


Sampai kapan akan terus begini?


Aku berdeham lalu melepas sabuk pengaman, memutar tubuh menghadap Aqila.


"Aqila," panggilku pelan. Kepala Aqila memutar ke arahku. Sejenak, tatapan kami bertemu, lalu buru - buru gadis itu mengalihkan pandangan lurus ke depan.


Aku mengulurkan kedua tangan menahan, menangkup kedua pipi Aqila agar menghadap padaku lalu menatap mataku.


Bibir Aqila terkatup rapat. Namun, ranumnya begitu menggoda. Rasa manis yangp pernah kucecap serasa di lidah. Jiwa kelakianku meronta, mendorong tubuhku untuk condong ke arahnya. Merapatkan diri untuk merasakan rasa manis dari bibirnya.


Aku tersentak kaget saat Aqila mendorong keras tubuhku. Tenaga gadis ini benar - benar di luar batas. Dia sangat kuat untuk ukuran seorang wanita.


Sebuah tamparan keras mendarat begitu sempurna di pipiku. Rasanya pedih, panas dan memalukan.


Aku bahkan tak sempat menghindar dari serangan Aqila. Matanya merah membara. Bukan hanya itu, pipinya kini telah basah oleh air mata.


"Kurang ajar!" teriaknya tepat di depan wajahku. "Apa karena kami kaya jadi seenaknya mempermainkan aku, ha?!" Kedua tangan Aqila memukul dadaku.


Aku membiarkan Aqila menumpahkan segala kesal yang mengungkung dadanya.


Setelah pukulannya melemah, aku pun memegang kedua tangannya meletakkan di dadaku.


"Aku minta maaf," bisikku.


Aqila mendongak membalas tatapan mataku dengan mata sendunya.


"Maafkan aku karena tak jujur padamu," kataku lagi. "Percayalah, akus serius mengajakmu menikah," lanjutku.


Aku mencium telapak tangan Aqila secara bergantian sembari memejamkan mata menikmati desiran aneh yang mendebarkan dada.


"Lalu, bagaimana dengan perasaanmu?" tanya Aqila lirih.


Aku bernapas lega. Akhirnya wanita di hadapanku ini mau bersuara.


Aku menggenggam erat kedua tangannya, menyalurkan rasa hangat. Aku tersenyum tipis kala melihat rona merah di kedua pipi Aqila.


"Aku telah melupakan semuanya, Aqila," ucapku lirih. "Aku, mau kamu," bisikku kemudian diiringi deru napas memburu yang membuatku mengikis jarak di antara kami.


Kali ini, Aqila tak menolak. Dia juga tak memberontak. Aqila menyambutku.

__ADS_1


"Apa ini tandanya kamu telah menerimaku?" tanyaku dengan napas memburu saat aku memberikannya menarik napas.


Aqila mengangguk, pipinya merona merah. Tak ingin melewatkan kesempatan bagus ini, aku pun kembali mengikis jarak. Namun, belum sempat kucicip lagi rasa manis itu. Aqila berbisik, "Menikah dulu."


"Ah. Ya. Aku lupa," balasku kecewa.


Aqila adalah wanita yang berbeda. Dia tak gampang disentuh, kecuali ... hmm, saat dia tak sadar.


Seperti tadi.


Aku tertawa miris mengingat kelakuanku dengan mantanku dulu.


Saat samua wanita begitu mudah ditaklukkan. Lupakan.


"Aku turun, ya?" tanyanya memecah kesunyian dan kecanggungan dalam mobil ini.


"Hmm. Kalau boleh jujur, aku tak ingin kamu pulang," balasku.


Aku mengalihkan pandangan, menatap lurus ke depan. Tak ingin menatap mata Aqila yang mendelik dengan mulut terbuka.


Satu tanganku bersandar pada kaca jendela, sedangkan satu tangan yang lain sibuk mengacak rambut secara kasar lalu mengusap wajah frustrasi.


"Dasar duda keren," desis Aqila yang sontak membuatku menoleh.


"Apa?!" seruku tak percaya.


Sial.


"Aku cium, nih," ancamku sembari menatap Aqila serius.


"Kelamaan nganggur ya, jadi nyosor terus," sindir Aqila yang terdengar seperti ejekan di telingaku.


"Eh. Aku masih perjaka," sahutku tak terima. Detik itu juga aku mengatupkan mulut. Rahangku mengeras, menahan gemuruh panas di dada.


"Maaf," bisik Aqila. Tangannya mengelus lenganku lalu naik ke bahu.


"Jangan membangunkan macan yang telah tertidur lama," desisku tajam.


"Kalau ... membelai," goda Aqila.


"Aqila," erangku frustrasi.


"Oke, Tuan David galak," sahut Aqila sembari tersenyum.


"Kau." Aku mengacungkan jari telunjuk tepat di hidungnya.

__ADS_1


"Aku ingin pernikahan kita diadakan secara sederhana. Kamu mau, 'kan?" Aqila meraih tanganku, meletakkannya di pipi putihnya.


"Kenapa?" tanyaku pelan.


"Aku tidak terlalu suka dengan keramaian, kemewahan," terangnya tanpa memutus tatapan kami.


"Oke. Bisa aku pikirkan. Asal ...." Aku sengaja menggantung kalimatku.


"Asal apa?" tanyanya penasaran.


"Asal setelah menikah, kamu harus melayaniku semalam penuh," seringaiku licik.


"A-aku ...."


"Tidak ada bantahan," selaku.


"Dasar otak mesum," celetuknya kemudian.


Aku tertawa terbahak melihat rona merah di pipinya. Ingin rasanya kugigit bibir itu.


Ah, sial.


Lagi-lagi pikiranku dipenuhi adegan dewasa.


"Apa ... kamu tidak ingin memperkenalkan aku kepada mantan istrimu?" tanya Aqila pelan.


"Untuk apa?" Aku balik bertanya.


"Kenalan lah ... untuk apa lagi?" tajuk Aqila.


"Enggak perlu. Nanti juga kalian kenal sendiri," balasku malas.


"Kenapa kalian bercerai?" tanya Aqila lagi.


Aku mengedikkan bahu. "Enggak jodoh. Jodohku kamu, Aqila," balasku penuh penakanan.


"Ish, gombal," sahutnya.


"Nama kamu kenapa pendek sekali, sih?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Rasanya tak nyaman membicarakan tentang mantan dengan calon istri.


"Biar mudah diingat, 'kan?" jawabnya santai.


"Iya, sih. Pantas saja para rentenir itu sangat - sangat ingat pada namamu," sahutku menyindir.


"Sialan," balas Aqila sembari menepuk bahuku.

__ADS_1


"Sudah ah, aku mau turun. Bye ...." Aqila membuka pintu mobil lalu keluar. Tanpa kata, tanpa basa basi.


"Jangan lupa. Minggu depan kita menikah!" seruku tanpa mendapatkan tanggapan dari wanita itu.


__ADS_2