
Aku meninggalkan tempat itu dengan pikiran kacau. Tidak hanya pikiran, perasaan pun ikutan kacau. Ditambah badan terasa mulai remuk redam. Nyatanya, saat menjalani hari yang tidak sesuai keinginan membuat tubuh butuh istirahat total.
Ingin mengalahkan Mama? Oh, tentu tidak bisa. Sebab aku yakin, Mama sudah lebih dulu pusing melihat keadaan anak semata wayangnya ini.
Mama pasti selalu berusaha memberikan yang terbaik. Hanya saja, mungkin waktunya yang kurang tepat. Sehingga tampak sia-sia dan malah seolah menyengsarakan anaknya.
Bukannya kebahagiaan yang kami dapatkan, justru kesedihan tiada akhir yang kini bergelayut di dada kami. Aku dan Mama. Tentu saja.
Aku merasa tersiksa dengan keinginan Mama yang setelah aku turuti, terbukti bukan jika malah kesengsaraan yang aku dapatkan. Bukannya kebahagiaan yang sesuai keinginan.
Pekerjaan terbengkalai, meeting tertunda, beberapa proyek harus diundur. Terlebih lagi, aku harus berhadapan dengan cewek - cewek aneh itu.
Tasya lalu Marisa. Besok siapa lagi?
Oh Tuhan! Di mana jodohku sebenarnya. Kasihan Mama, pasti tersiksa memiliki anak seperti diriku.
Pernikahan gagal, pacar ternyata seorang yang tak beradab, lalu ... status duda keren yang berganti menjadi duda lapuk, karena jodoh tak kunjung datang. Sedangkan Mama sudah tidak sabar ingin menimang cucu.
"Ma, gimana kalau David adopsi anak saja," usulku malam itu.
"Ngawur kamu!" sergah Mama, tangannya sontak menggetok kepalaku. "Biar otakmu encer, enggak berpikir ngawur terus."
Kemudian, jika sudah seperti ini apa lagi yang harus aku lakukan?
Aku menjambak rambut frustrasi. Malam ini malas pulang ke rumah, lebih baik tidur di apartemen saja.
Aku memutar balik arah, menuju apartemen. Begitu sampai, langsung saja merebahkan diri. Mengabaikan dering telepon yang sedari tadi berbunyi.
Aku berbaring telentang di ranjang, dengan kedua tangan kujadikan sebagai bantal. Mataku menatap langit-langit dengan pikiran berkelana mencari tujuan.
Terlalu banyak yang aku pikirkan, sampai - sampai aku tidak bisa fokus pada satu hal yang ada di kepalaku.
Pertemuan tadi dengan Marisa membuatku tersadar akan sesuatu. Betapa buruknya diriku di masa lalu. Bisakah itu diperbaiki sekarang?
Lagi - lagi, rasa bersalah kembali hadir menghantui. Betapa dulu, aku telah menyia - nyiakan Anna sebagai istri.
Aku berdecak kesal, bayangan Anna, Alina lalu Marisa kembali berputar seperti film rusak di kepala.
__ADS_1
Tiga wanita itu telah berhasil mengacaukan kenyamanan hidupku. Walaupun berharap tidak akan pernah bertemu lagi dengan Alina dan Marisa, tetapi siapa sangka Marisa malah menjadi salah satu kandidat wanita yang ingin Mama jodohkan denganku.
Apa Mama tidak tahu soal Marisa?
Ah, sudahlah lupakan Marisa. Lebih baik aku tidur, agar besok bangun dengan keadaan yang lebih segar untuk menghadapi kenyataan pahit hidup ini. Pekerjaan yang menumpuk juga perlu diperhatikan, 'kan?
Sayup - sayup terdengar dering ponsel memecah mimpi - mimpiku. Aku mencari keberadaan benda itu tanpa berniat membuka mata sedikit pun.
Setelah memastikan aku telah menemukannya, segera jemariku menggeser ikon berwarna hijau guna menjawab panggilan tersebut. Meletakkan ponsel ke telinga lalu mengucapkan kata halo sebagai sapaan pertamaku.
Bukan balasan sapaan yang aku dapatkan melainkan semburan kemarahan yang berhasil membuat telingaku memanas.
"Kamu ke mana aja, sih, David. Dari kemarin Mama teleponin enggak diangkat - angkat?" sembur Mama.
