
Aku tidak bisa berpikir selain umpatan umpatan kesal karena laju kendaraan roda empat ini lamban sekali. Perjalanan yang harusnya ditempuh tak lebih dari tiga puluh menit, seakan akan memakan waktu satu abad. Aku sungguh sangat kesal sekali.
"Abang ...." Aqilla kembali memanggil. Dia memegang tanganku sangat erat, seperti menyalurkan rasa sakit yang dideritanya.
"Iya, Sayang ... Abang di sini," sahutku lirih dengan suara bergetar.
"Abang ... maafkan ... aku," ucap Aqilla tersendat sendat.
Oh Tuhan! Tolong pindahkan saja rasa sakit Aqilla padaku. Biar aku saja yang sakit. Aku sungguh tidak tega melihatnya kesakitan begini.
Satu tanganku yang bebas segera mengusap air mata yang menitik di pipi. Aku benar benar tidak tahan lagi untuk tidak menangis melihat Aqilla merintih kesakitan.
Apa katanya? Minta maaf. Aku belum siap ditinggal olehnya.
"Cepat sedikit, Bego!" seruku ketus pada si sopir yang sangat lamban melajukan kendaraan ini.
"Abang jangan marah marah," ujar Aqilla sambil mengelus pipiku lembut.
"Iya iya, aku tidak akan marah marah lagi. Tapi kamu harus janji, kalau kamu enggak bakalan kenapa Napa. Kamu harus sehat dan selamat. Oke?" pintaku sungguh sungguh.
Aqilla tersenyum lemah. Kepalanya mengangguk pelan lalu matanya terpejam rapat. Tangannya yang berada di pipiku pun seketika terlepas.
"Aqilla!" jeritku pilu dengan isak tangis.
Sesampainya di rumah sakit, aku segera membopong tubuh Aqilla yang tak sadarkan diri. Menjerit meminta bantuan pada petugas jaga.
__ADS_1
Tidak berapa lama kemudian, petugas itu justru mengusirku.
"Aku mau masuk. Mau menemani istriku," pintaku memohon.
"Maaf, Bapak. Bapak tunggu di luar sebentar ya, kita akan melakukan pemeriksaan."
"Aku tidak akan mengganggu!" hardikku kesal sambil menepis tangan tangan yang menahan lenganku.
"Maaf, Pak. Tolong mengerti. Dokter juga butuh konsentrasi agar bisa memeriksa pasien dengan benar--"
"Sudah aku bilang, aku enggak akan mengganggu." Aku masih bersikukuh pada tekadku untuk menemani Aqilla di dalam.
"Anda tidak mau istri Anda kenapa napa bukan?"
"Apa maksud kamu, ha? Tentu saja aku tidak mau istriku kenapa napa." Aku berteriak dengan napas memburu.
"Kalau begitu. Berhenti di sini dan silakan duduk di kursi tunggu yang telah disediakan rumah sakit. Serahkan pemeriksaan istri Anda kepada ahlinya yaitu dokter," kata lelaki itu tegas. Matanya tajam seperti ingin menelan diriku hidup hidup.
Mulutku telah terbuka hendak mengucapkan kalimat bantahan saat seseorang dari dalam memanggil bantuan. Seketika, aku hanya bisa terkatup rapat. Dengan perasaan khawatir, aku pun mengangguk pasrah, menuruti perintah lelaki itu.
Saat ini, aku seperti seorang pecundang yang kalah sebelum menyerang lawan.
Aku terduduk di kursi tunggu dengan pikiran hampa dan tatapan yang entah ke mana. Isi kepalaku ini carut marut.
Aku mengacak rambut secara kasar, lalu menjambaknya dengan keras. Tiba tiba saja, kepalaku ini terasa sangat sakit sekali.
__ADS_1
Suara ponsel yang berdering sejenak bisa mengalihkan pikiranku yang rumit.
Mataku mendelik saat melihat nama Adrian terpampang di layar benda pipih ini. Segera kugeser ikon berwarna hijau untuk menerima panggilan lelaki itu.
"Ada kabar apa, Adrian? Jangan kasih gue kabar buruk, atau enggak akan kutikam lu juga," jawabku ketus saat ponsel telah ditempelkan di telinga.
"Lelaki asing itu telah diamankan di kantor polisi. Gimana kabar Aqilla?" tanya Adrian. Suaranya terdengar santai.
"Istriku masih diperiksa. Kenapa? Aku bersumpah akan membuat lelaki itu busuk di penjara. Berani beraninya di menyakiti istriku," sahutku kesal.
"Nanti segera kabari gue kalau Aqilla udah sadar ya, Bro. Setelah urusan di sini selesai, gue langsung ke sana--"
"Lu sendirian aja, enggak usah bawa Anna apalagi Putri. Kasihan mereka berdua."
"Iya, mereka berdua sudah pulang ke rumah. Gue sendirian ini di kantor polisi. Kita butuh keterangan Aqilla untuk kasus ini," jelasnya.
"Oke. Buruan ke sini, gue butuh teman. Tapi enggak usah kabari Mami dulu, nanti beliau malah khawatir juga," pesanku.
"Oke oke. Mami dikabari kalau pas sudah ada kabar dari Aqilla aja. Mau gimana pun tetap harus dikabari kan?"
"Iya. gue tahu."
Panggilan pun diputus. Aku menyandarkan kepala di dinding. Memikirkan kejadian ini membuatku geram saja. Siapa sebenarnya lelaki sialan itu? Dan, apa hubungannya dengan Aqilla kenapa dia mau mencelakai istriku?
Awas saja kau lelaki sialan! Aku akan memberi kau pelajaran. Kau udah salah karena berurusan dengan David.
__ADS_1