
Aku tidak tahu bagaimana mengartikan pertemuan kami ini. Sebagai keberuntungan atau malah sebagai bentuk kesialan tak berujung.
Herannya, saat aku tengah dilanda kesusahan. Dia datang sebagai dewa penolong.
Ah, tampaknya aku mulai berlebihan karena menjulukinya sebagai dewa.
Mungkin lebih tepatnya aku mendapatkan durian runtuh. Sebab lelaki itu tampak tajam dari luar, tetapi justru lembut di dalam. Persis durian, bedanya saat terkena kulitnya aku akan merasa kesakitan. Namun, kulit lelaki itu sangat memabukkan.
Haish. Membayangkan apa aku ini?
Ini semua gara - gara lelaki itu yang dengan lancangnya berani mencuri ciuman pertama berikut ciuman keduaku.
Aku harus tetap bertahan dalam mode kemarahan menghadapinya. Harus!
Suara dering ponsel membuyarkan kepingan - kepingan ingatanku tentang sosok tubuh tinggi jangkung si David.
Aku segera menarik resleting jaket agar sempurna menutupi tubuhku. Seperti biasa, pekerjaan sebagai ojek online dan kurir makanan via aplikasi kadang memang membutuhkan tenaga ekstra. Apa lagi saat hujan melanda jalanan, tentu saja jaket tebal ini sedikit banyak telah membantuku menghalau dingin yang menusuk tulang.
Aku segera mengambil jaket yang masih tergeletak di kasur busa tipis.
Selain lemari pakaian yang terbuat dari kain, kamar petak ini berisi kasur busa tipis sekaligus lusuh yang tertutup seprai. Sebuah cermin berukuran kecil menggantung di dinding yang bertugas memperhatikan penampilan diriku. Kemudian, sebuah alat penanak nasi berukuran kecil teronggok manis di lantai.
Bagiku, yang terpenting dalam hidup ini adalah nasi. Untuk itulah aku tidak pernah absen menanak nasi guna mengganjal perut. Soal lauk pauknya, itu urusan gampang.
Oke. Kembali ke dering ponsel yang terus berbunyi nyaring.
Mataku seketika melotot hampir keluar. Ah, kau saja tidak memiliki kelopak, sudah pastilah bola mata ini telah menggelinding ke jalanan melihat siapa yang sepagi ini menelepon.
Beginilah nasib orang berutang, kapan pun dan di mana pun harus siap siaga menjawab panggilan si pemilik uang. Walaupun seringkali orang yang memberikan pinjaman itu tidak menanyakan uangnya kapan dibayar, tetap saja aku merasa was - was jika harus ditagih saat dalam kondisi mengenaskan seperti ini.
Namun, jika dipikir - pikir. Hidupku belumlah pernah bahagia. Setelah kedua orang tuaku meninggal, lalu aku diasuh nenek tiri yang kejam. Mengingat itu bulu kudukku berdiri, untung saja aku bisa kabur dari penjara wanita itu.
Sudah, cukup. Lupakan segala kisah pahit yang pernah terjadi. Kini saatnya aku harus segera menjawab panggilan David kalau tidak ingin disemprot lelaki itu.
"Ha --"
"Kamu ke mana saja, dari tadi aku telepon enggak diangkat - angkat?" cecer David bahkan sebelum aku menuntaskan kalimat sapaanku.
__ADS_1
Benar, 'kan, dugaanku?
Aku mendengkus sebal mendengar Omelan lelaki itu.
"Aku lagi siap - siap mau kerja. Ada apa?" tanyaku dengan nada berusaha santai.
"Jangan lupa nanti jam dua aku jemput di kossan mu itu," ketusnya.
"Mau ngapain, sih? Aku harus kerja," elakku. Aku memutar bola mata malas.
Jika saja aku bisa memilih, sudah tentulah aku matikan ponsel ini. Memutus panggilan dari lelaki arogan itu. Akan tetapi, aku bisa apa sekarang selain pasrah?
"Apa kamu lupa, kalau kita harus bertemu dengan mamaku," balas David dengan suara tinggi.
"Iya, aku ingat," sahutku malas.
"Setelah kamu melamarku di rumah sakit, kita harus segera bertemu mamaku terlebih dahulu. Aku tahu, kamu pasti sudah tidak sabar, 'kan?" ejeknya di seberang sana.
