
Setelah memastikan kondisi Aqila baik- baik saja, aku pun memutuskan untuk berangkat ke kantor. Satu hari sudah cukup diriku libur dengan alasan menemani sang istri yang sedang sakit. Walaupun kenyataannya, aku tetap bekerja di rumah. Menyelesaikan pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu.
Tubuhku rasanya masih sangat berat. Semalaman aku hampir tak bisa memejamkan kedua mata. Selain karena memang banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, bayangan percintaanku dengan Aqila juga menguasai pikiran.
Gila!
Setelah sekian lamanya aku tak menyecap rasa manis itu, saat tubuhku bisa menikmatinya aku tak lagi mampu menahan diri.
Gila!
Aku seperti orang gila yang terus saja ingin melakukan permainan itu. Semua teori yang aku ketahui rasanya ingin aku praktikkan semuanya. Namun, tubuh Aqila pasti tak akan mampu bukan? Buktinya dia sampai sakit dan karena kebrutalanku itu, aku harus menahan diri lagi. Dan rasanya, kali ini lebih menyiksa dibanding malam -malam saat diriku sendirian dalam kesepian.
Aku menggelengkan kepala berulang kali. Mencoba mengenyahkan keinginan itu lagi.
Ayolah, David! Bisa mati sekarat nanti Aqila oleh tingkahku yang tak lagi waras.
"Abang ...." Suara lirih nan lembut itu mengalihkan fokusku.
Aku menoleh dan mendapati Aqila yang sedang membawakan tas kerjaku. Kemudian mendekat. Aku tahu kalau dia sedang mengajakku keluar dari kamar. Akan tetapi, pikiranku sedang tak bisa diajak berkompromi setelah semalaman menahan diri dalam penyiksaan panjang.
"Ya?"
__ADS_1
Oh, sial. Kenapa suaraku berubah serak begini?
"Aku antar ke bawah. Abang sarapan dulu ya," kata Aqila lagi.
"Sarapan. Are you oke?" tanyaku dengan pandangan yang semakin menggelap.
Lupakan keadaan Aqila. Aku tahu kalau dia sudah sehat, Heru juga telah mengatakan itu.
Aku cuma mau sarapan dia pagi pagi ini. Dia saja.
"Iya. Aku baik -baik aja, kok. Abang enggak usah khawatir. Ayok kita sarapan bersama--"
Belum tuntas Aqila berbicara dan entah apa yang akan dia katakan. Aku tak ingin mendengarnya lagi. Dengan gerakan cepat, aku meraih tubuhnya. Aku hanya ingin menenggelamkan diriku pada dirinya saja.
"Aku mau sarapan, sekarang. Sama kamu," kataku dengan perasaan yang semakin menggila.
Tak ingin repot -repot naik ke atas ranjang. Aku justru ingin 'sarapan' di sofa saja. Dengan gerakan cepat, semuanya pun terjadi. Dan dengan gerakan cepat pula, semuanya diakhiri.
Aqila membantu diriku yang merapikan pakaian. Waktu sudah semakin siang. Oh. Hari ini aku ada pertemuan dengan Adrian. Dan sudah bisa dipastikan kalau aku akan terlambat.
Sementara itu, tanganku ikut merapikan pakaian Aqila dan rambutnya yang berantakan.
__ADS_1
"Setelah aku pergi. Barulah kamu mandi," kataku.
"Abang mandi dulu aja. Enggak enak kalau ke kantor setelah kita ... kita ...."
"Kita apa?"
"Kita ... hmm." Suara Aqila menghilang.
"Kamu masih malu padaku?" tanyaku menggoda.
"Udah ah, nanti beneran telat lho. Ayo! Aku bantu Abang mandi," katanya dengan senyum lebar.
"Dengan senang hati, Nyonya David," balasku. Lalu pasrah saat pakaian yang hampir terpasang kini dibantunya terlepas.
Acara kami hanya mandi saja. Tidak ada yang lain. Dia dengan cekatan membantu menggosok tubuhku.
Ah, pada awalnya memang begitu. Namun siapa yang tahu tentang akhir kisah, bukan?
Sebab, aku tak ingin menyia- nyiakan kesempatan itu. Maka, aku pun mengulangi kejadian di sofa tadi secepat kilat. Benar -benar kilat.
"Tuh, kan, Abang beneran telat," protesnya saat jam telah menunjuk ke angka sembilan.
__ADS_1
Ya. Aku sangat telat hari ini.