
Aku masuk ke dalam kamar mama dengan langkah pelan nan hati-hati.
Wanita yang aku cintai itu tengah berbaring di ranjang. Sepertinya sudah terlelap atau sedang akan masuk dalam lelap.
Aku duduk di tepi ranjang. Tanganku terulur menyentuh bahunya dengan lembut.
"Ma, udah tidur ya?" tanyaku dengan suara pelan sedikit berbisik.
Selanjutnya, aku pun mencondongkan wajah untuk mengecup pipinya yang tampak keriput.
Tak bisa dielak, tak bisa dipungkiri bahwa waktu akan mengambil alih kehidupan seseorang. Waktu terus bergerak menjadikan bayi sampai usia dewasa lalu menua seiring bertambahnya usia.
"Kamu datang." Kelopak mata Mama mengerjap terbuka. Matanya begitu sayu membalas tatapan mataku. Suaranya pun terdengar begitu lemah tak berdaya.
"Iya, ini David anak Mama." Aku menyahut masih dengan suara pelan setengah berbisik.
Setelah itu, Mama bergerak. Aku pun bergegas membantunya untuk duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Mama istirahat aja. Aku cuma mau lihat keadaan Mama--"
"Mama memang nungguin kamu tadi. Terus ketiduran," sela Mama cepat.
__ADS_1
"Kangen ya?" ledekku lalu mendapatkan cubitan di lengan. "Aw! Sakit, Ma. Baru juga datang langsung dapat penganiyaan," gerutuku.
"Kamu abis dari mana? Bau alkohol. Mulai berulah lagi. Iya?" omel Mama. Suaranya tak lagi lemah seperti tadi. Kali ini sudah kembali seperti biasanya dengan sorot tajam siap menelanku bulat-bulat.
"Tadi ada undangan acara si Boy. Enggak enak kan kalau enggak datang. Minum cuma dua gelas doang kok. Aku juga enggak mabuk," terangku apa adanya.
"Kamu biarkan Aqila mengunjungi Mama sendirian. Kalian ada masalah?"
Ugh! Jika ada seseorang yang memiliki indera keenam. Maka, mama lah orangnya.
Sebegitu tajamnya hati nurani Mama sampai mata batinnya pun bisa melihat isi dalam rumah tanggaku. Atau jangan-jangan, Aqila yang telah menceritakan perbuatanku selama ini terhadapnya.
Aku mulai gusar. Pikiranku mulai penuh oleh kemungkinan yang terjadi.
"Masalah?" Aku segera menyadarkan diri. Menjawab pertanyaan Mama secepat dan semenyakinkan yang bisa aku lakukan. "Enggak ada lah, Ma. Kami kan pengantin baru dan lagi dekat -dekatnya. Masalah kecil biasa, karena memang saling beradaptasi. Iya kan, Ma?" kataku lagi.
"Jangan sampai kamu menyakiti istrimu kali ini. Kalau sampai itu terjadi. Mama enggak akan pernah maafkan kamu."
"Ugh!" Aku memegangi dada kiri dengan kedua tangan. Ekspresikan pun aku buat sesakit mungkin.
"Hei. Mama serius. Kamu ini sudah tua masih aja main-main. Jangan bilang kamu sampai main wanita juga tadi di pesta?" Mama menatapku tajam.
__ADS_1
"Ya enggak lah, Ma. petualangan ku udah usai. Aku enggak main-main lagi sekarang," elakku cepat.
"Baguslah. Lebih baik kamu segera kasih mama cucu. Jadi Mama enggak harus kangen sama Putri terus. Mau kangen sama cucu sendiri juga." Mama berujar penuh harap.
"Putri juga kan cucu Mama sendiri. anaknya Adrian. Kami saudara, Ma." Aku berujar mengingatkan.
Ya, aku dan Adrian sudah bersama sejak lama dan sudah saling terikat seperti saudara. Walaupun yaa ... banyak hal terjadi. Saling bersaing dan sering kali aku cemburu pada lelaki itu.
"Iya, Mama tahu. Tapi Mama juga mau menimang cucu dari darah daging kamu sendiri."
"Iya, iya. Aku sama Aqila sedang berusaha kok. Mama jangan khawatir." Aku berkata menenangkan Mama.
"Kalian menginap, kan?" Itu bukanlah sebuah pertanyaan melainkan permintaan.
"Aku tanya ke Aqila dulu, deh. Kalau gitu Mama istirahat aja, aku mau cari Aqila dulu--"
"Lho, apa kamu belum bertemu dengan menantu Mama?" Mama memicing curiga.
"Sudah, Ma. Sudah." Aku beranjak dari ranjang Mama.
"Ajak Aqila makan. Tadi Mama tak melihatnya makan malam. Tak mau diajak makan bersama juga tadi, hanya menemani Mama saja."
__ADS_1
Dan, apa yang Mama sampaikan barusan berhasil memicu kemarahan di dadaku.
Bisa-bisanya wanita ceroboh itu tak mengisi perutnya sendiri.