
Ponsel terus berdering. Bukan hanya sekali dua kali, tetapi sampai berkali -kali. Benar -benar membuat telingaku sakit saja. Beberapa kali, Aqila juga mengingatkan agar aku segera menjawab panggilan itu. Akan tetapi, aku sangat tak lagi sempat untuk menjawab. Bisa ketunda ajang siap -siapku ini.
"Udah rapi, 'kan?" tanyaku memastikan penampilanku pada Aqila. Wanita di hadapanku itu tersenyum lebar sembari mengangguk mantap membuatku gemas saja. Aku menarik kedua pipinya dengan gemas. "Makan yang banyak, biar enak ditarik pipinya," kataku lalu mengecup kening Aqila.
Aku bergerak cepat. Mengambil tas lalu segera keluar dari kamar diikuti istriku itu setelah terdengar jeritan kecilnya karena ulahku tadi.
"Bang, sepatunya!" seru Aqila saat aku melewati pintu utama.
"Ah iya. Sampai lupa pakai sepatu." Aku duduk di sofa ruang tamu. Kemudian dengan cepat wanita itu berjongkok di hadapanku, sementara diriku segera merogoh kantong celana guna menjawab panggilan.
"Kamu ke mana aja, sih? Kita mau rapat ini," tanya Adrian begitu panggilan aku jawab. Nadanya terdengar sangat kesal. Namun, di detik berikutnya di saat aku belum sempat menjawab pertanyaannya itu. Adrian justru tertawa. "Jangan bilang kamu lembur ya, sampai pagi juga masih--"
"Aku lagi jalan. Tunggu aja," sahutku cepat menyela kalimat Adrian.
"Oke. Aku tunggu. Cepetan!" katanya lalu menutup panggilan begitu saja.
Aku saja dibuat sampai melongo. Benar -benar si Adrian ini. Awas aja nanti!
"Udah, Bang." Perkataan Aqila membuatku sontak kaget. Dia masih dalam posisi berjongkok di hadapanku. Kepalanya mendongak. Kami saling bertatapan dan bisa aku lihat bagaimana rona kemerahan itu menghiasi wajahnya.
Apa memang begini kalau sudah malam pertama? Semua hal terasa manis.
__ADS_1
Aku tersenyum lalu mengangguk. Tak lupa, kedua tanganku meraih bahunya mengajaknya berdiri.
"Aku berangkat kerja. Jangan kangen ya," kataku lalu mengecup keningnya.
"Dih, apaan sih, Bang?" protesnya sembari memukul lenganku. Sialnya, pukulan itu amat terasa di tubuhku. Sakit.
Aku menahan geraman. Tak ingin didengarnya sebagai lelaki lebay yang tak tahan dengan pukulan. Padahal, tenaga Aqila saja yang kelewatan. Memukul suaminya dengan kekuatan tak kira -kira.
Aku melambaikan tangan. Namun, gerakan ku terhenti saat tiba -tiba saja Aqila memanggil.
Secepat kilat aku mengentikan langkah lalu berbalik. Rupanya, wanita itu mengulurkan tangannya meminta salim.
"Kabari kalau udah sampai," katanya dengan suara lembut yang aku balas dengan anggukan singkat.
Selanjutnya, aku segera menuju kendaraan roda empat yang terparkir. Masuk dan duduk di belakang kemudi. Menyalakan mesin kendaraan lalu melesat di jalan raya menuju kantor.
Sesampainya di kantor, aku langsung disambut oleh pelototan Adrian.
"Aku sudah menunggu hampir dua jam," kata Adrian masih dengan delikan.
Aku menilik jam yang melingkar di tangan. Oke. Memang sudah hampir jam sepuluh. Sementara janjian rapat kami jam delapan. Lumayan.
__ADS_1
Aku duduk di kursiku dengan santai. Anggap saja, ini masih pagi. Kemudian tersenyum sini saat melihat Adrian yang masih mendelik ke arahku.
"Jadi mau rapat enggak nih?" tanyaku sembari mengangkat alis.
"Sialan lu," umpat Adrian kemudian menggelengkan kepala berulang kali. Selanjutnya, aku melihat lelaki itu membuka laptop. Saat mulutnya terbuka, aku mengangkat tangan menghentikan apa yang ingin dia katakan.
"Sebentar," kataku.
Tanpa menunggu balasan dari Adrian, aku segera mengambil ponsel.
Aku udah sampai dan akan segera rapat. Nanti aku kabari lagi.
Aku mengirimkan pesan untuk Aqila, sesuai yang wanita itu pinta.
Adrian mengernyit bingung. "Ngapain?" tanyanya.
"Ngabari Aqila kalau aku udah sampai--"
Belum selesai penjelasanku saat tiba-tiba saja sebuah pena melayang tepat di wajahku.
CK!
__ADS_1