
Pergi ke kantor dengan perasaan kesal. Itulah hari ini. Sesampainya di kantor, aku langsung berkutat dengan pekerjaan. Mengalihkan fokus dan perhatian dari perasaan kesal tadi.
Bukankah dari pada memikirkan perasaan wanita yang minta ditebak, lebih baik aku memikirkan pekerjaan.
Hari ini, tak ada rapat di luar. Sebab, semua jadwal telah diambil alih oleh Adrian.
Beruntung sekali punya rekan seperti dia. Aku bisa berbagi apa saja, termasuk meminta pendapat masalah menaklukkan hari wanita.
Entah bagaimana seorang Adrian bisa menaklukkan hati seorang Anna.
Aku berdecak kesal. Jika mengingat itu selalu sukses membuat bagian dalam dadaku terasa panas membara. Seperti ada yang sengaja membakar saja.
Aku menghela napas panjang. Mengurai sesak yang. Kemudian menggeleng pelan.
Oke. Lupakan!
Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatianku dari berkas yang tengah aku periksa. Aku mendongak, menunggu siapa yang datang ke ruangan ini.
Rupanya, Andin, sekretaris setiaku itu yang datang.
"Ada apa, Andin?" tanyaku dengan tatapan serius.
"Ini, ada berkas yang harus Bapak periksa," katanya sembari menyodorkan map ke atas meja.
Aku segera membuka map tersebut, membaca apa yang ada di dalamnya. Membaca dengan teliti lalu membubuhkan tanda tangan di sana.
"Pak Adrian belum kembali ya?" tanyaku seraya memberikan berkas tadi.
"Sepertinya belum, Pak. Sekretaria Pak Adrian belum terlihat di mejanya." Andin menjawab dengan suara pelan dan anggukan sopan. Seperti biasa, dia juga tersenyum ramah.
"Kalau Pak Adrian kembali, kabari aku ya," pintaku lalu kembali fokus menekuri pekerjaan yang tak ada habisnya.
__ADS_1
"Baik, Pak. Kalau begitu, saya permisi." Andin mundur beberapa langkah lalu berbalik. Pintu ruanganku ditutup dengan pelan.
Selanjutnya, waktu bergulir begitu saja. Sampai saat aku rasa membutuhkan waktu istirahat.
Aku beranjak dari kursi, menyeduh kopiku sendiri. Duduk di sofa yang ada di ruangan, menikmati secangkir kopi panas sendirian.
"Aqila sedang apa ya?" gumamku lirih.
Tanganku bergerak merogoh ponsel dari saku celana. Melihat notifikasi baik itu dari panggilan maupun perpesanan. Nihil. Tak ada satu pun panggilan atau chat dari istriku itu.
Hmm, apa dia tak merindukan aku?
Kemudian, aku bergulir melihat status. Kalau saja dia memasang Poto atau menulis apa saja. Tak ada. Mungkin, memang dia tak suka update status atau apa pun itu.
Entahlah.
Rupanya, banyak hal yang tak aku ketahui tentang Aqila.
Haish.
Aku benci sekali dengan pikiranku ini. Senang sekali berkelana ke masa lalu yang tak akan bisa aku ubah itu.
Aku menoleh ke arah pintu ruangan yang terbuka. Sosok Adrian melangkah masuk mendekat padaku.
"Lu sendirian? Ngapain nyariin gue?" tanyanya dengan kening berkerut.
"Kapan lu sampai kantor?" tanyaku balik.
"Barusan. Terus ketemu sama sekretaris lu itu, pas di lobi. Makanya gua kemari. Ada apaan? Galau amat pengantin baru," jelas Adrian kemudian duduk di hadapanku. Tanpa aba aba, lelaki itu mengambil cangkir kopi milikku. Dan, dengan santainya menyeruput milikku.
"Lu tu, emang paling demen ngambil sesuatu milik gue ya?" ketusku.
__ADS_1
"Ya, elu. Barang enak dianggurin. Gue serobot dong!" sahut Adrian santai. Lantas menyandarkan punggung ke sandaran sofa. "Bro, punya barang enak tuh dijaga. kita enggak bakalan tahu, siapa aja yang berminat sama apa yang kita miliki--"
"Dasar lu nya aja yang doyan," ketusku lagi. Menyela perkataannya.
Memang benar kan. Kalau dia tak mau, tak akan mungkin mengambil milik orang lain?
"Terus, gue harus mengambil barang yang udah lu buang gitu. Ampas kopinya aja? Enak aja. Gue datang, lu aja enggak nawari minum. Ya gue ambil minum lu dong," sahut Adrian santai.
"Ya, tapi, kan?"
"Dih, apaan sih, kok bahas masalah yang enggak penting. Udah makan belum? laper nih." Adrian menggiring ke topik obrolan lain.
iya juga sih.
"Ian, lu gimana caranya ngadepin istri lu kalau lagi ngambek?" tanyaku kemudian.
"Ya tanya aja langsung, ngambek karena apa?"
"Bukan solusi."
"Cewek emang gitu. Kadang harus sat set sat set. Biar jelas dan cepat dapat titik terang ...."
Selanjutnya, aku tak memperhatikan apa yang Adrian katakan sebab mendapatkan pesan masuk dari Aqila.
Aqila:
Aku pergi ke rumah Mama ya, Bang.
Itu isi pesannya. Dan aku semakin kesal. Kenapa enggak nungguin aku pulang kantor biar kami sekalian sama-sama bisa ke rumah Mama.
Kenapa Aqila menyebalkan sekali sih.
__ADS_1
Aku mengabaikan pesannya itu. Tak berniat membalas. Setidaknya untuk sekarang ini.