
Aku belum pernah merasakan kesengsaraan hidup, melebihi saat setelah diriku tidak sengaja bertemu dengan seorang lelaki bernama David.
Aku bahkan masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana rupa lelaki itu. Jangan lupakan nomor ponselnya yang sempat aku simpan di kontak ponsel jadulku.
Lelaki itu melakukan pertemuan perjodohan. Cih, seperti masih berada di zaman kerajaan saja. Kurang beruntungnya aku yang malah menjadi target salah kaprahnya si David itu. Bisa-bisanya dia salah orang dan aku malah mengiakan kesalahpahaman kami.
Aku sudah mencoba menghindari David dari segala penjuru. Nahasnya, orang suruhan lelaki itu selalu saja berhasil menemukan keberadaanku.
Setelah pertemuan pertama kami, aku kira semua akan kembali normal. Aku juga tidak menepati janji untuk menghubungi nomor yang David berikan.
Aku pikir, setelah hari itu tidak akan ada hari - hari lain yang mengharuskan diriku bertemu dengan lelaki bernama David itu. Ternyata aku salah, bahkan tanpa disengaja dan direncana pun, aku malah berada di depan unit apartemen lelaki itu sebagai kurir pengantar makanan.
Kurang sial apa coba hidupku ini?
Nyatanya, diperhatikan sedemikian rupa oleh David membuatku ketakutan juga. Entahlah, seperti ada sesuatu yang menggetarkan hatiku. Bertemu dengannya tidak hanya membuat nyaliku ciut, tetapi juga berhasil menggetarkan seluruh tubuhku.
Setelah berhasil melewati pertemuan kami saat itu, rupa - rupanya aku juga harus bertemu dengannya saat tengah membantu seorang nenek - nenek.
Demi apa coba, aku harus bersembunyi dari pengejaran David. Hah, seperti penagih utang saja yang memburu si pengutang yang belum bayar.
Di hari berikutnya, aku harus berhadapan dengan orang - orang yang tidak dikenal. Mencari keberadaanku juga lokasi tempatku tinggal.
Untungs saja, tidak banyak barang yang aku miliki. Hanya beberapa helai pakaian saja, sehingga tidak terlalu menyulitkanku dalam mengangkut barang - barang dari satu tempat ke tempat yang lain demi menghindari David.
Ternyata, kesialan hidup seringkali tak mampu dihindari.
Aku harus mengantarkan makanan ke unit apartemen si David.
Aku heran, kenapa pas diriku yang menerima orderan dia?
Lebih heran lagi, aku tidak berniat sama sekali untuk membatalkan pesanan lelaki itu.
Seperti waktu itu, aku memakai masker lengkap dengan kaca mata dan topi. Guna melakukan penyamaran agar David tidak mengenaliku.
Mengingat, beberapa waktu lalu David mencari - cari keberadaanku. Bukan tanpa alasan aku melakukan penyamaran sedemikian rupa ini.
Aku berdiri dengan tubuh gemetar, khawatir jika kali ini David menyadari kehadiranku. Menyadari penyamaran yang selama ini aku lakukan.
Aku bisa bernapas lega saat lelaki itu tidak menaruh curiga padaku. Transaksi kami berjalan dengan lancar tanpa hambatan, sampai saat aku melangkahkan kaki meninggalkan unit apartemen itu. Teriakan David menghentikan langkahku.
__ADS_1
Aku menggelang pelan sembari menahan napas, saat mendengar David melangkah cepat mendekatiku.
Cepat - cepat aku mengatur emosi serta ekspresi wajah agar terlihat datar saja. Biasa saja, agar lelaki itu tidak menyadari kegugupan diriku.
"Iya, Pak? Apa ada yang terlupakan?" tanyaku cemas.
Kami berdiri dengan tubuh yang saling berhadapan. Jantungku bertalu - talu menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Ada yang kamu lupakan," ucapnya tegas dengan tatapan tajam.
Perlakuan yang aku terima dari lelaki itu membuatku tersentak kaget. Tidak lama kemudian, David membawaku masuk ke apartemennya.
Lelaki itu melakukan segala sesuatu semaunya sendiri.
Aku sibuk mengumpat lelaki bernama David tersebut, terlebih saat dia mengakui diriku sebagai calon istrinya.
