
Aku berangkat bekerja seperti biasanya. Di kantor juga tidak ada yang spesial selain kedatangan Adrian yang mengabarkan tidak akan hadir saat peresmian pembukaan cabang baru.
"Lu harus ikut berpartisipasi, Bro. Itu kan perusahaan sama - sama," ujarku dengan tatapan serius yang hanya ditanggapi kekehan pelan saja.
Aku mendengkus, bukankah sudah kukatakan berulang kali. Ini perusahaan bersama, tetapi lelaki itu seakan telah lepas tangan.
"Heh. Gua serius malah cengengesan," gerutuku kesal.
"Lu aja dah pak direktur yang ngurusin. Kan lu boss nya. Gua ngikut aja," sahutnya santai.
"Terus mau gimana?" tanyaku malas.
Aku mengendurkan dasi dan membuka kancing kemeja teratas. Lantas duduk menyandarkan punggung ke sandaran sofa, meletakkan kedua tangan dan saling bertautan di kaki yang dilipat.
"Ya, lu aja yang urus. gua nurut aja. Lagian besok itu pas waktunya Anna kontrol," jawabnya menjelaskan.
"Kontrol?" Aku menegakkan punggung menatap Adrian penuh selidik. "Anna sakit apa?"
"Cuma kontrol kesehatan aja. Kemarin sempat telat datang bulan," jawabnya.
Aku sedikit kaget mendengar jawabannya.
Telat datang bulan? Apa itu berarti mereka akan memiliki calon anak yang kedua? Apa kabar dengan pernikahanku.
Aku mengusap wajah kasar. Merasa tertohok dengan pikiran sendiri.
Di saat pernikahan yang dijalani menemui masalah, Adrian dan Anna justru tengah bersiap yang kedua.
"Lu, baik - baik aja kan?" tanyanya pada akhirnya.
__ADS_1
"Gu - gue? Iya, baik," jawabku gugup.
"Iya, gue tahu lu baik. Maksudnya pernikahan ini. Kalian serius dengan pernikahan ini?"
"Jelas aja kita serius, Dri. Lu kira gua main - main dengan Aqila," ujarku tak terima.
Adrian terkekeh pelan. "Syukurlah. Setidaknya, masalah satu telah selesai. Walaupun kemarin sempat terjadi keributan Karena kedatangan Alina. Tapi jangan khawatir, aku yakin kalian bisa menghadapinya," ujarnya tenang.
"Iya, gimana ceritanya Alina bisaa datang ke acara pernikahan kami. Gua lupa terus mu nanyain itu ke kalian. Walaupun sudah dua bulan berlalu, tetap aja penasaran."
Aku memasang kedua telinga untuk mendengarkan penjelasan Adrian dengan seksama.
"Alina sudah sembuh. Dan kemarin itu kaget karena dengar lu nikah. Di kira lu bakal nungguin Dia gitu. Entahlah, bingung juga. sudah lah lupakan," jelas Adrian.
Aku tahu Adrian juga bingung dengan situasi itu. Terlihat jelas dari ekspresi wajahnya yang tampak kebingungan, sesekali matanya menerawang seakan tengah memikirkan beban berat yang bergelayut di kepala.
Aku mengedikkan bahu, tentu saja tidak mengerti dengan masalah itu.
"Gua berdoa semoga dia bisa segera menemukan pendamping hidup yang tepat," ujarku tulus
"Lu beneran udah melupakan Alina atau pun Anna?" tanya Adrian yang seketika membuatku tersedak.
"Apa - apaan, lu?" Aku melayangkan tinju di udara.
"Iya ... kan, kalian pernah dekat dan menjalin cinta. Jadi gua pikir masih ada rasa gitu untuk salah satunya. Tapi awas aja lu kalau masih nyimpan rasa ke istri gua. Gua kasih perhitungan juga lu." Adrian mengepalkan tinju dengan bibir terkatup. Matanya mendelik garang.
"Ya enggak lah, gua udah serius sama Aqila dan enggak akan berani macam - macam," selorohku. "Mana Aqila galak lagi, bisa - bisa gua dicincang sama dia." Aku pun tertawa terbahak membayangkan wajah seram Aqila yang marah.
Dia diam sehari saja aku kebingungan, bagaimana mungkin berani memancing kemarahannya yang menyeramkan itu.
__ADS_1
"Jadi, lu sudah jadi suami yang takut istri sekarang?" ledek Adrian.
"Lha, emang siapa yang ngajarin. Kan elu, bro," kelakarku kemudian.
"Sialan, lu. itu namanya cinta, Bro. Cinta. ngerti enggak lu?"
"Itu tau."
kami pun tertawa bersama.
Berbincang - bincang dengan Adrian itu melupakan waktu. Rapat ini itu akhirnya tertunda, padahal besok aku sangat sibuk.
Beberapa hari ini juga pulang larut malam karena sibuk mempersiapkan pembukaan cabang baru.
Sesampainya di rumah, ku pikir Aqila telah terlelap. Rupanya wanita itu menungguku pulang.
Hm. Lumayan, dia telah menjadi istri idaman buatku.
Saat kutanya, kenapa dia tidak tidur duluan maka dia akan menjawab, "Emang sengaja nungguin. Ada yang beda rasanya kalau tidur enggak ada suami."
Aku pun akan membalas ucapan itu dengan senyum terkulum.
Ya, sejak acara jatuh di kamar mandi itu lalu berakhir dengan maaf - maafan disertai peluk - pelukan dan ... sudah tidak perlu dilanjutkan. Yang jelas, aku belum berani mengambil jatah malam pertama yang tertunda. Kami pun akhirnya tidur sekamar dan ... tentu saja seranjang.
Aku tidak akan tega membiarkan Aqila tidur di lantai atau di sofa, sedangkan aku tidur di kasur empuk nan luas.
Lagi pula, aku tidak mau tidur di lantak atau di sofa. Jalan satu - satunya adalah kami tidur di ranjang yang sama dengan saling berpelukan. Itu lebih baik dan lebih mengasyikkan.
Jangan lupakan, Jika kami adalah sepasang pengantin baru. Walaupun acaranya belum sampai ke ranah layaknya pengantin.
__ADS_1