
Entah sampai jam berapa aku berkumpul dengan mereka. Jalanan ibu kota tentu saja masih ramai seperti biasanya. Tak ada beda antara di waktu siang hari maupun malam hari. Tetap saja ramai dan padat. Tempat ini pun hidup selama dua puluh empat jam penuh. Yang pasti, aku mulai beranjak saat para wanita penghibur itu mulai mendekatiku dan keras kepala tak mau aku usir. Ada saja alasan mereka.
Dasar wanita. Tahu saja dengan tangkapan ikan besar sepertiku.
Merasa risih dan kesal. Aku pun pergi dari sana. Berpamitan hanya kepada si pemilik acara saja.
Jangan harap acara kaburku nulis begitu saja. Sebab, si Boy justru menghalangi langkahku.
"Nanti saja, Bro, pulangnya. Nikmati dulu pesta malam ini sampai pagi." Si Boy berbicara dengan dua wanita yang bergelayut manja di lengannya.
Tak berbeda dengan teman -teman yang lain.
Dan aku. Sudah muak dengan kelakuan itu. Mungkin, karena waktuku telah banyak menghabiskan dengan para wanita itu. Terlebih saat aku frustrasi karena kepergian Anna. Cinta yang disadari terlambat membuatku mengalami kedukaan yang lebih dalam.
"Hey, jangan takut bener lah sama bini di rumah. Dia enggak bakalan tahu juga, kok, kita jamin. Di antara kita enggak akan ada yang mau melaporkan." Kalimat itu terdengar seperti sebuah ejekan di telingaku.
Aku bersikap acuh tak acuh. Tak akan ada guna berdebat dan menjelaskan kepada orang mabuk.
Aku bukan takut atau apa dengan istri di rumah. Seperti yang mereka utarakan. Hanya sudah malas dan muak saja.
Tadi niatnya ke sini untuk memenuhi undangan sekaligus bersenang-senang bersama mereka. Bukan malah bersenang-senang dengan si wanita penghibur yang mencari uang.
__ADS_1
Minum pun aku hanya menghabiskan dua gelas. Dan jangan kira dua gelas itu bisa membuat aku mabuk. Oh, tentu saja tidak. Aku sudah terbiasa minum berbotol botol.
Aku melambaikan tangan. Mengabaikan setiap ucapan yang terlontar dari mulut berbau alkohol itu. Keluar dari tempat ini lalu segera menuju mobil.
Aku mengendarai mobil dengan santai. Membuka sedikit kaca jendela, menikmati udara malam yang berhasil menggigit tubuh sampai ke tulang belulang.
Apakah Aqila sudah pulang? Atau masih berada di rumah Mama?
Aku berdecak ketika pertanyaan itu yang berkelindan di kepala. Menari-nari seakan meminta segera mendapatkan jawaban.
Ingin memastikan secara langsung. Aku pun melajukan kendaraan menuju rumah Mama.
Satu jam kemudian, kendaraan roda empat yang aku kendarai ini pun telah sampai di halaman luas milik Mama. Rumah yang memiliki banyak kenangan buatku.
"Ma!" seruku memanggil wanita yang telah melahirkan aku itu.
Bukannya Mama yang keluar. Justru wanita lain yang menyambut kedatanganku.
"Abang di sini? Baru sampai?" tanya Aqila penuh perhatian.
Aku menghentikan langkah. Berdiri di tempat dengan tatapan lurus menatap setiap ekspresi yang wanita itu tunjukkan.
__ADS_1
Tak ada bedanya denganku. Aqila juga tampak tengah menatapku, memindai penampilanku bahkan memperhatikan setiap detail dari tubuhku. Dan itu membuatku risih.
"Mama mana?" tanyaku memutus keterdiaman kami.
Benar kata orang. Wanita yang notabenenya cerewet lalu diam saja itu membuat para lelaki merinding alias salah tingkah. Terlebih dengan wajah yang tampak murung itu. Benar benar perpaduan yang pas. Seperti orang yang siap menguliti lawan bicaranya saja.
"Ada. Lagi di kamar," jawab Aqila pendek. Kemudian kami diam lagi. Hening lagi.
Sial.
Suasana seperti ini membuat diriku tak nyaman.
Apa kau tak penasaran aku dari mana dan mengapa mengabaikan panggilan kami, Aqila?
Pertanyaan itu hanya menari di kepala tanpa berniat aku utarakan. Egoku masih terlalu tinggi untuk meminta perhatian darinya.
"Kalau gitu, aku mau ketemu Mama," putusku kemudian lalu melangkah melewati Aqila yang masih berdiri seperti patung itu.
"Apa ... Abang sudah makan?"
Satu pertanyaan itu berhasil menghentikan langkahku. Aku melirik pada Aqila melewati bahu. Dia pun membalikkan tubuh, menatapku.
__ADS_1
"Sudah." Aku menjawab sekenanya lalu melangkah meninggalkan Aqila.