Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab. 35


__ADS_3

Seperti biasanya. Sejauh ingatanku tentang Anna. Wanita itu selalu tampak cantik dan anggun. Mengenakan pakaian sederhana yang sederhana, tetapi berhasil memberikan kesan feminim pada dirinya.


Andai saja ....


Aku berdeham pelan. Mengusir kecanggungan dan hawa panas yang tiba -tiba saja menjalar ke dalam dada. Betapa banyak waktu yang telah aku buang sia -sia.


Si David bodoh yang telah menyia -nyiakan batu permata demi mendapatkan batu kerikil. Tak hanya di situ saja. Aku harus menghabiskan waktu dalan penyesalan dan nestapa tak berujung. Jika mengingat itu, aku terus saja merutuk diri.


Rasanya, semua bentuk penyesalan tak akan sebanding dengan semua hal yang telah terlewat dalam hidupku. Cinta, waktu, pengharapan dan ... kewarasan.


"Om David, ini cantik enggak?"


Pertanyaan dari suara cedal itu berhasil membuyarkan lamunan yang sedari tadi mengusikku. Aku menoleh kepada Putri yang kini menggelengkan kepalanya. Rambut kuncir kudanya itu bergoyang goyang.


"Cantik," jawabku singkat sembari mengulas senyum. Di detik itu juga, mataku teralihkan oleh gerakan seseorang yang duduk di depanku yang dilanjut oleh orang berikutnya.


Aku mendongak, mendapati Anna yang tengah memperhatikan interaksi kami. Di sampingnya, Adrian duduk dengan merangkul bahu Anna.


Aku menyunggingkan senyum di bibir. Tersenyum miring.


Selalu saja posesif.


"Ini, lu belum selesai makan?" tanya Adrian.


Aku menyipitkan mata risih saat melihat lelaki itu mencium pelipis wanita di sampingnya. Dan tampaknya, Anna tak terlihat merasa keberatan sama sekali. Dia justru menikmati moment kedekatan mereka di mana pun. Mengumbar kemesraan saja.

__ADS_1


Aku terus bersungut- sungut dalam hati. Menyebalkan sekali.


"Aduh, Om. Sakit!" seru Putri dengan suara merengek.


"Kenapa, Sayang?" Itu suara Anna yang terdengar khawatir. Dia bergerak, mencondongkan tubuh mendekati sang putri.


Wangi parfum yang Anna pakai berhasil menusuk indera penciuman milikku.


"Maaf ... maaf ...." Aku berkata lirih sembari mengelus kepala Putri.


"Om David narik pita Putri, Mama," rengek Putri manja.


"Iya, maaf. Om enggak sengaja," kataku lagi terus mengelus kepala Putri.


"Lu punya dendam apa sama gue, sih?" tanya Adrian dengan mata menyipit.


"Udah, Mas, Putri juga enggak kenapa-kenapa." Anna telah kembali ke tempat duduknya. Dia mengelus lengan Adrian mencoba menenangkan lelaki itu. Sesekali tatapan kami beradu. Anna seolah memintaku agar tak meladeni suaminya itu.


"Dendam gue banyak ke lu," tegasku kemudian yang langsung mendapat delikan dari Anna.


Aku pura-pura tak tahu. Memilih menatap pada Putri yang masih anteng di pangkuan.


"Om beneran punya dendam sama papanya Putri ya?"


Aku tak menyangka jika pertanyaan itu yang keluar dari lisan gadis kecil itu.

__ADS_1


"Ya enggaklah, Sayang. Om enggak punya dendam apa pun sama papanya Putri," jawabku lalu terkekeh pelan. Aku menoleh, Adrian tampak tersenyum puas.


Oh, Adrian merasa punya pembela sekarang ya.


Aku akui. Soal itu, aku memang kalah telak darinya. Adrian telah memiliki Anna seutuhnya sekaligus seorang putri di tengah mereka. Betapa lengkap kebahagiaan yang telah lelaki itu miliki. Sementara dirimu, masih saja sendiri.


"Papa," panggil Putri lalu beranjak dari pangkuanku. Dia melangkah menuju sang papa kemudian duduk di pangkuan lelaki itu.


Dari tempatku duduk. Aku bisa melihat potret pemandangan keluarga harmonis yang tentu saja sangat bahagia.


"Iya, Sayang?" tanya Adrian pada putrinya sembari mengecup pucuk kepala gadis itu.


Sementara itu, Anna pun tampaknya tak mau ketinggalan moment itu. Dia mengelus kepala sang Putri lalu tersenyum pada sang suami.


Benar -benar pemandangan yang membuatku iri.


"Dendam itu apa?" tanya Putri polos. Matanya mengerjap lucu nan menggemaskan.


Aku yakin siapa pun yang melihat Putri pasti akan jatuh cinta pertama kali. Bahkan pada pandangan pertama saat melihatnya.


"Dendam itu ...." Adrian diam. Tampak tengah berpikir. Mungkin mencari kalimat yang pas agar mudah dipahami oleh anak seusia Putri. "Dendam itu, marah yang belum selesai," katanya kemudian.


Putri menganggukkan kepala berulang kali. Seakan dia telah paham betul dengan apa yang telah dijelaskan oleh sang papa.


Tiba -tiba saja, tatapan mataku beralih pada wanita di sebelah Adrian. Dan, saat mata wanita itu juga beralih menatapku. Ada rasa senang di dalam dadaku yang mengembang begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2