Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab. 16


__ADS_3

Ah, sial!


Aku merutuki diri sendiri. Bagaimana bisa rasa bibir gadis itu masih terasa di bibirku. Aku benar - benar sudah gila sekarang.


Aku mengira, pertemuan dengan Aqila beberapa hari lalu dengan ciuman yang kuberikan sebagai pelajaran agar dirinya tahu bahwa Aqila tidak bisa bermain - main denganku. Sialnya, malah sebaliknya.


Aku yang sekarang seperti tengah tergila - gila oleh pesona Aqila.


Aku menjambak rambut dengan keras, lalu mengacaknya secara kasar setelah merasakan kesakitan di kepala.


Tidak sabar dengan pikiran - pikiran yang menari di kepala, aku segera meraih ponsel berniat menghubungi nomor wanita yang parasnya tengah merusak kerja otakku.


Sebenarnya, ada kekhawatiran yang aku rasakan. Khawatir jika nomor Aqila tidak aktif atau mungkin, malah dia memblokir kontakku.


Jantungku berdebar kencang menunggu bunyi sambungan masuk dari seberang. Ah, untunglah suara tanda masuk itu terdengar.


Tidak lama kemudian panggilanku terjawab oleh suara yang entah sejak kapan telah kurindukan.


"Halo," sapa Aqila dari seberang sana.


"Halo, Aqila," balasku. "kamu sedang apa?" tanyaku selanjutnya.


"Aku ... aku ... sedang di rumah sakit." Tubuhku seketika bergetar hebat mendapati Aqila yang mengatakan jika dirinya sedang di rumah sakit.


"Rumah sakit mana? Aku segera ke sana," ucapku tak sabar.


Sedetik kemudian aku segera bergegas meninggalkan ruang kerjaku. Tidak lupa memberi kabar pada sekretaris agar membatalkan seluruh jadwalku hari ini.


Mengendarai mobil pada jalanan yang macet itu membuat seluruh tubuh menegang. Perasaan kesal dan marah bercampur menjadi satu. Ingin cepat sampai ke tujuan, tetapi kondisi tidak memungkinkan.


Aku yakin, Aqila telah menggunakan guna - guna padaku. Apa pada saat aku menyentuhnya, pelet itu bekerja? Membuatku tidak bisa melupakannya barang sedetik pun, bahkan wajahnya terus saja menari - nari dalam ingatan.


Aku memukul setir saat mobil ini tidak bergerak sedikit pun.


Di sisi lain, aku merasa was - was membayangkan tubuh Aqila yang terbujur kaku.


Ya Tuhan! David. Aqila masih bisa bersuara, itu artinya dia masih hidup.


Pikiranku berkecamuk.


Kurang lebih memakan waktu satu jam perjalanan hingga aku sampai di rumah sakit.


Setelah memarkirkan mobil dengan sempurna, aku berlari mencari sosok wanita yang telah membuatku gila.


Langkahku terhenti saat mendapati Aqila tengah duduk di ruang tunggu.


"Ya ampun, Aqila. Syukurlah kalau kamu tidak apa - apa," ucapku dengan napas tersengal.


Aku langsung memeluk tubuh kurus itu. Setelah ini, aku pun berjanji akan memberi Aqila makan yang banyak agar tubuhnya dapat sedikit berisi.

__ADS_1


"Kamu sudah makan belum?" tanyaku khawatir. Jantungku masih berdebar - debar tak menentu.


Siapa sangka, jika rasa khawatirku malah dibalas dengan dorongan kedua tangan Aqila di dadaku.


Apakah Aqila sedang menolakku sekarang?


Haish. Seorang David ditolak oleh seorang wanita yang baru dikenal dengan hitungan jari. Yang benar saja.


Aku mengembuskan napas kasar, lalu menatap dalam kedua manik mata wanita di hadapanku itu.


"Apa kamu baik - baik saja?" tanyaku pelan.


Demi apa coba aku menahan egoku yang ingin marah - marah.


"Ya, aku baik - baik saja. Dan sebaiknya kamu enggak usah main peluk - peluk sembarangan," ketus Aqila.


Kedua tangan wanita itu bersedekap di dada, lantas menatapku nyalang. Seolah - olah aku ini adalah seorang lelaki tidak tahu sopan santun yang seenaknya saja main peluk - peluk sembarang orang.


Ah, benar - benar.


"Dan satu lagi. Jangan suka peluk - peluk orang sembarangan," sinisnya.


Aku tersenyum kecut. Beberapa kali menghadapi wanita seharusnya aku telah berpengalaman dalam menghadapi mereka, 'kan.


