
Apa yang dilakukan oleh seorang bocah berusia lima belas tahun setelah pulang dari sekolah? Bermain, belajar, membantu orang tua mengerjakan pekerjaan rumah, tidur siang, atau membantu sang nenek mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari - hari?
Aku ada pada jawaban yang paling akhir. Usai melaksanakan kewajiban murid untuk menuntut ilmu. Aku pun memiliki kewajiban lain, yaitu membantu nenek berjualan kue keliling.
Ketika pagi, nenek telah berjualan di depan rumah. Jualan sayur - mayur mentah dan sarapan pagi. Barulah ketika menjelang siang, wanita terhebatku itu berkeliling menjajakan jajanannya.
"Cung, mulai dari sekarang belajar lah yang rajin agar bisa meraih cita - cita yang tinggi," nasihatnya kala itu.
"Iya, Nek. Tentu. Aku akan belajar dan sekolah yang tinggi agar bisa buat kue - kue yang enak," sahutku semangat.
Rasanya, dadaku penuh merasakan kebahagiaan yang teramat besar di dalam sini. Hanya dengan berkhayal untuk bisa sekolah dan bisa membangun toko kue saja aku sudah sangat teramat bahagia. Sampai, rasanya ingin melompat dan berlari sangking girangnya. Namun, tentu saja tidak aku lakukan sebab kami tengah berjualan.
Sedikit demi sedikit, uang itu aku kumpulkan demi meraih cita - citaku. Namun, siapa yang mampu menerawang takdir. Nenek meninggal sebelum aku bisa mewujudkan impian kami, bahkan sebelum diriku mampu memberikan kehidupan yang layak untuknya.
Lantas, apa prestasiku selama hidup? Aku berhasil mengumpulkan hutang sebanyak - banyaknya untuk pengobatan nenek. Dialah keluargaku satu - satunya, setelah diriku bagai anak buangan hanya neneklah yang menampung serta merawatku selam ini.
Berbagai cara dilakukan untuk mendapatkan biaya agar nenek bisa mendapatkan perawatan. Namun, sia - sia, selain karena faktor usia. Penyakitnya pun sudah terlalu banyak. Nyawa nenek tidak tertolong.
Bagaimana perasaanku kala itu?
Hancur.
Terlebih, saat aku harus merelakan satu - satunya mahkota yang paling berharga kepada lelaki bajingan itu.
Hari itu, mereka datang lagi menagih utang - utangku. Aku tidak pernah terpikir sebelumnya jika pinjaman yang mereka berikan akan secepat itu berkembang biak. Sampai - sampai aku tercengang mendengar nominalnya yang nyaris seratus juta. Padahal, aku hanya meminjam sepuluh juta.
Nasib buruk tak mampu dielak. Saat si tubuh kekar itu memperdayaku dengan kekuatannya.
Selemah dan sesakit apa pun tubuhku, aku berusaha bangkit. Sebab, tidak ingin menjadi pelampiasan singa lapar. Tidak hanya satu orang yang menunggu giliran, tetapi ada beberapa orang. Untunglah aku bisa selamat, hanya diapksa oleh si bos besar mereka.
Hanya?
Pantaskah itu kukatakan sebagai hanya? Aku tidak sanggup membayangkan jika tubuh rapuhku menjadi giliran mereka.
__ADS_1
Dengan tertatih, meraskan akut di sekujur tubuh aku memanjat jendela saat si beringas terlelap.
Rupanya, masih ada kebaikan di bumi ini. Aku ditolong oleh salah seorang warga setelah berjalan sembunyi - sembunyi entah berapa jauh jaraknya.
Ya ... ingatan itu masih begitu melekat dalam kepala. Hingga aku bertemu dengan Bang David. Dia membayar utang - utangku dan menyandera ku dalam perkawinan ini.
Nahasnya, kesialan itu belum sepenuhnya enyah dari hidupku. Kala Bang David menyadari jika diriku tidak lagi suci. Kemarahan sekaligus kecewa itu tidak dapat dia sembunyikan.
Dia terluka. Aku tahu itu. Akan tetapi, maafkan aku. Diriku begitu lemah sampai tidak mampu melawan kesialan itu dalam hidupku.
