Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab. 55


__ADS_3

"Abang dari mana? Kok, ngos-ngosan gitu napasnya?" Aqilla bertanya sembari melangkah mendekatiku. Tangannya terulur, lalu mengelap dahiku yang berkeringat. Aku pun begitu saja tersenyum menerima sikap manisnya.


"Abis beli sesuatu tadi. Nanti sampai rumah langsung kita coba ya," jawabku pelan.


Aqilla mengernyit bingung, tetapi langsung memukul lenganku saat aku mencium keningnya.


"Malu, Bang," desis Aqilla tajam dengan wajah merah.


Aku melongok, melihat pada meja di belakang istriku. Rupanya, di sana sudah ada Adrian dan Anna juga Putri yang tampak asik menikmati es krim.


"Makan, Bro!" seru Adrian yang kubalas dengan anggukan.


Selanjutnya, aku pun merangkul bahu Aqilla mengajaknya menuju meja.


"Hai! Kalian sudah lama?" tanyaku sekadar basa-basi. Anna tersenyum, membalas tatapanku.


"Belum lama, kok, Bang," kata mantan istriku itu. Tangannya mengelus kepala putri mereka.

__ADS_1


Aku duduk di sebelah Aqilla. Sementara tanganku tidak kubiarkan terlepas dari bahunya. Aku merasa cukup senang karena Aqilla tidak menolak perlakuanku, dia tampak nyaman-nyaman saja menerima sikap posesifku ini.


Satu tanganku segera menarik menu di atas meja, mengangkatnya dan menyodorkan kepada Aqilla. "Mau makan apa, Sayang?" tanyaku lembut.


"Mau salad, Bang," sahutnya dengan suara yang lembut juga.


"Tapi kamu belum makan. Nanti kelaparan lho, tambah yang lain kalau gitu." Aku memutuskan untuk memesan menu lain selain salad juga es krim.


"Udah makan es krim tadi," tolak Aqilla.


"Enggak apa-apa, nambah lagi--"


Kontan saja, aku mencubit pipi istriku itu dengan gemas. Kemudian mencium pipinya itu dengan perasaan gemas yang sama.


"Imut banget, istri siapa sih ini?"


Suara dehaman dari seberang meja tidak aku hiraukun. Justru membuatku semakin mencium pipi Aqilla.

__ADS_1


"Ih, Om David, kasihan Tante Qilla, Om." Suara Putri menghentikan kesenanganku. Oh, aku lupa jika ada anak-anak di meja ini.


Di samping Putri, wajah Anna memerah. Sepertinya, dia juga ikut merasa malu dengan tingkah lakuku terhadap Aqilla.


"Om gemas banget sama Tante Aqilla. Luci soalnya, imut juga," sahutku santai lalu tertawa lebar.


Sementara itu, Adrian tampak tertawa geli sambil geleng-geleng kepala.


"Om David memang enggak tahu malu, Sayang. Terus, enggak punya rasa kasihan juga. Kejam dia," seloroh Adrian yang mendapatkan sambutan tawa dari Putri dan senyuman dari Anna.


Sedangkan aku langsung melayangkan tatapan tajam pada lelaki itu yang kini juga tengah tertawa lebar. Sementara itu, Aqilla memukul dadaku.


Candaan di meja ini terhenti oleh kedatangan pelayan yang membawakan menu pesanan kami. Tanganku begitu saja bergerak menyiapkan pesanan Aqilla. Dan aku tahu, semua yang aku lakukan ini tidak luput dari perhatian Anna. Ya, di masa lalu bisa dibilang aku tidak pernah berlaku baik pada wanita yang duduk di seberangku itu.


Saat ini, rasanya aku ingin mengucapkan beribu kalimat maaf atas segala keburukan yang aku berikan kepadanya. Pengkhianatan juga rasa sakit yang tidak akan pernah bisa dihapuskan begitu saja dalam sejarah kehidupan seorang David. Begitupula dengan penyesalan yang aku rasakan setelahnya. Namun, saat itu aku juga malah menyakiti Aqilla. Dan terus menerus bertengkar dengan istriku ini. Padahal, seharunya masa lalu yang buruk di waktu itu bisa dijadikan pelajaran berharga dalam membangun rumah tangga selanjutnya.


Aku mengelus pucuk kepala istriku. Saat dia menoleh, senyumku terukir tipis dengan perasaan hari yang melingkupi hati.

__ADS_1


"Terima kasih," kataku selirih mungkin. "Terima kasih karena masih mau bertahan di sini bersamaku," lanjutku berbisik.


__ADS_2