Oke.


"Aku cuma khawatir sama kamu. Apa enggak boleh? Atau, memang kamu belum pernah mendapatkan perhatian secara khusus dari seorang pria?" ucapku dengan mata memicing.


"Ish, dasar," ketus Aqila dengan wajah yang sangat menggemaskan.


Ingin sekali rasanya aku melahap hidangan di hadapanku ini. Jika saja dia tidak marah atau malah mengamuk.


"Jadi benar, kamu tidak pernah mendapatkan perhatian secara spesial seperti ini, hm?" tanyaku mengejek. Bibirku berkedut menahan tawa.


Jika saja kami sedang tidak berada di rumah sakit. Mungkin aku telah terbahak - bahak sekarang.


"Sok tahu," protes Aqila dengan nada merajuk.


"Jadi sebenarnya apa yang telah terjadi? Kenapa kamu di sini?" tanyaku lagi.


"Aku tidak sengaja menemukan nenek tua itu tergelatak di pinggir jalan. Jadi yaa ...." Aqila mengedikkan kedua bahunya. "aku membawanya kemari."


Tanganku terulur, menyentuh tangan Aqila yang terasa dingin lalu mengajaknya duduk di kursi tadi.


"Gak usah pegang - pegang," ketus Aqil begitu kami duduk di kursi. Tidak lupa, wanita itu menarik tangannya kasar dari genggaman tanganku.


Terbuat dari apa gadis itu?


Kenapa galak sekali?

__ADS_1


"Kamu di sini kebingungan karena harus membayar biaya rumah sakit ibu tua itu. Jangan katakan jika dia juga tidak punya saudara lalu kamu berkeinginan untuk mengangkat dia sebagai ibumu," terkaku.


Aqila diam, sorot matanya menyiratkan kebingungan.


"Jadi, berapa yang harus kubayar?" tanyaku.


Aqila menoleh menatapku tajam.


"Oke. Aku ganti, harus aku bayar sekarang?"


Aqila mengangguk lemah.


"Oke. Aku yang akan menjamin biaya rumah sakitnya." Mendengar ucapanku, Aqila tampak tersenyum wajah tegang nya kini mulai melunak berganti seulas senyum tersungging di bibirnya.


"Apa yang aku dapatkan?"


"Apa maksud kamu?" tanya Aqila sarkastik.


Aku mengedikkan bahu.


"Jangan bilang kamu tidak ikhlas membantu wanita itu, David?"


"Bukan soal ikhlas tidak ikhlas, Aqila. Tapi ini realita, aku tidak mau membuang uangku cuma - cuma, apalagi ini untuk wanita yang suka kabur - kaburan," terangku.


"Aku tidak akan kabur, jika itu yang ingin kamu tahu. Aku terikat perjanjian hutang padamu. Bagaimana?"


Aku mengangguk - angguk mendengar penuturan Aqila.


"Menarik," ujarku sembari tersenyum.


Aku mengerling ke arahnya, menatap manik mata itu dengan menggoda.


"Deal. Aku bayar tagihan nya. Dan kamu berhutang padaku," tegasku.


"Oke. Deal," ucap Aqila tak kalah tegas.


Aku mengulurkan tangan yang langsung disambut Aqila. Kami bersalaman dengan aku yang menyunggingkan senyum.


Banyak rencana yang berputar - putar di kepal tentang apa yang ingin aku lakukan terhadap wanita di hadapanku ini.


Langsung memperkenalkan kepada Mama terlebih dahulu, atau aku harus langsung melamarnya dan mengajak menikah. Atau, malah langsung menerkamnya saja. Kenapa dia sangat membuatku gemas?


Aku menarik pelan tangannya, lalu mendorong tengkuknya. Mencicipi sedikit rasa manis dari bibir mungilnya tidak masalah, 'kan?


"Kamu, kurang ajar. Seharusnya kamu menikahiku terlebih dahulu baru melakukan hal - hal aneh seperti ini. Bukan asl sosor saja kayak bebek tidak pernah dikasih makan. Dasar lelaki tidak punya perasaan. Aku setuju dengan hutang kepadamu bukan berarti kamu bisa seenaknya saja menciumku. Kamu bahkan telah mencuri ciuman pertamaku," protes Aqila bertubi - tubi dengan pukulan - pukulan yang terus dia daratkan di dadaku.


"Oke. Kalau begitu, kita menikah dulu. Secepatnya," tegasku.


Perkataanku barusan berhasil menghentikan aksi liar Aqila di dadaku .

__ADS_1


__ADS_2