Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab. 33


__ADS_3

Aku menggeliat, menegdurkan otot-otot yang terasa menegang. Akhirnya, rapat ini selesai juga.


Usai rapat, Adrian memutuskan untuk segera pergi. Sebab, sudah ada janji makan siang bersama keluarga kecilnya.


Ugh, romantis sekali. Pasti akan sangat menyenangkan jika bertemu dengan istri tercinta dan buah hati setelah kesibukan yang mendera. Bahagia sekali kehidupan mereka.


Aku membayangkan bagaimana wajah Ana mantan istriku itu tersenyum saat menikmati makanan kesukaan. Ah, andai saja aku dulu tak sebodoh itu. Kebahagiaan yang Adrian miliki sekarang bisa aku miliki dulu.


Notifikasi pesan masuk membuyarkan bayang akan wajah Ana yang tersenyum. Tanganku bergerak mengambil ponsel di atas meja. Melihat siapa yang mengirimkan pesan di jam segini.


Rupanya, balasan dari Aqila atas pesanku tadi pagi.


Aqila:


Maaf baru balas ya, Abang. Sekarang udah makan siang belum? Makan pakai apa?

__ADS_1


Aku mengerutkan kening. Membaca pesan Aqila seperti sedang mendapatkan interogasi saja. Tak ingin membalas pesan itu, aku pun langsung melakukan panggilan. Tidak menunggu waktu lama, di detik pertama suara Aqila terdengar di telinga.


"Ya? Halo, Bang."


"Kamu lagi ngapain?" tanyaku tanpa basa-basi.


"Ini tadi lagi bersih-bersih saja, Bang. Terus masak. Abang sudah makan belum?" Suara Aqila terdengar merdu di telingaku.


"Belum sih. Baru selesai rapat. Bentar lagi mungkin," jawabku apa adanya.


"Emang kamu udah makan?" tanyaku perhatian. Jangan sampai dia memperhatikan pola makanku. sedangkan dirinya tak memperhatikan pola makannya sendiri. Apa lagi, Aqila baru sembuh dari sakitnya.


"Oh ... udah, kok, tadi aku udah makan."


Ada perasaan lega saat mendengar jawaban Aqila yang tidak melupakan makan siangnya.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu, aku mau makan dulu. Jangan capek-capek, kamu baru sembuh dari sakit," pesanku sebelum menutup panggilan.


Selanjutnya, aku meminta sekretarisku itu untuk memesankan makan. Sebenarnya, tadi dia sudah mau memesankan makanan untuk kami saat rapat berlangsung. Mengingat, rapat masih berjalan saat waktu makan siang tiba. Bahkan baru selesai di jam dua siang.


Aku berdiri dari kursi kebesaran. Berjalan ke arah jendela lalu menyibak tirai. Menatap pemandangan keramaian jalan yang tiada habisnya. Aktivitas di kota besar ini seperti tak ada capeknya sama sekali. Mungkin, ya sama sepertiku. Jika berhenti bergerak maka banyak orang yang akan dikorbankan. Termasuk perutku sendiri.


Setiap hari, aku harus berpikir keras agar perusahaan ini terus berjalan, terus bergerak dan terus menghasilkan. Lantas, bayangan akan keluarga yang harus dihidupi kini berkelebatan di kepala. Satu sosok yang kini menghiasi ingatanku. Aqila.


Ah, bagaimana pun, Aqila sudah menjadi tanggung jawabku. Sebagai suami sudah sepatutnya diriku menjamin kelangsungan hidupnya itu. Tak mungkin aku biarkan dia bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, bukan? Sebab, sekarang aku yang bertanggung jawab atas semua hal yang ada padanya.


Ketukan di pintu berhasil membuyarkan anganku. "Masuk!" seruku memberi perintah.


Sekretarisku mengantarkan makanan pesanan. Dia meletakkan di atas meja. Setelah menyiapkan hidangan itu, barulah dia berpamitan pergi.


Aku melangkah lebar menuju sofa. Sudah tak sabar ingin segera melahap habis makanan itu. Sebab, cacing di perut ini sudah demo minta diisi.

__ADS_1


Saat suapan pertama hendak masuk ke mulut. Aku mengingat sesuatu. Tak ingin makan sendirian, aku berencana untuk menghubungi Aqila -istriku.


__ADS_2