Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab. 12


__ADS_3

Adrian marah. Itulah yang aku tangkap. Namun, lelaki itu sekuat tenaga menahan diri agar tidak terlihat marah di depanku. Dia ingin terlihat baik-baik saja.


Oke.


Tanpa menyapaku terlebih dahulu, Adrian berlalu meninggalkanku disusul kemudian oleh Anna di belakangnya, berjalan tergopoh - gopoh mengimbangi langkah lebar suaminya.


Meninggalkan aku sendirian di ruang makan ini.


Kesal, tentu saja. Akan tetapi, aku juga berusaha bersikap biasa saja.


Pertama karena ini bukan rumahku. Kedua, ya ... aku tidak ingin mereka berdua mengetahui kemarahanku.


Maka, aku pun melanjutkan menyuapkan makanan di hadapan ke mulut.


Tidak berselang lama, Adrian dan Anna datang bersamaan. Aku bisa menangkap dari ujung mata, jika Adrian begitu posesif kepada Anna saat ini.


Adrian merangkul bahu Anna. Tidak hanya merangkul, tetapi juga mencengkeram erat bahu itu.


Woi! Awas rontok tuh bahu.


Tatapan mata Adrian sekilas tampak tajam, lalu seketika berubah hangat.


Lelaki itu tersenyum tipis, kemudian dengan santainya berjalan ke arah kursi meja makan, melepaskan rangkulannya di bahu Anna. Kemudian menarik kursi. Lantas, kepalanya mendekat ke telinga wanita di sampingnya, berbisik. Entah apa yang dia katakan.


Anna tersenyum tipis, wajahnya tampak merona mendengar bisikan itu.


Kemudian, Anna pun duduk di kursi yang telah disiapkan Adrian.


Adrian mengusap pucuk kepala Anna, lalu ikut duduk di kursi sebelah istrinya.


Sial! Aku sedari tadi duduk di sini memperhatikan kemesraan mereka berdua seperti kambing congek. Tanpa sadar, sendok di tangan hanya kuaduk - aduk di piring. Padahal tadi, aku ingin bersikap biasa saja. Seolah - olah tidak terpengaruh dengan tingkah laku yang mereka tunjukkan, nyatanya ada bara yang membakar dada.


Ada kobaran api yang siap menghanguskan siapa saja. Termasuk membakar diriku sendiri, sebab setelah itu nafsu makanku menguap entah ke mana.


Anna mengambilkan nasi untuk Adrian. Lagi - lagi, mereka menampilkan kemesraan di depanku.


Aku berdeham keras, memberi peringatan kepada mereka jika ada orang lain di sekitar sini.


Adrian menoleh, lalu berujar sembari terkekeh, "eh, sorri, Bro. Gua kira enggak ada orang."


"Lu kira gua kambing apa?" sungutku kesal.


Sudah cukup, aku tidak bisa lagi menahan gejolak amarah ini.


"Hahaha, emang siapa yang mikir kalau ku kambing, David." Adrian tergelak, hingga wajahnya memerah.


Jangan lupakan wanita yang duduk di sampingnya. Anna ikut tertawa.


Mereka kira aku lelucon.

__ADS_1


"Lu, 'kan, tahu sendiri. Saat bersama kekasih seperti dunia milik berdua. Lu tau lah itu," ujar Adrian menggoda.


Aku berdecak kesal.


"Serah."


Adrian malah semakin tertawa terbahak mendengar gerutuanku.


"Makanya, jangan kelamaan jomlo. Begini nih jadinya, baperan tingkat dewa. Suka kesel aja kalau lihat orang lain bermesraan," ujar Adrian yang terdengar seperti ceramah ejekan di telingaku.


Aku tidak menjawab, hanya menatap sengit pada lelaki menyebalkan itu. Kemudian pandanganku berpindah kepada wanita di sampingnya. Anna menepuk lengan Adrian pelan.


"Jangan digodain terus, Mas," lirih Anna yang dibalas cengiran oleh Adrian.


"Jadi, gimana kisah perjodohan lu?" tanya David. Tangannya mulai sibuk menyuap nasi ke mulut.


Mendengar pertanyaan yang lelaki itu lontarkan, seketika aku tersedak ludah sendiri.


Ck. Kenapa hari ini aku berulang mengalami kesialan?


"Hati - hati, Bang." Anna akan menyodorkan segelas air putih kepadaku yang langsung dicegah si Adrian sialan.


"Biarin aja dia, lelaki enggak boleh manja," ujar Adrian sengit.


