
Sejak hari itu, aku tidak pernah lagi mendengar kecerewetan Aqila. Seakan, dia seperti orang yang berbeda.
Sunyi. Tentu saja hidupku menjadi terasa sunyi. Biasanya, aku akan berdebat apa saja dengan wanita cerewet itu. Namun, sekarang.
Hah. Untuk mengobrol hal remeh temeh saja aku enggan. Aqilah juga tidak berniat memecahkan kecanggungan ini.
Apa aku terlalu kasar malam itu?
Sekarang tepat sebulan usia pernikahan kami. Jangan dikira aku tidak mencari kebenaran pada apa yang telah menimpa Aqilah.
Hanya saja. Semua seakan begitu sulit. Sampai sekarang aku belum mendapatkan data yang akurat penyebab terenggutnya keperawanan istriku itu.
Aku mengendurkan dasi. Pekerjaan di kantor sangat banyak, tetapi pikiran tidak ada di tempat.
Kepalaku sibuk memikirkan sedang apa Aqila sekarang. Sedang membereskan rumah kah? Masak untuk makan siang atau malah tengah menangis.
Wajah muram dengan mata sembab itu kini terbayang di mataku.
Ya ampun, Aqila.
Aku bergegas merapikan berkas - berkas lalu keluar ruangan. Setelah berpesan dengan sekretaris, aku pun segera melangkah lebar turun ke bawah. Ingin cepat - cepat sampai ke rumah. Firasat ku tidak tidak enak sekarang.
Aku melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Tanganku sibuk menekan klakson saat ada kendaraan lain yang menghalangi jalan.
Mobil ini layaknya ambulan yang membawa orang sakit untuk dibawa ke rumah sakit.
Ya. Otakku sedang sakit memikirkan kondisi Aqila.
Sesampainya di gedung apartemen, aku memarkirkan mobil secara asal. Lantas meminta petugas setempat untuk memarkirkan mobilku secara benar. Aku buru - buru.
Aku melangkah lebar munuju lift. Dadaku berdebar gelisah, menunggu pintu besi itu terbuka.
Sial. Kenapa rasanya lama sekali.
Tidak sabar, aku pun berlari menuju tangga darurat. Masih dengan berlari, aku menaiki tangga demi tangga agar segera sampai ke atas.
Merasa tidak kuat, aku kembali melihat keadaan lift itu. Kosong. Bergegas aku masuk dan dengan perasaan gusar menunggu sampai ke lantai tempat kamarku berada, aku langsung berlari dengan kecepatan angin.
Tanpa membuang - buang waktu, aku segera membuka pintu.
"Aqila!" seruku memanggil wanita itu. Namun, hingga beberapa saat tidak ada sahutan.
"Aqila!" Kini suaraku bukan lagi serupa seruan, tetapi bentakan.
Entah ke mana Aqila berada, dapur kosong. Kamar tamu kosong. Dia tidak ada di mana pun.
Apa jangan - jangan dia kabur?
__ADS_1
Tidak - tidak, Aqila akan menyesal seumur hidup jika melakukan itu kepadaku.
Aku membuang tas kerja secara asal ke ranjang ku. Lantas kembali keluar untuk mencari keberadaan wanita yang baru aku nikahi sebulan ini.
Aku kembali masuk ke kamar tamu, tempat Aqila tidur. Pakan, langkahku masuk lalu berjalan ke ranjang. Wangi khas Aqila menyeruak dalam indera penciuman.
Entah mengapa, kakiku justru melangkah menuju lemari pakaiannya. Membuka lemari itu dan betapa mirisnya saat mendapati pakaian Aqila yang tersusun rapi di dalamnya hanya terdapat beberapa lembar saja.
Aku kenakan ludah gugup. Membayangkan, betapa banyaknya pakaian yang berada di lemariku sendiri. Sungguh ironis.
Biasanya wanita suka berbelanja baju, kan. Apakah itu tidak berlaku buat Aqila.
Padahal, satu bulan ini uang yang aku berikan sudah lebih dari cukup sekadar untuk membeli gaun selusin.
Namun, lihatlah kenyataannya. Dia gunakan untuk apa uang yang aku berikan?
Awas kau Aqila!
Aku menutup pintu lemari itu dengan kasar hingga menimbulkan suara yang nyaring.
Lantas, aku teringat akan niatku untuk mencari keberadaan Aqila.
Aku menuju kamar mandi. Membuka pintunya dengar kasar hingga terbuka lebar.
