Duda Keren Cari Jodoh

Duda Keren Cari Jodoh
Bab 23 (Aqila)


__ADS_3

Dunia seorang gadis mendadak berubah oleh sebuah ikrar janji yang diucapkan seorang lelaki. Sebenarnya, tidak butuh waktu lama untuk mengucapkannya, aku rasa yang membuat semua hal dalam pernikahan itu menjadi berat adalah persiapannya. Baik dalam segi fisik, maupun mental. Apa lagi, segala pernak - pernik di dalamnya yang membuat diri semakin berdebar.


Belumlah usai debar - debar itu bergemuruh di dalam sana, aku harus berhadapan dengan banyaknya tamu undangan. Kupikir, pernikahan ini biasa saja. Ternyata, standar biasa antara orang miskin dan orang kaya itu berbeda.


Baiklah, lupakan tentang pesta dan segala yang ada di dalamnya. Ada hal yang lebih penting sekarang, bagaimana caraku membungkam suara lelaki di sebelah ku ini, dia terus saja mengomel tiada henti.


"Kenapa lama sekali sampainya?"


"Cari jalan pintas, dong! Lelet banget."


"Dasar, sopir enggak becus."


Entah umpatan apa lagi yang terus Bang David lontarkan.


Oh Tuhan! Belum satu hari kami menyandang status suami istri, tetapi kenapa rasanya sudah terlalu lama hubungan ini. Apakah aku bisa bertahan menghadapi kelakuan suamiku itu?


Aku menggigit bibir bawah, mengalihkan rasa yang bercampur dalam dada.


Bisa lompat dari jendela mobil ini enggak sih?


"Ah, akhirnya sampai juga. Setelah satu jam lebih dalam perjalanan," ujar Bang David lega.


Lantas, dia menggenggam tanganku menuntunku keluar dari mobil. Berjalan cepat meninggalkan kendaran roda empat itu.


"Makasih, Pak! Maaf merepotkan, ya!" seruku kepada pak supir seraya melambaikan tangan dan mengulas senyum.


"Ayo! Apaan, sih? Buat malu aja dilihatin orang," gerutunya kesal. "Lagian dia itu udah digaji, sudah jadi tugasnya nganter kita," lanjutnya.


Beruntunglah Bang, aku sedang kehabisan tenaga. Kalau tidak, mungkin bisa - bisa kita berdebat di sini. Seru juga kali, sepasang pengantin baru yang masih mengenakan gaun pengantin bertengkar di lobi hotel.


Aku terkikik geli membayangkan wajah lelaki itu semakin marah.


"Ayo cepetan, malah senyam - senyum. Aku udah enggak tahan ini," ketusnya.


"Eh, enggak tahan apa maksudnya ini?" tanyaku seraya menyeret kaki untuk bisa mengimbangi langkah Bang David.

__ADS_1


Tingkah kami berdua ini sudah seperti seorang ibu yang menyeret anaknya dari tempat main. Mungkin kalau ad pecutan, Bang David sudah memukul bokongku agar cepat berjalan. Ya, dia kadang memang searogan itu.


"Gaunnya ini kepanjangan, Bang? Coba aja tadi pakai baju selutut aja, biar enggak ribet begini. Lagian, mau ganti baju dulu dilarang. Ya sabar dong!" Kali ini aku menimpali ucapan lelaki itu. Telingaku sudah tidak tahan mendengar omelannya sepanjang kereta api.


Aku terkejut dengan tubuh menegang kaki disertai mata mendelik saat kurasakan hentakan tangan Bang David yang tiba - tiba membopong tubuhku.


Jantungku bertalu cepat, dengan jarak sedekat ini aku bisa leluasa menghirup aroma parfum dari tubuh Bang David. Percampuran antara mint dan maskulin menyeruak di Indra penciumanku.


Kedua mataku tertutup rapat demi menikmati wangi yang menenangkan sekaligus menantang itu.


Perlahan, aku melingkarkan kedua tangan di leher Bang David. Aku bisa merasakan bahwa tubuh lelaki itu juga menegang.


