Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab. 53


__ADS_3

Langkahku bergegas menyongsong mendekati mantan istriku itu. Perutnya sudah terlihat mulai membuncit. Dan, seperti pada kehamilan pertamanya, Anna selalu terlihat sangat cantik ketika hamil.


Tatapan kami bertemu. Senyumku langsung terukir lebar kala melihat Anna yang juga tengah tersenyum.


"Kamu sama siapa di sini?" tanyaku saat berdiri di hadapan wanita yang menegangkan dress selutut itu.


"Sama Mas Adrian dan Putri juga," jawab Anna masih dengan senyum.


Aku melongok, menatap arah belakan Anna. Mencari keberadaan dua orang yang dia maksud. Seperti tahu pertanyaanku, dia pun kembali bersuara, "Mereka lagi cari camilan. Putri ngerengek minta jajanan."


"Ah, anak itu," cicitku.


"Aqilla mana? Abang enggak mungkin sendirian datang ke mal ini, 'kan?" tanya Anna masih dengan senyum yang sopan.


Seketika, aku pun teringat pada Aqilla istriku. Ke mana dia?


Aku menoleh ke kiri lalu ke kanan. Aku yakin, tingkahku ini tidak akan luput dari perhatian Anna. Lantas, aku membalikkan tubuh menelisik sekitarku. Tadi dia di belakangku, 'kan, seharusnya?


Aku berdecak pelan. "Sebentar, sepertinya Aqilla sedang mencari sesuatu," kataku kemudian yang ditanggapi dengan anggukan oleh Anna.


Aku bergegas kembali ke area terakhir tempatku bersama Aqilla. Dia tidak ada di sana. Rasa khawatir sekaligus kesal kini bercampur di dalam dadaku. Ke mana perginya istriku itu. Seharusnya, jika dia bepergian bilang dulu kepadaku.


Aku pun mencari ke setiap lorong, tempat rak-rak itu di susun. Tidak ada penampakan Aqilla di sana.


"Apa mungkin dia ...." Aku bergegas mengeluarkan ponsel dari saku celana, menghubungi Aqilla. Namun, tidak mendapatkan respons. Hingga akhirnya, aku menemukan troli belanjaan kami telah berjajar di dekat kasir.

__ADS_1


Aku mendekati pelayan, menanyakan keberadaan istriku itu.


"Istri Bapak sepertinya pergi ke toilet. Tadi menitipkan barang belanjaannya di sini," kata petugas tersebut sembari menunjuk toilet yang berada di lantai ini.


Aku segera melangkah cepat menuju toilet yang dimaksud. Sesampainya di depan toilet, aku kembali menghubungi Aqilla.


"Iya, Bang?" Suara Aqilla terdengar lemah.


"Kamu di mana?" tanyaku cepat.


"Aku di ... huek!"


Mataku mendelik mendengar Aqilla yang mengeluarkan isi perutnya.


"Aqilla! Aqilla!" panggilku dengan suara lantang.


"Aku di sini, Bang," sahut Aqilla dengan suara lemah.


Aku segera mengetuk pintu bilik kamar mandi, saat memastikan keberadaan Aqilla. Pintu itu terbuka dan menampilkan wajah Aqilla yang pucat pasi.


"Kamu pucat sekali," ujarku berkomentar, kemudian segera membopong tubuhnya.


Aqilla sedikit memberontak, tetapi tak mampu melepaskan diri dariku.


"Istrinya sedang hamil ya?"

__ADS_1


"Hamil itu istrinya."


Komentar-komentar para wanita yang menyaksikan adegan kami ini bisa kudengar dengan jelas. Aku melewati mereka dan mengucapkan terima kasih kepada petugas yang tidak menghalangiku lagi menemui Aqilla.


"Kamu mau menunggu di mobil saja?" tanyaku ketika kami sudah keluar dari toilet dan kini duduk di bangku yang berada di lantai itu.


"Aku nunggu di sini saja. Belanjaannya kan banyak tadi, belum dibayar," sahut Aqilla masih dengan suara lemah.


Aku menarik kepalanya, meletakkannya di dadaku. Kepalaku seakan kosong seketika, dan hanya ada Aqilla di sana. Tanganku terulur, memberikan ucapan lembut di pipinya itu.


"Mau makan sesuatu?" tanyaku lagi penuh perhatian.


"Emang boleh. Kita sudah belanja sebanyak itu?" Aqilla justru balik bertanya.


"Aku tidak akan bangkrut dengan kamu yang belanja sebanyak itu ditambah makan dan beli yang lain lagi, Aqilla," sahutku gemas.


"Iya ... Iya. Aku mau es krim rasa coklat sama roti tawar," katanya sambil mengangkat kepala menjauh dariku.


Tanganku menahan gerakannya itu. Mengelus kepalanya.


"Tunggu sebentar di sini, enggak papa?" tanyaku memastikan. Aku benar-benar masih sangat khawatir dengan keadaannya.


"Iya. Aku nunggu di sini aja," balasnya disertai senyum tipis. Aku pun mengangguk, kemudian mengecup kening wanitaku itu. Perasaan sayang membuncah di dada untuknya. "Tadi aku lihat Kak Anna. Ke mana dia?"


Pertanyaan Aqilla menghantam dadaku. Tadi, karena aku terlalu fokus pada Anna sampai tidak menyadari jika Aqilla muntah-muntah di dalam kamar mandi. Sekarang, aku tidak mau hal tersebut terjadi lagi.

__ADS_1


__ADS_2