Berapa terkejut nya diri ku kala mendapati tubuh Aqila tergeletak di lantai. Wanita itu pingsan. Sejak kapan?
Aku mengangkat tubuhnya, terasa sangat ringan. Tidak seperti saat aku pernah membopongnya dulu.
Wajahnya tampak pucat?
Aku membawa tubuh Aqila ke kamar utama. Rasanya tidak akan nyaman jika dia harus terbaring di kamar sempit ini.
"Aqila, bangun Aqila." Aku menepuk - nepuk kedua pipinya secara bergantian.
Mendekatkan botol minyak kayu putih ke hidungnya agar dia cepat sadar. Aku juga heran, sejak kapan ada benda itu di kotak P3K. Ah, lupakan. Itu tidak penting.
Mata Aqila bergerak kemudian mengerjai terbuka. Dia terlonjak kaget saat mendaptiku duduk di tepi ranjang dengan kedua tangan mengunci tubuhnya.
"Bang David ..." desisnya pelan.
"Istirahatlah," ujarku memberi perintah.
"Terima kasih," sahutnya kemudian kembali memejamkan mata.
Namun tiba - tiba, matanya terbuka lebar dan beranjak duduk sampai kepala kami saling berbenturan karena aku tidak sempat mengelak.
"Kau ini. Kenapa, sih?" ketuaku jengkel.
__ADS_1
Aku berdiri dengan tangan mengusap - usap kening yang terasa sakit. Bagitu pun Aqila. Dia mendesis pelan menahan sakit dengan tangan mengusap keningnya.
Tanganku terulur mengelus keningnya yang merah dengan tubuh membungkuk, lantas tertawa menyadari kekonyolan ini.
"Kau kenapa sampai pingsan? Apa perlu ke rumah sakit?"
Aku kembali duduk di tepi ranjang. Tangan ku masih bertahan mengelus kening Aqila dengan lembut dan ... rasa sayang.
"Ti - tidak perlu, Bang. Aku tidak apa - apa," tolaknya dengan suara terbata.
Aku mengerutkan kening, memperhatikan raut wajah wanita di hadapan yang tampak memerah.
Apakah dia malu? Lucu sekali ekspresi wajahnya.
"Aku tadi terpeleset di kamar mandi, kepalaku terbentur lantai. Mungkin karena --"
"Apa?" Aku mendelik mendengar penjelasan Aqila. Bisa - bisanya dia seceroboh ini. "Apa kepalamu benjol. Atau memar?" tanyaku khawatir yang langsung menarik kepalanya agar mendekat padaku.
Aku meraba - raba kepala Aqila dengan perasaan cemas yang luar biasa. Tanpa sadar, aku meniup - niup kepalaku itu.
"Apa masih sakit? Apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit untuk melakukan CT scan?" tanyaku bertubi - tubi.
Tangan Aqila menyentuh tanganku yang masih memegang kepalanya. Lantas dia pun menggeleng pelan.
"Tidak perlu. Mungin tadi juga karena ngantuk, yang buat aku pingsan padahal tertidur," jelasnya terkekeh.
Aku memukul kepala Aqila. Bisa - bisanya dia seceroboh itu.
"Dasar ceroboh," desisku kesal. "Syukurlah kalau kau tidak apa - apa," ucapku lega lalu menarik tubuhnya untuk kudepak.
Rasanya hatiku sangat lega dan ... nyaman. Awalnya, tubuh Aqila terasa menegang lalu dia pun membalas pelukanku.
Tanpa bisa kutahan, aku mendaratkan ciuman yang lama di keningnya. Tidak hanya itu, dengan perasaan membuncah aku mengecup hidungnya lalu turun ke bibir.
Aku menumpahkan segala rasa yang kupunya, mengenyahkan kekhawatiran dan kecemasan yang beberapa saat lalu menguasai diriku.
Wajah Aqila merah padam saat aku melepaskan pagutan kami.
Kedua tanganku menangkup kedua pipinya.
"Maafkan aku," ucapnya lirih dengan derai air mata.
Sungguh. Aku sangat tersentuh dengan ucapan maafnya. Lantas, kuulang kembali mengikis jarak di antara kami sebagai jawaban atas maafku.
Kemudian, kami pun berpelukan dengan detak jantung yang saling berirama.
"Besok makan yang banyak. Badanmu sangat kurus sekali," ucapku memberi perintah yang langsung mendapatkan anggukan berulang kali darinya.
__ADS_1