Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab. 45


__ADS_3

Semakin hari, aku mendapati Aqilla yang semakin diam. Wanita itu bak patung menekin yang di pajang di toko -toko pakaian. Seakan tak bernyawa dan tak mempedulikan orang di sekitarnya.


Biasanya, saat sepulang dari kantor, aku akan mendapatinya menunggu kepulangan ku lalu bertanya apa yang aku inginkan.


Beberapa waktu ini, tak ada pertanyaan itu. Aqilla hanya menunggu lalu menuanbutku dengan wajah kuyu. Dia terlihat lemas seperti orang yang belum makan berhari-hari. Kemudian, pergi begitu saja setelah mengambil tas kerja dari tanganku. Masuk ke ruang kerja untuk meletakkan tas itu. Lantas barulah masuk ke kamar.


Ada hal yang tak pernah Aqilla lupakan. Dia selalu menyiapkan pakaian ganti di atas ranjang. Jadi, setelah aku selesai mandi. Aku berganti pakaian yang telah dia siapkan itu.


Seperti hari sebelumnya pula. Aku akan langsung beranjak ke ruang makan. Berbagai hidangan telah tersaji di atas meja. Aku menarik kursi lalu duduk di sana. Menerima nasi yang telah diambilkan Aqilla. Kemudian aku hanya tinggal menunjuk saja, maka wanita itu akan mengambilkan lauk maupun sayur yang aku inginkan.


Dia begitu cekatan menyiapkan segala keperluanku. Memenuhi semua kebutuhanku. Baik secara fisik maupun psikis.


Aqilla. Bahkan saat seperti sekarang pun. Ketika aku meminta dilayani di ranjang, dia tetap melayani dengan baik.


Aku menikmati makan malam dalam diam. Hari ini, pekerjaanku tidak terlalu banyak. Jadi bisa pulang lebih cepat dari malam sebelumnya yang sampai rumah saat larut malam. Aqilla masih berdiri di samping meja makan. Menunggu diriku. Sampai selesai.


Jika biasanya aku akan menyuruhnya makan. Malam ini tidak lagi. Aku sudah bosan. Setiap kali menyuruhnya, dia akan menolak. Jadi, biarkan saja dia.


Setelah aku menyelesaikan makanku. Kemudian mendorong kursi dan beranjak dari sana. Kembali ke kamar. Barulah Aqilla bergerak. Membereskan meja makan dan mencuci peralatan bekas makanku.

__ADS_1


Sesampainya di kamar, aku tidak langsung berbaring. Memilih untuk duduk bersandar kepala ranjang, memeriksa ponsel kalau saja ada pesan masuk ataupun email yang belum aku periksa.


Pintu kamar terbuka. Sosok Aqila melangkah pelan masuk ke kamar. Secara pelan dan hati-hati pula, wanita itu menutup pintu dari dalam. Kemudian melangkah menuju kamar mandi.


Oh iya, aku juga belum menggosok gigi dan mencuci wajah sebelum tidur.


Aku meletakkan benda pipih di tangan ke atas nakas. Kemudian bergerak menurunkan kaki ke lantai. Setelah Aqilla keluar dari kamar mandi, barulah aku masuk.


Membutuhkan waktu kurang dari lima belas menit untuk aku bersih-bersih. Kemudian keluar dan mendapati wanita itu telah berbaring di atas ranjang dengan posisi miring menghadap tembok.


Aku perhatikan, sudah beberapa hari ini dia tidur dengan posisi begitu.


Kalaupun aku minta dilayani, Aqilla akan kembali tidur dengan posisi itu setelah sesi percintaan kami selesai.


Aku menggelengkan kepala berulang kali. Tak habis pikir dengan tingkah Aqilla.


Biarkan saja dia seperti itu. Aku naik ke atas ranjang, lalu berbaring dengan posisi menghadap langit-langit kamar. Sesaat, ujung mataku melirik pada Aqilla yang masih tidur dengan posisi semula.


"Aqilla," panggilku dengan suara amat pelan nyaris berbisik pada diri sendiri.

__ADS_1


Hening. Wanita itu tak bergeming sedetik pun. Seolah, tak terusik dengan suaraku.


Aku mengubah posisi. Berbaring miring memunggungi Aqilla. Mencari posisi nyaman yang tak juga aku dapatkan.


Apa aku meminta Aqilla agar ...?


Oh tidak. Aku sedang tidak menginginkan Aqilla malam ini.


Mencoba memejamkan mata. Namun, lelap tak jua datang. Padahal, mulutku sudah berulang kali menguap.


Aku bergerak lagi, mengubah posisi seperti tadi. Berbaring menghadap langit-langit kamar. Memejamkan mata, tetapi beberapa menit kemudian kedua kelopak mataku ini mendadak terbuka. Aku tak bisa mendapatkan lelapku.


Ah, sial.


Terakhir, aku mengubah posisi menghadap Aqilla. Merasa tak tahan, aku pun bergerak pelan.


Pertama -tama, aku mengulurkan satu tangan menyelusup ke ceruk leher wanita itu. Agar tangan ini menjadi banyak untuk Aqilla. Kemudian, kedua aku merapatkan tubuh sampai jarak di antara kami tak lagi terbentang. Tanganku yang bebas menarik tubuhnya agar tubuh kami semakin merapat.


Aku sampai harus menahan napas saat mendapati Aqila yang menggeliat sembari melenguh. Sepertinya ia terganggu dengan ulahku. Namun, hal yang berikutnya terjadi adalah ... Aqilla mengubah posisi tidurnya. Kini dia menghadapku.

__ADS_1


Aku sampai harus menahan senyum karena merasa senang. Tak ingin membuang waktu, aku merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukan. Menikmati sensasi hangat yang melenakan. Tak perlu menunggu lama, kelopak mataku perlahan tertutup rapat. Lantas, aku mendapatkan lelapku dalam pelukan Aqilla di dadaku.


Aku berharap bisa bangun lebih awal dari Aqilla. Atau, saat dia terbangun lebih dulu, posisi kami telah berubah. Namun, dugaanku salah. Saat aku membuka mata, Aqilla masih tidur dalam pelukan. Dan ketika aku hendak melepaskan pelukan kami, kedua kelopak mata wanita itu justru terbuka lebar dengan mata yang membulat sempurna.


__ADS_2