Siapa yang tidak ingin mempersembahkan mahkotnya hanya untuk suami. Walupun, pernikahan ini berawal tanpa cinta, tetapi aku juga ingin menjadi sosok yang bisa membanggakan. Setidaknya bisa memberikan kebahagiaan kepada lelaki yang telah menolongku terlepas dari lilitan utang para manusia liar itu.
Sekarang. Semua tidak dapat diubah. Andai aku bisa memilih, saat itu tentu saja aku lebih memilih mati dari pada hidup dalam kesialan seumur hidup.
"Aqila! Buatkan kopi." Suara bernada ketus dari Bang David membuyarkan keping - keping kenangan kelam yang terangkai dalam kepala.
Tidak ingin membuatnya marah. Aku pun segera beranjak ke dapur menyiapkan apa yang diminta suamiku.
Bang David tengah duduk menghadap televisi, entah karena menonton siaran atau karena melamun. Aku tidak bisa menerkanya.
"Silakan, Bang, kopinya," ucapku hati - hati tidak ingin mengganggu kesenangannya.
"Duduklah di bawah, pijiti kakiku. Pegal," ucapnya kemudian seraya meluruskan kakinya.
Aku mengulum senyum, merasa bahagia karena Bang David mau memerintah ku melakukan ini itu.
Aku pikir, setelah kejadian malam itu dia tidak mau lagi menganggap kehadiranku di rumah ini.
Rupanya dugaanku salah. Dalam penampilan angkuhnya, Bang David memiliki hati yang lembut.
Aku perlahan memijit kakinya dengan lembut. Meresapi peranku sebagai seorang istri.
Ah. Aku baru ingat dengan seorang wanita yang datang di acara pernikahan kami kemarin. Sejujurnya aku penasaran siapa dia. Hanya saja, belum ada waktu yang teras tepat untuk menanyaknnyaa.
__ADS_1
"Gimana rasanya, Bang?" tanyaku pelan memulai obrolan.
"Hm." Lelaki itu hanya menggumam pelan tanpa menoleh ke arahku.
Ada yang sakit di dalam sini, tetapi segera kutepis. Sebagai pemakluman atas sikap kecewanya kepadaku.
"Bang, kalau aku bekerja lagi di luar, boleh?" tanyaku lagi.
"Untuk apa? Masih kurang uang dariku?" ketusnya. "Ati kamu ingin menemui lelaki brengsek itu?" Tatapan Bang David menyorot tajam seakan ingin menguliti tubuhku.
"Bu-bukan, aku hanya ingin punya kegiatan saja di luar," kilahku.
Ingin sekali aku memaki atau melampiaskan marah atas tuduhannya yang tidak berdasar.
Tidak selamanya, seseorang yang tidak lagi perawan itu karena suka rela menyerahkan harga dirinya.
Namun, aku urungkan. Mungkin bukan saatnya. Apa lagi, aku belum sanggup menceritakan kisah kelamku.
"Kamu bisa beres - beres rumah sampai bersih sembari menungguku pulang. Jangan cari - cari alasan," ucapnya tegas lalu berdiri melangkah lebar meninggalkan diriku yang mematung menatap punggung tegapnya.
Jangan pikirkan di mana tubuhku harus terbaring melepaskan penat. Untuk wanita miskin sepertiku, di mana pun tempatnya asal mata mampu terpejam itu sudah cukup.
Apa lagi, apartemen ini cukup luas, nyaman dan juga bersih. Tentu saja aku bisa tidur walaupun hanya di atas karpet. Beruntung Bang David memberiku kamar tamu.
Dalam ruangan petak ini fasilitasnya sangat mencukupi, ada pendingin ruangan juga. Bang David baik bukan?
Apartemen ini terdiri dari dua kamar, satu ruang tamu, dapur dan meja makan serta ruang kelurga yang menyatu.
Nyaman. Itulah kata yang bisa aku gambarkan. Setelah bertahun - tahun lamanya, aku harus tidur berpindah - pindah agar terhindar dari para rentenir bermata keranjang.
Bang David adalah satu - satunya orang baik yang ku temui setelah wanita yang telah menolongku kala itu. Jelas saja tidak ada alasan bagiku untuk meninggalkan lelaki itu.
Aku akan menyerahkan seluruh hidupku menjadi pelayannya. Itu sudah cukup.
__ADS_1