Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab. 42


__ADS_3

Aku keluar dari kamar Mama dengan langkah tergesa. Ingin rasanya untuk segera mengomeli Aqilla. bisa-bisanya dia mengabaikan kesehatan dirinya sendiri. Tidak peduli dengan dirinya sendiri. Padahal, dia baru saja sembuh dari sakitnya.


Aku menuju ruang tamu. Tadi dia aku tinggalkan di ruangan itu. Rupanya, Aqilla sudah tidak ada lagi di sana.


Masih dengan langkah lebar nan tergesa, aku menuju ruang makan. Ternyata, Aqilla juga tak ada di ruangan itu.


Di mana dia?


Perasaanku semakin bercampur aduk sekarang. Namun, perasaan marah lah yang lebih dominan. Aku melangkah cepat setengah berlari menaiki tangga ke lantai atas, tempat kamarku berada. Membuka pintu dengan gerakan tergesa pula.


Mataku sampai mendelik dan rasanya bola mata ini hendak meloncat keluar saat tak mendapati Aqilla di kamar ini. Saat embusan angin menerpa kulit, saat itu pula aku menyadari mungkin saja Aqilla ada di balkon kamar.


Pintu penghubung antara balkon ke kamar terbuka. Dan benar saja, ada wanita itu di sana. Bersandar pada pagar dengan kepala mendongak melihat ke atas.


Sedang apa dia?


"Sedang apa kamu di situ? Malam-malam begini. Sendirian pula?" Aku bertanya sembari melangkah pelan mendekat pada Aqilla.


Aku mengatur napas yang sempat ngos- ngosan karena mencari keberadaannya tadi.


Dia menoleh. "Lagi lihat bintang, Bang. Kapan Abang ke sini? Apa perlu sesuatu?"

__ADS_1


Suara Aqilla terdengar serak. Seperti suara habis menangis.


Aku pikir, Aqilla termasuk wanita yang kuat dan tegar. Ya ... yang tidak gampang menangis seperti wanita yang lain. Cenderung lemah. Dia tampak kuat dari luar. Rupanya, wanita itu juga bisa menangis. Dia sama dengan wanita yang lainnya.


"Pertanyaan ku belum kamu jawab dan kamu sudah mengajukan pertanyaan padaku," ketusku.


Aku bisa melihat jika Aqilla tersentak. Matanya membola. Mungkin kaget dengan jawabanku padanya.


Akan tetapi, aku benar-benar kesal pada Aqilla itu. Setiap kali aku mendekat padanya, bertanya tentang keadaannya atau menanyakan sesuatu mengenai apa yang sedang dia lakukan. Maka, bukan jawaban langsung yang aku terima melainkan pertanyaan balik mengenai sesuatu yang aku butuhkan.


Seperti tadi. Aqilla langsung bertanya apakah aku membutuhkan sesuatu.


Padahal aku datang untuk memastikan info yang diberikan Mama.


Kepala Aqilla menunduk seperti orang yang takut akan sesuatu. Apa aku semenakutkan begitu bagi dirinya?


"Apa kamu takut padaku?" tanyaku tanpa bisa menahannya.


Akan terdengar mengerikan sekali jika ternyata Aqilla takut padaku bukan?


Kata Adrian, sebagai suami lelaki memiliki kewajiban untuk melindungi wanitanya. Istrinya. Dan itu bukanlah sekadar tanggung jawab belaka tetapi tentang rasa yang ada di dalam dada.

__ADS_1


Aku menunggu. Detik berlalu seperti berjam-jam buatku.


"Aqilla," panggilku lagi. "Apa kamu takut padaku?"


Aku mendekat. Menyentuh dagu Aqilla menggunakan jari telunjuk, mendongakkan dagunya itu agar dia membalas tatapanku. Aku ingin melihat binar di matanya.


Redup. Dan berkaca-kaca.


Sial.


Ada yang sesak di dalam dadaku saat melihat raut Aqilla yang tampak menyedihkan itu.


Sedetik kemudian, sebulir bening mengalir di pipinya. Selanjutnya, bisa kutebak. Aqilla terisak-isak.


"Jadi benar. Kamu takut padaku." Aku menyimpulkan dengan suara getir. "Jadi. Saat kamu berhadapan dengan aku tak ubahnya seperti berhadapan dengan monster?" tanyaku sinis.


"Maaf ...."


Demi Tuhan, Aqilla! Aku lebih senang berdebat denganmu. Bertengkar denganmu. Daripada harus berhadapan dengan keadaan seperti ini. Sungguh, ini mengingatkan diriku akan kejadian di masa lalu. Dan aku sangat membenci itu.


"Aku tak butuh maafmu. Aku hanya butuh kamu menjawab pertanyaan yang aku berikan. Itu saja."

__ADS_1


Setelah itu. Air mata Aqilla mengalir seperti anak sungai.


Wah. Menyebalkan.


__ADS_2