
Akhirnya ... aku sampai rumah jam tujuh malam. Setelah menghabiskan waktu bercengkerama dengan keluarga kecil Adrian, berlanjut mengajak Putri jalan- jalan dan berakhir dengan makan malam di restoran.
Hari ini, aku menikmati semua kebersamaan kami. Terutama, saat aku bisa menikmati wajah Anna lebih lama. Dia masih bisa mengalihkan perhatianku.
Ah. Aku sampai senyum -senyun sendiri mengingat obrolan kami tadi. Lucu juga bisa mendapatkan ledekan dari wanita itu. Beruntung sekali Adrian bisa terus bersamanya.
Aku membuka pintu. Sepi. Ini masih jam tujuh dan suasana rumah ini sudah sunyi saja.
Aku melangkah santai. Namun tiba -tiba terkesiap saat mendengar sapaan dari seseorang. Aqila. Oh sial! Aku lupa tak memberinya kabar kalau akan pulang terlambat. Wajah wanita itu terlihat kecewa, tetapi sedetik kemudian dia sudah tersenyum lebar. Hah. Syukurlah. Tampaknya, Aqila tak mempermasalahkan keterlambatan ku.
"Abang baru pulang ya?"
Aku mengangguk. Kemudian berdiam diri saat Aqila membuka lilitan tali di leherku. Dasiku terlepas. Dia juga mengambil tas kerjaku.
"Mau makan dulu atau mandi dulu?" tanya Aqila lalu mengalungkan tangan di lenganku.
"Aku mau mandi terus langsung istirahat saja. Aku sudah makan malam tadi," kataku sedikit canggung.
Aku menoleh ketika Aqila melepaskan rangkulan tangannya di lenganku. Namun, belum sempat aku bertanya ketika dia bergerak cepat membuka jas kerjaku.
"Ya udah kalau gitu. Abang mandi saja, terus istirahat ya," ujarnya.
__ADS_1
Aku pikir Aqila akan langsung meninggalkan aku di sini. Hmm, marah? Mungkin saja, kan?
Rupanya, dugaanku salah. Aqila kembali merangkul lenganku lalu mengajakku melangkah ke kamar kami. Oke. Aku dan dia memang sudah satu kamar sekarang.
Akan tetapi, rasanya aneh sekali mendapatkan respons Aqila yang biasa saja. Seharusnya dia kecewa, kan, karena aku sudah makan malam di luar tanpa mengajaknya juga tidak memberi kabar padanya sebelumnya.
Sesampainya di kamar, Aqila langsung melepaskan rangkulan tangannya tanpa sempat aku menahan tangannya itu. Kemudian, dia berjalan menuju lemari pakaian. Sampai beberapa menit lamanya, aku masih berdiri menatap punggungnya itu. Hingga, dia berbalik. Lagi, Aqila tersenyum. Kali ini dengan tatapan yang ... entahlah. Aku sendiri tak bisa mengartikan arti tatapan itu.
"Abang mandi aja. Nanti aku siapkan baju gantinya," kata Aqila kemudian.
Aku tergagap. Seperti sedang terpergok telah melakukan sesuatu.
"Oh, iya. Aku mandi dulu." Belum sempat aku melangkah menuju kamar mandi, Aqila sudah membalikkan badan memunggungiku aku.
Ah. Sudahlah. Yang penting aku mau mandi saja. Agar badan ini terasa segar dan kepala bisa berpikir secara waras.
Lima belas menit kemudian, aku telah selesai mandi. Di atas ranjang telah disiapkan baju ganti berupa kais dan celana pendek oleh Aqila. Namun, di mana dia sekarang?
Aku begitu saja melemparkan handuk ke atas ranjang. Berganti pakaian dengan cepat, lalu melesat keluar dari kamar. Mencari keberadaan Aqila.
Oh, rupanya dia ada di ruang makan. Sendirian. Aqila menunduk menikmati hidangan di atas meja. Sampai ... aku yakin jika dia tak sadar kalau aku telah berada di ruangan yang sama dengannya.
__ADS_1
Dia ... menangis.
"Aqila. Apa yang terjadi?" Aku segera menggeser kursi makan lalu duduk di sana. Tanganku bergerak cepat memegang punggung wanita itu.
Dia mendongak. Lalu cepat- cepat menghapus buliran bening yang mengalir di pipinya itu.
"Oh ... Abang. Sudah dari tadi? Aku enggak denger Abang datang. Ada perlu apa? Mau sesuatu?"
Aqila memberondong dengan banyak pertanyaan. Suaranya serak khas orang yang habis menangis.
"Kamu kenapa menangis? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanyaku lagi.
"Oh ini, pedes banget sambalnya. Jadi ... sampai air mataku mengalir. Hehe." Dia kembali menyuap sembari mengusap air matanya.
Penasaran. Aku mengambil sendok dan ikut mencicipi sambal yang katanya sangat pedas.
"Apa yang Abang lakukan?" tanya Aqila kaget.
Dia hendak menahan suapanku, tetapi terlambat. Aku telah memasukkan suapan pertama ke dalam mulut.
"Enggak pedes, kok, cenderung manis malah," komentarku kemudian yang dibalas tatapan tajam wanita itu.
__ADS_1
Sambalnya memang enggak manis, kok. Terus kenapa Aqila menangis?