Aku sengaja menyandarkan kepala di dada bidang itu. Rupanya, di sana jantungnya berdegup kencang seperti genderang. Sangat berbanding terbalik dengan wajah dingin yang dia tampilkan.


Aku mengulum senyum, menyadari jika jantung kami saling bekerja bersahut - sahutan. Walaupun berbeda raga, tetapi tetap berjalan beriringan.


Tidak ada lagi suara, tidak ada lagi omelan yang diperdengarkannya. Sunyi, senyap hanya terdengar suara jantung yang terus berdendang.


Bang David menurunkan tubuhku saat kami sampai di depan sebuah pintu kamar. Tidak lama kemudian, lelaki itu telah membuka pintu dan berjalan masuk ke sana.


Aku menyusul langkah lebarnya lalu menoleh saat mendengar suara seseorang di depan pintu yang belum sempat ku tutup. Ternyata petugas hotel yang datang membawakan koper kami.


Terdengar suara kucuran air dari dalam kamar mandi. Aku pun duduk di pinggiran ranjang dengan tangan mengelus - elus permukaan seprai. Halus ... lembut dan wangi.


Pintu kamar mandi terbuka lebar, mataku pun seketika fokus pada sosok di hadapan dengan handuk melilit di pinggang.


"Mandilah!" ucap Bang David memberi perintah.


Aku langsung berdiri gelabakan. Tanganku berusaha meraih resleting gaun untuk membukanya, tetapi tidak sampai.


"Bang," ucapku lirih yang terdengar seperti gumaman.


"Hm," gumam Bang David. Dia sibuk mengeringkan rambut dengan handuk kecil di kepalanya.


"Anu ... Bang. Aku ... itu." Seketika, isi kepalaku seakan kosong. Bingung bagaimana harus aku katakan.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Bang David dengan mata menatapku tajam.


Aku gelisah, kedua tangan saling meremas di perut.


"Ada apa, Aqila. Cepat katakan. Aku mau berganti pakaian," ujar Bang David geram. "Apa tidak usah, ya?" tanyanya dengan mata memicing yang semakin membuatku kalut.


"Tolong, bukakan, Bang," ucapku pada akhirnya dengan suara teredam. Lantas buru - buru menunduk menyembunyikan pipi yang terasa terbakar sampai ke telinga.


"Bukakan apa?" Bang David berjalan mendekat. Aroma sabun dan sampo bercampur menjadi satu di Indra penciumanku.


"A ... ku mau mandi," ucapku lirih, sangat lirih.


"Mau aku mandikan?" tanyanya.


Seketika aku mendongak, dengan kedua tangan melambai - lambai sebagai bentuk penolakan. "Bu-bukan itu."


"Terus apa?" Bang David memegang bahuku, meremasnya pelan.


Mendapat perlakuan begini saja, lututku terasa lemas seperti jelly. Tubuhku sampai gemetaran.


"Bukakan resleting gaunnya." Aku dan Bang David saling bertatapan.


"Sini," sahut Bang David dengan suara berat dan pandangan yang gelap.


Aku membalikkan tubuh memunggunginya. Aku menggigit bibir kuat - kuat saat merasakan tangan Bang David mulai bekerja di punggungku.


Suhu ruangan ini mendadak terasa panas terbakar, padahal tadi dingin. Tubuhku terasa meremang saat merasakan kecupan basah di bahu dan turun ke bawah.


"Bang ...." Aish, kenapa suaraku jadi aneh begini. Terdengar sumbang dan ... memalukan.


Aku memejamkan mata merasakan sensasi di tubuh yang semakin tidak karuan.


Tiba - tiba Bang David melingkarkan kedua tangannya di pinggangku. Lalu meniup telingaku.


"Sudah selesai," bisiknya dengan suar berat. "Apa perlu aku mandikan?" tanyanya yang mambuat bulu kudukku meremang.

__ADS_1


***


maafkan karena lama up nya yaa. ♥️♥️♥️


__ADS_2