
Ada perasaan iba di dalam diriku yang tak bisa aku cegah. Tak bisa pula aku abaikan begitu saja. Lantas, aku pun mendekati wanita yang tengah berdiri mematung dengan Isak tangis itu. Memangkas jara. Tanganku terulur. Kemudian, menarik tubuh itu ke dalam pelukanku.
Aku tak pernah mengira jika pelukan yang aku berikan kepadanya justru semakin menambah tangisnya. Aqilla meraung. Sungguh, terdengar menyedihkan di telingaku.
Aku tetap diam. Biarkan saja dia menangis. Mengurai kesedihan yang dia rasakan. Walaupun aku sendiri tak mengerti atasa alasan apa dia sampai semenyedihkan ini.
Kepalaku bergerak secara otomatis. Mencium pucuk kepala Aqilla. Tanganku pun begitu, bergerak naik turun di punggungnya. Sementara satu tangan yang lain semakin mendekat erat tubuh yang terlihat rapuh itu.
Hingga menit-menit berlalu. Hingga rasa pegal aku rasakan di kaki ini. Namun, tenang saja. Aku tetap bertahan memuaskan Aqilla sampai rasa sesak di dadanya itu benar benar menghilang. Ah, dan aku rasa jika dia juga pasti merasa pegal kan?
"Belum mau duduk?" tanyaku kemudian dengan suara selirih mungkin.
Kasihan juga Aqilla kalau kecapean berdiri terus begini.
Aqilla terkesiap. Dia memundurkan langkah, mencoba menjaga jarak denganku. Itu sudah sangat terlambat, Aqilla. Aku tak membiarkan tanganku ini bergerak seinci pun. Tak aku biarkan tubuh kami berjarak.
__ADS_1
Tanganku masih mendekap tubuh Aqilla dengan erat. Lantas, satu tanganku yang lain bergerak untuk menghapus air mata yang meleleh di pipinya itu.
"Ssssttt ... ssssttt ...." Aku berusaha menenangkan tangisan Aqilla.
"Makasih." Akhirnya, wanita itu pun bersuara.
Lega sekali perasaanku ini mendengar suaranya. Aku kira, dia berubah jadi bisu setelah menangis selama itu.
Aku menghela napas pendek lalu mengurai pelukan kami setelah memastikan bahwa Aqilla tak lagi menangis. Aku raih tangannya dan menggandeng, mengajak Aqilla menuju kamar. Tak lupa, aku mendorong pintu balkon ini dengan kaki. Udara malam bisa membuat dia sakit.
Aku memegangi bahu Aqilla. Mengajak dia duduk di pinggir ranjang, di sampingku. Selanjutnya, kedua tanganku beralih menggenggam tangan wanita itu. Sejenak, tatapan kami bertemu. Mengunci di udara. Berkomunikasi hanya lewat tatapan tanpa mengucapkan sepatah kata. Kami sama-sama diam. Membisu.
"Apa kamu menangis karena takut denganku?"
Akhirnya, aku mengikatkan suara berupa pertanyaan yang beberapa waktu lalu berhasil mengusik ketengan diriku.
__ADS_1
Aku benci kenyataan bahwa Aqilla takut padaku. Setelah hubungan yang terjalin beberapa waktu ini. Setelah aku berhasil menyecap madu manisnya dan merasakan candu pada apa yang ada pada dirinya. Sangat mengecewakan sekali jika ternyata yang aku rasakan ini tak sama dengan Aqilla.
Saat aku menikmati rasa manis itu. Aqilla justru ketakutan.
"Tidak hanya itu. Tapi karena banyak hal. Rasanya ... sangat aneh. Dan di sini rasanya ...." Aqilla melepaskan tangannya dari genggamanku lalu memegang dada kirinya. Menekan di sana. "... sakit."
Spontan aku meletakkan tanganku di punggung tangannya. Lalu menggenggam dan menarik tangan itu dari dada. Kembali menggenggamnya di atas pangkuanku. Sesekali, aku mengelus punggung tangan itu dengan ibu jariku.
"Kenapa?" tanyaku sungguh -sungguh.
"Aku tak mengerti. Hanya ada rasa sakit saja. Tapi, saat aku bisa menumpahkan tangis tadi, sakit itu terasa terurai. Berkurang."
"Apa perlu ke dokter untuk periksa?"
Aqilla menjawab dengan gelengan kepala. "Tak perlu sekarang sudah baik-baik saja. Aku hanya perlu mencuci wajahku agar kembali segar," jawabnya lalu tersenyum tipis.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu." Aku menyerah. Lebih baik menyetujui keputusan wanita itu. "Tapi, kalau kamu merasakan sakit atau apa pun. Segera beri tahu aku. Dan sekarang, setelah mencuci wajahmu kamu harus makan. Banyak hal yang harus kita bicarakan." Aku mengecup kening Aqilla lama.
Aqilla mengangguk lalu beranjak ke kamar mandi. Aku memutuskan memanggil pelayan untuk menyiapkan makan malam.