"Sialan, lu," gerutuku.


Aku meraih gelas di hadapan, meneguknya hingga tandas tak bersisa. Kemudian meletakkan gelas itu kembali ke meja dengan kasar.


Sialan Adrian, mulai berani ngelunjak dia.


"Lu, enggak usah sewot ya. Kenapa enggak dapat jatah ya dari bini lu?" sinisku sengaja menyulut emosi Adrian.


"Heh. Gini - gini, gua masih punya bini. Daripada lu, duda perjaka," ejek Adrian.


"Lu, sialan lu, ya. Berani sama gua."


Dari ujung mataku dapat menangkap dengan jelas raut wajah Anna yang telah merah padam. Percampuran antara rasa malu dan rasa marah, entahlah.


"Apa?" Adrian mengedikkan dagu dengan pongah.


Aku hendak berdiri saat seruan dari Anna menghentikan gerakanku.


"Sudah ... sudah! kalian kayak anak kecil aja, malu sama umur."


"Dia duluan!" seruku bersamaan dengan suara Adrian. Kemudian kami pun tertawa bersama, mengabaikan ekspresi Anna yang melongo tak percaya.


"Benar - benar kurang kerjaan," kekeh Anna sembari menggelangkan kepala berulang kali.


***

__ADS_1


Pertemuanku dengan Adrian berakhir dengan target pemasaran produk. Ada beberapa list yang harus dicapai bulan ini. Untuk itu aku harus lebih bekerja keras lagi mencapai impian tersebut.


Di kepalaku ini sekarang penuh oleh kemungkinan - kemungkinan yang akan terjadi, serta tahapan apa saja yang harus aku lakukan terlebih dahulu kepada karyawan di kantor.


Mobil berhenti di lampu merah. Mataku mulai melihat ke kendaraan lain, lalu melihat lagi ke depan, tidak lupa melihat ke arah mana saja yang bisa terjangkau oleh pandangan mata.


Mencari apa saja yang bisa kutemukan, termasuk pemandangan di hadapan.


Seorang wanita berkacamata tengah membantu wanita tua menyeberang.


Rambutnya dikuncir ekor kuda.


Entah kenapa, setelah pertemuan dengan Aqila saat itu aku selalu deg - degan melihat wanita yang kunciran begitu. Rasanya itu dia.


Aku mencondongkan badan, agar pandanganku bisa menangkap wajahnya secara jelas. Sial.


Namun, tiba - tiba wanita itu menoleh ke kanan. Rasanya dia tengah menatapku. Dan benar saja, wajahnya adalah wajah seorang wanita yang aku cari - cari.


"Aqila," desisku.


Bersamaan dengan itu, terdengar suara klakson yang saling bersahutan. Menyadarkan aku dari lamunan. Lampu telah berubah hijau. Aku segera melajukan kendaraan, berbelok di depan jalan yang tampak lengang.


Aku menghentikan mobil secara asal di pinggir jalan, lalu berlari ke sana kemari mencari sosok yang tadi aku lihat. Aqila.


Sial. Aku melayangkan tinju ke udara. Nihil. Wanita itu hilang seperti ditelan bumi.


Namun, bukan David namanya jika hanya sampai di sini. Maka, aku memutuskan untuk terus berjalan sampai beberapa menit berselang. Menanyakan ke beberapa orang yang aku jumpai. Lagi - lagi sial, tidak ada yang menemukan sosoknya.


Atau jangan - jangand dia termasuk makhluk kahyangan. Datang dan pergi sesuka hati. Turun ke bumi seperlunya saja.


Haish. Pikiranku mulai kacau oleh sosok Aqila itu. Siapa dia? Di mana dia?


Aku dengan cepat berlari saat menemukan wanita tua yang tadi ditolong Aqila.


"Permisi, Nek," sapaku pada wanita tua itu yang tengah duduk.


"Ya."


"Mau tanya, tadi cewek yang nolongin Nenek ke mana ya perginya?" tanyaku hati - hati.


"Enggak tahu dia ke mana, saya buta. Enggak bisa lihat apa - apa," lirihnya.


Keapesanku bertambah berkali - kali lipat.


Aku mengacak rambut frustrasi, menendang apa saja yang ada di hadapan.


Lantas kembali ke tempat mobilku terparkir, yang ternyata telah hilang berganti dengan seragam satpol PP.


Aku parkir sembarangan.

__ADS_1


Ya Tuhan!


__ADS_2