Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab. 44


__ADS_3

Kami makan dalam diam. Sesekali aku akan melirik Aqilla yang tengah menyuap, lalu mengunyah makanan dalam mulutnya. Dia tampak tak bersemangat. Pandangannya sering kali terlihat entah fokus ke mana. Kosong.


Tadi aku menyuruhnya makan sendirian saja. Aku cukup menemani tanpa harus makan lagi. Akan tetapi, wanita itu bersikeras tak mau makan jika aku juga tak makan.


Rasanya, setiap waktu Aqilla menguji kesabaran ku sebagai lelaki. Egoku selalu saja disentilnya. Padahal aku bisa saja memarahinya tadi, tetapi sialnya tak aku lakukan. Entah mengapa, aku menurut saja seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Padahal, tak seharusnya aku seperti ini bukan. Sudahlah, yang penting Aqilla mau makan. Itu saja.


"Makannya yang bersemangat, Aqilla. Ini sudah malam, sudah sangat terlambat untuk kamu makan malam," omelku tak bisa lagi menahan diri.


Nasi di piringku sudah habis. Sementara Aqilla, nasi di piringnya itu bahkan belum berkurang sama sekali.


"Iya." Dia hanya menyahut pendek.


"Kamu itu kenapa? Bawaannya murung terus. Marah padaku? Katakan jika kamu marah agar aku bisa mengerti," omelku lagi.


Aku berkata panjang lebar hanya dijawab satu kata saja. Apa dia sedang tak ingi berbicara padaku. Mau sampai berapa hari. Aku juga butuh dilayani. Tak berselera rasanya jika meminta Aqilla melayaniku dengan emosi yang seperti ini.


Aku meletakkan sendok ke piring dengan gerakan kasar. Sampai suara dering keras itu terdengar. Sontak saja hal itu membuat Aqilla berjingat kaget. Selanjutnya, dia pun makan dengan tergesa-gesa. Aku bisa melihat bagaimana kedua pipinya itu menggembung karena mulutnya diisi dengan nasi yang banyak.


Aku berdeham, menahan ketawa. Lucu sekali wajah Aqilla.


Kemudian, aku segera mendorong kursi sampai suara berderit terdengar keras. Aqilla tersedak. Ia terbatuk sampai nasi dari dalam mulutnya itu muncrat keluar.


"Makanya, makan itu hati-hati," omelku lagi sembari mengangsurkan segelas air putih untuknya. Membantu Aqilla minum sembari menepuk bahu wanita itu.


Setelah batuknya mereda, aku segera mengambil lembaran tisu di atas meja. Mengelap bibirnya yang basah, begitu saja.


Pandangan kami bertemu beberapa detik, sampai Aqilla memutusnya lebih dahulu.

__ADS_1


"Makan seperti anak kecil saja," gerutuku lagi.


Aku malah sering mengomel sekarang ini. Melihat sikap Aqilla membuatku tak tahan untuk terus mengoceh. Selalu saja ada hal dari dirinya yang membuatku kesal. Aqilla memang sangat berbeda dengan Anna. Beruntung sekali Adrian sekarang.


Aku melemparkan tisu ke atas meja dengan kasar. "Kalau sudah selesai segera kembali ke kamar," kataku memberi perintah.


"Aku harus membereskan meja makan ini dulu." Aqilla sudah hendak berdiri saat tanganku dengan cepat menahan bahunya agar kembali duduk di kursinya.


Bisa tidak, dia tak membantah ucapanku?


"Biarkan pelayan yang membereskan meja makan itu. Sudah jadi tugasnya. Kita ke kamar sekarang," sahutku dengan kesabaran yang tersisa.


"Kasihan dia kalau harus bekerja malam-malam begini. Pelayan juga butuh istirahat--"


"Kamu tidak bisa hanya menurut saja, ya?" sergahku cepat. "Pelayan!" teriakku kemudian dengan kesal.


"Pelayan!" Lagi aku berteriak.


Tak berapa lama, pelayan datang dengan tergopoh-gopoh.


"Iya, Tuan," katanya sembari mengangguk sopan.


"Cepat bereskan meja makan. Sekarang!" titahku dengan tatapan tajam tak bisa dibantah. Memangnya siapa yang berani menolak perintahu kalau bukan Aqilla seorang.


"Teriak-teriak kayak tinggal di hutan saja," cicit wanita itu yang masih bisa kudengar di telinga dengan jelas.


"Apa kamu bilang?" tanyaku dengan suara tajam dan tatapan menghunus. "Cepat ayo ke kamar!" Aku segera meraih tangan Aqilla dan menariknya agar mengikuti langkahku.

__ADS_1


Sesampainya di kamar, aku mengempaskan tubuh itu ke atas ranjang.


"Awalnya aku berniat untuk tidak menginap di rumah Mama. Tapi berhubung kamu memancing emosimu, aku memutuskan untuk menginap. Sekarang katakan padaku apa masalahmu?" Aku berkata sinis. Berdiri menjulang di hadapannya yang terbaring dengan posisi miring. Kaki Aqilla terjuntai ke lantai. Aku bisa mendengar rintihan rasa sakitnya.


Aqilla beranjak duduk. Kali ini dia membalas tatapanku tak kalah tajam.


"Abang tak bisa menghargai aku sebagai seorang istri," kata Aqilla pada akhirnya dengan suara bergetar.


"Oh karena itu. Atas dasar apa kamu bisa berpikiran begitu, ha?"


"Abang masih cinta sama mantan istri Abang sementara telah menggauliku," sahut Aqilla dengan suara yang semakin bergetar. Tangannya bergerak cepat menghapus bulir bening di pipi.


"Terus mau kamu apa, ha?" Emosiku memuncak di ubun-ubun. Rasanya lahar panas ini akan segera membakar apa saja.


"Sebelum semuanya terlambat. Lebih baik kita bercerai saja, Bang," katanya dengan suara serak tetapi terdengar yakin.


"Enak saja. Tidak akan semudah itu. Lagi pula, aku sudah menerima kekurangan kamu tanpa masalah dan tanpa menuntut--"


"Apa maksud, Abang?" tanya Aqilla tak percaya.


"Jangan pura-pura bodoh. Kamu bahkan tak lagi perawan saat menikah denganku. Dan kamu bahkan tak mengatakan apa pun padaku," sinisku.


"A ... pa?" lirih Aqilla dengan suara pilu.


Aku mencondongkan wajah. Tanganku dengan kasar memegang dagunya, mencengkeram dengan erat.


"Abang ... mau ... apa?" tanya Aqilla dengan suara terbata.

__ADS_1


"Menurutmu?" Lantas aku pun mencium wanita itu dengan kasar.


__ADS_2