Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab. 48


__ADS_3

Aku pulang lebih awal dari biasanya. Keluar dari ruangan sebelum jam pulang tiba. Aku ingat jika akan menemani Aqilla belanja bulanan, katanya. Aku pun meminta sopir mengantar diriku pulang.


Tak sabar rasanya untuk bisa bertemu dengan Aqila. "Cepat jalannya," kataku memerintah.


"Siap, Boss."


"Siap ... siap. Ini juga mobil enggak jalan-jalan," gerutuku kesal. Jalanan padat oleh kendaraan. Setiap waktu hanya kemacetan yang bisa jadi pemandangan mata.


"Belum bisa keluar, Boss--"


"Kebanyakan alasan. Cari jalan pintas, kan bisa," omelku menyela ucapan sopirku itu.


"Iya ... iya, baik." Dia mengangguk berulang kali. Dari kaca spion aku bisa melihat lelaki di balik kemudi itu menoleh ke sana kemari, mencari celah agar mobil yang kami tumpangi ini bisa keluar dari kemacetan ini.


Aku bernapas lega ketika kendaraan roda empat ini keluar dari sesaknya jalanan. Melewati jalan antah berantah, melaju membelah jalanan sempit. Sesekali, mobil akan berhenti ketika ada orang yang lewat atau motor yang berlalu lalang. Dan, ketika berpapasan dengan mobil lain yang akan lewat pun, kami harus mencari celah untuk menyingkir terlebih dahulu.


Wah! Kalau ini sih namanya cari mati. Jangan sampai mobil ini kena lecet. Tegores sedikit pun.


"Awas gaji kamu saya potong, ya?" ujarku menahan kesal.

__ADS_1


"Enggak ada jalan lain, Boss. Ini jalan satu-satunya yang saya hafal agar kita sampai ke rumah," jelas lelaki itu dengan tatapan tetap fokus ke depan.


"Ya, tapi enggak lewat perkampungan gini, juga." Aku menggerutu. "Tugas kamu selanjutnya, cari jalan alternatif lain yang bebas dari kemacetan dan jalannya juga lebar," titahku kemudian.


"Siap!" Dia berseru menyambut perintahku.


Lima belas menit kemudian, mobil telah sampai di gerbang rumah. Aku cukup bersyukur karena lelaki itu termasuk lihai dalam mengemudikan mobil. Tidak ada lecet maupun gores setelah melewati jalan sempit tadi. Dia cukup hati-hati.


Aku bergegas turun dari mobil setelah pintu di penumpang dibuka olehnya. Melangkah lebar masuk ke rumah. Mengulas senyum tipis membalas pekerja yang kebetulan bertemu di halaman.


"Aqilla!" panggilku dengan suara keras ketika pintu rumah telah terbuka lebar.


"Aqilla!" panggilku lagi ketika tak mendapatkan sahutan.


"Aqilla!!!" Wanita itu ke mana, sih?


"Iya, Tuan," sahut seorang wanita berlari tergopoh-gopoh.


"Aku tak memanggil kamu. Tapi manggil istriku. Di mana dia?" tanyaku ketus.

__ADS_1


Wanita itu menunduk dalam sembari membungkukkan badan. "Mungkin di kamar, Tuan. Di belakang tak ada Nyonya ...."


Aku berlalu begitu saja. Sebab, tak ingin berlama-lama mengobrol dengan pembantu itu. Tujuanku ingin menemui Aqilla


Di kamar, aku tak langsung menemukan Aqilla. Entah mengapa, saat menginginkan sesuatu kepada wanita itu dan tidak langsung mendapatkannya, emosiku begitu saja tak terkendali. Aku langsung ingin marah dan mengamuk saja rasanya.


"Aqilla!" seruku lagi memanggil namanya.


Masih tak mendengar jawaban. Tak juga melihat di mana sosoknya. Aku berjalan ke kamar mandi, ingin mencuci wajah untuk sedikit saja meredam amarah. Namun, berulang kali aku hendak membuka handle pintu itu tak bisa. Sepertinya terkunci dari dalam.


"Aqilla, kau di dalam?" tanyaku sembari menggedor pintu dengan kencang.


"Hmm." Suara gumaman terdengar dari dalam.


"Jawab pertanyaanku. Jangan hanya menggumam saja," ujarku kesal.


"Iya!" seru suara itu dari dalam sana.


"Kau marah, ha?" tanyaku tak sabar.

__ADS_1


Selanjutnya, tak ada lagi suara sahutan dari dalam sana. Entah sedang apa Aqilla sekarang.


__ADS_2