Dasar lelaki semaunya sendiri. Enak aja aku yang katanya tidak sabaran. Dia kali.
"Kamu tuh yang gak sabaran," tukasku.
"Ke mana?" tanyaku bingung.
"Aku jemput jam dua. Jangan lupa. Atau kamu bisa langsung ke kantorku," putus David asal.
"Eh, dikira aku ini wanita pengangguran ...."
"Aish, dasar lelaki arogan!" jeritku setelah menyadari jika sambungan telepon kami diputus sepihak.
Demi menyucikan kepalaku dari si David, aku pun segera bergegas untuk berangkat mencari penumpang atau pun orderan di jalanan. Ya ... walaupun semua didapatkan melalui aplikasi online.
Matahari terus merangkak naik, panasnya pun telah sempurna memanggang tubuh. Hingga tidak terasa aku telah berkeliling mengitari kota sampai jam istirahat makan siang.
Untuk seseorang yang memiliki pekerjaan seperti diriku. Adakah waktu istirahat sejenak? Tentu saja tidak. Kecuali tidak ada orderan sama sekali.
Apa lagi, di jam istirahat begini. Orderan makanan malah semakin banyak. Aku akan masuk ke satu kantor ke kantor yang lain. Atau ke satu apartemen ke apartemen yang lain.
__ADS_1
Cacing di perut telah meminta haknya untuk diisi. Namun, sayang sekali. Masih ada satu pesanan lagi yang harus segera aku antarkan kalau ingin cepat - cepat istirahat. Tidak mungkin aku batal, 'kan, pesanannya.
Maka, menahan sedikit demo di dalam sana tentu tidak apa - apa bukan?
Aku melangkah dengan cepat demi agar segera sampai ke ruangan yang dituju. Melaporkan diri kepada resepsionis di lobi, lalu kembali melangkah menuju ruangan yang dituju.
Aku sedikit heran hari ini, biasanya diriku hanya akan berhenti sampai meja depan saja. Bukan malah disuruh masuk begini, apa lagi kalau harus ke lantai atas.
Ah, terserahlah. Yang penting makanan ini cepat sampai pada pemiliknya dan aku segera istirahat.
Sampai di lantai atas, kakiku melangkah menuju lorong hingga bertemu sebuah ruangan dengan pintu tinggi. Di hadapan ruangan tersebut terdapat sebuah meja yang kosong penghuninya.
Tidak ingin menerka - nerka, aku pun mengabaikan keinginanku untuk bertanya. Segera aku mengetuk pintu tinggi tersebut.
Setelah mendengar suara perintah yang menyuruhku masuk, barulah aku membuka pintu dan terkejut begitu melihat sosok David di sana.
"Permisi, saya mengantarkan pesanan makanan," sapaku pelan.
David berjalan mengitari meja lalu mendekat ke arahku. Aku sedikit mundur, mengingat beberapa kali lelaki itu melakukan hal tidak terduga.
Menyenangkan, sih, tetapi tetap saja aku belum siap.
"Apa yang mau kamu lakukan?" tanyaku gugup.
David tampak menyeringai. Seperti biasanya, tatapan matanya berkilat tajam membuat si lawan tak berkutik.
"Mengambil pesananku," ucapnya datar. Tangannya terulur untuk meraih tanganku yang menggenggam paket makanannya.
Betapa bodohnya aku yang tidak segera memberikan paket tersebut kepada lelaki arogan itu.
"Ini, silakan." Aku berdiri terpaku dengan tubuh gemetar. Jantungku berdetak tak karuan.
Bukannya segera melepaskan genggaman tangannya di pergelangan tanganku lalu mengambil pesanan nya. David malah tetap bergeming di tempatnya berdiri, dan aku hanya terpaku menatap mata kelamnya.
"Kruuukkkk ...." Bunyi cacing di perutku menghancurkan tatapan kami. Moment tegang ini seketika berubah menjadi kelucuan tak bertemu. Sebab di detik itu juga, David tersenyum dengan tatapan penuh arti.
Benar - benar menyebalkan.
__ADS_1
"Ayo! Temani aku makan," tegasnya.
Aku pun menuruti perkataannya. Siapa yang dapat membantah perintah lelaki itu? Aku, mana bisa.