"Sejak kapan aku menjadi calon istrimu, David?" tanyaku dengan tatapan nyalang.
David berdiri menjulang di hadapan, sedangkan aku terduduk di sofa.
"Sejak saat ini. Dan kamu, jangan coba - coba lagi untuk kabur dari pandanganku. Mengerti?" tegas David lagi.
Enak saja dia mengaku - akui diriku sebagai calon istrinya.
Aku berdecak kesal, lalu membuang tatapan ke samping. Ada rasa jengah menyusup hatiku, saat kedua manik hitam itu memandangku dengan tatapan sendu. Entah ke mana perginya mata tajam itu.
Aku mendesah pelan, lalu kembali menatap tatapan lekat David. Lantas, lelaki itu tampak menyugar rambut lalu melangkah lebar menuju sofa. Tanpa kata, David duduk di sofa panjang tersebut.
Dengan gerakan memaksa, David mencengkeram bahuku agar menghadap kepadanya.
"Karena kamu menghilang ke sana kemari, membuatku kesulitan mencari. Karena alasan itu pula, kamu tidak bisa lagi menghindar dariku sekarang," ucap David dengan tatapan lebih tenang.
Ucapannya tampak berputar - putar tidak jelas, aku mengerutkan kening berpikir apa maksud perkataan lelaki di hadapanku ini. Lantas, ujung mataku melirik ke arah tangan yang masih memegang erat bahuku.
"Kita tidak ada hubungan apa pun, kalau kamu ingat. Perlakuan kalian seperti tukang kredit saja. Mencari - cariku sampai ke mana pun aku pergi. Padahal, aku tidak merasa punya utang, tuh," cerocosku.
Wajah David tampak datar dengan tatapan yang hangat. "Kamu punya hutang sama aku, Aqila. Apa kamu lupa?"
David tersenyum tipis, lalu melanjutkan ucapannya, "Aku memintamu menghubungiku. Tapi tidak kau lakukan. Itu hutang."
__ADS_1
Aku berdecak kesal, merasa terjebak dengan situasi ini. Tubuhku bergerak untuk melepaskan cengkraman kedua tangannya. Namun, bukannya terlepas, David malah merengkuhku sampai tidak bisa bergerak.
"Lepas," desisku.
"Tidak akan. Sampai aku memastikan dirimu tidak akan kabur - kaburan lagi," balasnya santai.
"Kita bahkan tidak saling kenal, David. Kamu seenaknya saja mencium dan memelukku. Apa kamu kira aku ini wanita murahan, ha?" cicitku.
Aku masih berusaha memberontak dari kungkungan kedua tangannya. Sayangnya, tenagaku tidak cukup kuat.
"Kamu harus janji dulu jika tidak akan kabur lagi," ucapnya.
"Enggak," ketusku.
David malah semakin mengetatkan pelukannya. Sampai aku kesusahan napas. Kalau begini, bisa remuk juga tulang belulang tubuhku.
"Janji dulu," tegasnya.
"Oke," ucapku kemudian karena merasa tidak ada gunanya melawan.
"Oke apa?" tanya David.
Ah, sial. Hangat napas lelaki itu bisa kurasakan di ceruk leherku. Membuat tubuhku meremang sekaligus merinding ketakutan.
"Aku janji enggak akan kabur lagi," ucapku pasrah.
"Oke." David mengurai pelukan kami. Lalu meraih tanganku, menggenggamnya erat.
"Kamu tahu, 'kan, kalau aku sudah melunasi hutang - hutangmu di preman - preman itu. Jadi, jangan coba - coba melawan. Lagian semua ini juga karena salahmu," terang David
"Salahku?" elakku tak percaya.
"Iya. Kenapa kamu tidak bicara jujur dari awal kalau aku telah salah orang. Jadi, semua ini salahmu dan kamu harus bertanggung jawab," jelas David.
Aku menahan senyum. Dasar lelaki bodoh ke mana perginya otak pintarnya itu. Bisa membayar orang, tetapi tida bisa membedakan pertemuan yang salah dengan benar.
"Lagian kamu juga, udah tahun berapa masih aja mengikuti ajang perjodohan," kekehku.
Siapa sangka, jika David malah tertawa terbahak.
__ADS_1
Sejenak, aku terpana oleh raut wajahnya yang berseri. Lelaki itu tampan dan menawan.