Dari tempat yang tidak bisa melihat saja, aku bisa membayangkan wajah merah Mama karena menahan amarah. Ah tidak, kali ini tidak ada bayangan dua tanduk keluar dari kepalanya.
"David tidur di apartemen, Ma. Ada apa?" jawabku malas masih dengan suara serak khas bangun tidur.
"Ada apa ... ada apa? Tentu saja Mama mengkhawatirkan kamu lah. Abis pertemuan kemarin bukannya pulang malah nginep tempat lain," omel Mama.
"Bukan tempat lain, Ma. Tapi apartemenku," jawabku malas.
Maafkan David, Ma. Aku benar-benar pusing sekarang.
Lantas, aku terbangun sekitar pukul 09.00, buru - buru membersihkan diri melupakan sarapan. Langsung saja aku ke kantor. Ada jadwal meeting satu jam lagi.
Sesampainya di kantor, kurang dari sepuluh menit lagi rapat dimulai. Aku pun bergegas menuju ruang rapat.
Ah, hari ini serba kacau. Karyawan pada gak becus, memang.
"Kalau kalian enggak bisa mengerjakan proyek ini, lebih baik keluar dari perusahaan ini!" hardikku. "Benar-benar, ya."
"Ma-maaf, Boss. Kasih kami waktu memperbaiki semuanya tiga hari."
"Apa? Tiga hari. Sekarang juga perbaiki. Sore belum beres, kalian semua saya ganti. Ngerti!" Aku keluar ruangan, melangkah lebar menuju ruangan kerjaku.
***
__ADS_1
"Kayaknya Boss David enggak bisa ya menghendel perusahaan ini sendirian, karena biasanya dibantu Pak Adrian, 'kan?"
Aku berdiri tidak jauh dari kasak - kasuk para karyawan. Kepalaku rasanya mau pecah mendengar ocehan mereka.
"Iya, mungkin karena Pak Adrian lebih lembut dan sabar dalam menjelaskan apa - apa kepada karyawannya. Lagi pula, Pak Adrian tidak segan - segan turun langsung ke lapangan. Enggak cuma perintah sana perintah sini, tanpa mau tau keadaan yang sebenarnya."
"Sudah - sudah, jangan gosip. Segera kerjakan apa yang harus dikerjakan."
Aku akui, selama ini memang Adrian yang memiliki peranan penting di perusahaan ini. Saat lelaki itu tidak ada, aku kebingungan. Seperti seseorang yang kehilangan pegangan.
Akan tetapi, apakah benar dampaknya sebegitu hebatnya seperti sekarang?
Aku segera merogoh ponsel di saku celana, menghubungi seseorang di seberang sana.
"Bro, gua ke kantor lu ya, sekarang." Tanpa basa - basi, aku langsung menuju kantor Adrian.
"Ya." Adrian menjawab singkat.
Sesampainya di kantor Adrian aku langsung menuju ruangannya, tanpa menyapa resepsionis. Begitu pula setelah sampai di depan ruangan Adrian, tanpa bertanya pada sekretarisnya aku langsung membuka pintu tinggi itu.
Sial, Adrian dan Anna sedang bermesraan di dalam. Bahkan mereka tengah berciuman dengan mesra. Tanpa bisa dicegah, hawa panas menguasai diriku. Kepalaku rasanya mau pecah, ditambah jantung yang berdebar kencang.
Ingin rasanya kupatahkan leher Adrian, yang tengah berkecup mesra dengan Anna.
Ah, sial. Aku malah berdiri saja di sini menyaksikan kemesraan mereka berdua.
Hidupku benar - benar penuh dengan kesialan sekarang.
Aku berdeham demi melepas pagutan mereka. Namun, tampaknya kedua manusia itu bahkan tidak mendengar dehamanku. Sampai harus berkali - kali aku lakukan.
"David. Hai! Sudah lama, Bro?" tanya Adrian pada akhirnya.
Aku memandang dua manusia itu secara bergantian. Adrian cukup mampu menguasai diri, terlihat biasa saja walaupun wajahnya masih memerah.
Mungkin karena malu aku pergoki, atau malah marah karena aku mengganggu aktivitas mereka yang mengasyikkan.
Sedangkan wajah Anna telah merah padam, seperti kepiting rebus. Siap untuk disantap.
__ADS_1
Aku saja begitu gemas melihatnya. Ingin kuraup wajahnya dan menelan Anna bulat - bulat. Andai saja bisa.